by

Subaidah S.Pd : Syariat Islam, Solusi Teror Atas Nama Islamofobia

 Subaidah S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pasca insiden 11 September 2001 islamofobia meningkat baik di negara berpenduduk mayoritas muslim atau di negara-negara barat. Penembakan yang terjadi di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru menjadi salah satu bukti nyata tentang kebencian dan islamofobi. 
Kasus kebencian juga ditampakkan oleh Pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, yang membakar salinan Alquran, jum’at (22/3), memprotes atas sejumlah muslim Denmark yang menunaikan salat jum’at di depan gedung parlemen negara tersebut sebagai bentuk solidaritas untuk para korban penembakan di Selandia Baru, (republika co.id (23/3)) 
Virus islamofobia telah merebak di seluruh negara baik yang minoritas penduduknya adalah muslim maupun yang mayoritas termasuk Indonesia. Bahkan menjelang pesta demokrasi bulan April mendatang, ajaran Islam dijadikan alat untuk menjatuhkan lawan politik serta kampanye oleh salah satu kubu paslon demi meraih simpati masyarakat. (cnnindonesia.com) 
Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa akhir-akhir ini seringkali kita dapati stigma buruk terhadap islam maupun ajarannya? 
Jawabannya adalah sistem sekuler menjadikan ajaran islam hanya mengatur masalah ibadah ritual. Sedangkan di luar urusan itu, Islam tidak boleh ikut andil dalam kepengurusannya. Sehingga ajaran Islam layaknya puzzle, hanya tampak sepotong atau sebagian. Wajar, jika terjadi kesalahpahaman masyarakat dalam memahami ajaran islam. 
Maka orang-orang yang ingin berkontribusi dan mencintai agama, membela ajaran islam sering dikriminalisasi bahkan dituduh fundamentalis, radikal, anti Pancasila, anti NKRI, dan fitnah-fitnah yang lainnya. Belum lagi pandangan negatif masyarakat terhadap muslimah bercadar, yang kadang mendapat perlakuan tidak menyenangkan di muka umum bahkan memberi stigma teroris. 
Selain sistem sekuler, pangkal dari islamofobia adalah ketiadaan pelindung bagi kaum muslimin yang akan melindungi nyawa serta kejernihan ajaran-ajaran islam. Ketiadaan pelindung bagi kaum muslimin, ibarat anak ayam kehilangan induknya. Mudah dicerai beraikan bahkan dizalimi. 
Islam Sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. 
Islam adalah agama yang turunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Agar membawa rahmat bagi seluruh alam. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan serta menjadi landasan negara. Sejarah mencatat, selama masa kejayaannya, Islam mampu mengayomi tidak hanya umat Islam saja, tetapi umat lain yang juga hidup dalam naungannya. Mereka hidup aman, tentram meski dalam keyakinan yang berbeda. 
Perang melawan kebangkitan islam telah ditabuhkan oleh barat, dengan membuat stigma negatif bagi kaum muslimin yang berusaha mengaplikasikan ajaran-ajaran islam. 
Maka solusi atas islamofobia yang semakin marak akhir-akhir ini adalah menampilkan ajaran islam secara menyeluruh dalam kehidupan. Islam seperti yang dicontohkan oleh baginda Rasul, yang mengatur seluruh aspek kehidupan tidak hanya dalam hal ibadah mahdah. 
Sudah saatnya kaum muslimin menginginkan pemimpin yang benar-benar menjadi perisai (pelindung) bagi rakyatnya, seorang kepala negara yang akan mengirim bala tentaranya ketika kehormatan muslimah dihinakan, apalagi tumpahan darah kaum muslimin yang mengalir tanpa alasan yang haq. 
Hanya dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh keagungan Islam bisa dirasakan dan menjadi mercusuar peradaban. Terwujud Islam rahmatan lil’alamin, yang akan memberikan keberkahan tidak hanya untuk ummat Islam tetapi juga non muslim yang akan mampu menghentikan teror atas nama islamofobia. InsyaAllah. Wallaahu ‘a’alam bish showab.[]

Penulis adalah anggota kuminitas Akademi Menulis Kreatif [AMK]

Comment

Rekomendasi Berita