Sudah Benarkah Rasa Cinta Kita pada Rasulullah saw?

Opini1772 Views

 

Oleh: Uthe Setya, Mahasiswi

___________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sebagai muslim Indonesia, kemeriahan bulan Rabiul Awal bukanlah hal asing. Tiap tanggal 12 selalu diperingati sebagai hari lahir manusia terbaik utusan Allah yakni Nabi Muhammad saw. Hingga menjadi budaya dengan sebutan Maulid Nabi.

Shalawat Nabi pun bergema di mana-mana, baik di kota maupun pelosok desa. Tidak tertinggal pula diikuti oleh adat di masing-masing daerah. Berbagai istilah pun muncul. Seperti di Yogyakarta, ada Gerebek Maulid. Biasanya warga beramai-ramai memenuhi Keraton untuk mengambil gunungan besar makanan atau hasil bumi yang diarak. Ada pula di Banyuwangi dan sekitarnya yang khas dengan pohon telur yang dihias sedemikian rupa lalu ditancapkan di batang pohon pisang kemudian diarak keliling kampung. Serta masih banyak tradisi lainnya di Nusantara untuk memperingati Maulid Nabi.

Rasulullah saw. adalah Nabi terakhir yang Allah swt. utus untuk menyempurnakan seluruh agama, menyempurnakan semua syariat yang pernah diturunkan melalui nabi-nabi terdahulu. Rasulullah adalah manusia pilihan.

Begitu banyak dari beliau yang harus kita jadikan sebagai pedoman bagi kehidupan kita. Beliau adalah ahli ibadah, suami yang lembut, ayah dan kakek yang teladan, pedagang yang amanah, serta pemimpin Negara sekaligus panglima perang terbaik.

Mari sedikit kita ulas bagaimana kehidupan beliau hingga beliau layak kita jadikan pedoman dalam kehidupan. Sebagai seorang hamba, beliau tetap begitu tunduk pada Allah padahal beliau tahu jika Allah sudah menjamin surga baginya. Ia sangat takut apabila bermaksiat kepada Allah.

Sebagai pedagang, beliau pun sangat amanah hingga saat itu ia mendapat julukan al-Amin yaitu dapat dipercaya dan jujur. Orang-orang di masa itu tidak ragu memberi kepercayaan pada Rasulullah saw. untuk memperdagangkan jualannya.

Sebagai pemimpin, beliau sangat dicintai rakyatnya karena keadilan. Salah satu contohnya adalah beliau tidak pilih kasih dalam menjalankan syariat Allah, hingga diceritakan pada sebuah hadits bahwa Rasulullah akan menghukum Fathimah, putrinya, dengan hukum potong tangan apabila Fathimah ketahuan mencuri. Beliau pun sangat peduli pada rakyatnya, misalkan melunasi hutang-hutang fakir miskin dengan dana yang dikeluarkan dari Baitul Mal.

Perayaan-perayaan Maulid Nabi yang khas dengan keramaian dan ciri khas lainnya adalah salah satu bukti kecintaan umat Islam pada beliau, Rasulullah SAW. Dilihat dari Islam, hukum asal perayaan-perayaan itu adalah mubah atau diperbolehkan saja selama tidak ada kesyirikan yang mengikuti dalam acara tersebut. Karena sesungguhnya, manfaat dari digelarnya acara tersebut untuk kembali membakar semangat kaum muslim yang seolah sedang tertidur.

Ditambah dengan ceramah-ceramah yang disampaikan para ulama, dengan diceritakan kembali bagaimana kejadian-kejadian besar sejak Rasulullah akan dilahirkan hingga beliau wafat, diharapkan dapat menjadikan kaum muslim terbangun dan bersemangat kembali memperjuangkan agamanya. Namun, ada yang lebih besar dan lebih penting daripada perayaan-perayaan itu. Yaitu umat Islam mau dan sadar akan kewajiban-kewajibannya untuk menjalankan syariat Islam yang Allah perintahkan dan telah Rasulullah sampaikan hingga sempurna.

Menjalankan seluruh kewajiban sebagai hamba Allah tanpa pilih-pilih karena syariat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipilih, mana yang disukai dan tidak disukai seperti layaknya memilih makanan di meja prasmanan.

Umat Islam kembali memiliki semangat untuk mengimplementasikan Islam secara utuh, inilah sebenar-benarnya pembuktian cinta kita pada Rasulullah juga bentuk ketaatan kita untuk tunduk pada Allah SWT.

Demikianlah seharusnya, kita saat ini – harus sadar bahwa membuktikan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW adalah dengan mewujudkan bisyaroh beliau yaitu kembali memenangkan Islam di atas bumi, tidak membiarkan lagi kaum muslim tertindas dan tertinggal.

Kesadaran yang penuh ini adalah bagian dari taatnya kita pada Pencipta, Allah SWT. Wallahu a’lam bishowab.[]

Comment