by

SW. Retnani, S.Pd: Rezim Penggemar Adu Domba?

SW. Retnani, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Negara Indonesia yang memiliki masyarakat heterogen, baik suku, bahasa, budaya maupun agama, menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang unik dibandingkan dengan negara-negara lain. Keunikan dan keistimewaan ini bisa mendatangkan sisi positif ataupun sisi negatif. Karakter heterogen ini dapat  menimbulkan perpecahan bila tidak dilandasi dengan kesadaran persatuan di kalangan masyarakat. Namun, kesadaran persatuan ini dapat dikikis oleh seseorang yang gemar mengadu domba orang lain, fitnah ataupun mengkambinghitamkan orang lain. Mengadu domba adalah perbuatan tercela yang dilarang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هَمَّازٍ مَّشَّآءٍۢ  بِنَمِيْمٍ 
“suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah,” (QS. Al-Qalam 68: Ayat 11).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Pelaku adu domba tidak akan masuk surga” (HR. muslim). Buruknya perbuatan yang suka mengadu domba atau disebut penghasut, hingga mendapat ancaman dari Allah SWT yakni mendapat balasan api neraka. Herannya masih saja ada orang-orang yang gemar mengadu domba orang lain demi mendapatkan kepuasan individu ataupun golongan.
Sebagaimana yang dilansir dari m.republika.co.id bahwa calon presiden (capres) nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi), mengajak pendukungnya untuk lebih militan dalam menggaet dukungan dari masyarakat yang belum menentukan pilihan untuk pilpres nanti. Jokowi meminta relawan untuk ramai-ramai mengajak tetangga dan saudaranya untuk menggunakan hak pilihnya pada 17 April 2019. 
Bapak ibu mau, memilih yang didukung oleh organisasi-organisasi yang itu? Mau? Mau? Mau? Jokowi tidak menyebut, tetapi sudah tau sendiri. Jokowi dalam acara yang dihadiri para pengusaha di Istora Senayan, Kamis (21/3).
Jokowi berkali-kali menekankan agar para pendukungnya berperan dalam menekan angka golput dalam pemilu mendatang. Menurutnya, hak suara yang dimiliki setiap Warga Negara Indonesia (WNI) berperan dalam menentukan arah perjalanan bangsa ke depannya. 
Jokowi juga meminta pendukungnya agar tidak takut terhadap hasutan atau teror yang diterima dari oknum-oknum tak bertanggung jawan. Ia menegaskan telah meminta TNI dan Polri mengamankan jalannya pesta demokrasi agar setiap masyarakat bisa menyalurkan aspirasinya melalui pemilu. 
Jangan takut kalau ditakut-takuti. Jangan takut ditakut-takuti. Tidak perlu takut karena kita dijaga oleh TNI dan Polri. Jokowi sudah perintahkan kepada Panglima TNI dan Kapolri untuk menjaga proses demokrasi negara.
Jokowi hadir dalam acara deklarasi dukungan oleh Pengusaha Pekerja ProJokowi (KerJo). Para pengusaha yang tergabung dalam KerJo mengklaim telah mengumpulkan 10.000 pengusaha untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf.
Gambaran nyata rezim saat ini gemar berucap yang mungkin saja dapat mengarah adu domba dan rakus pada kekuasaan. Semua ini akibat dari kebobrokan dan kebatilan sistem kapitalis-demokrasi. Hingga sikap-sikap tak terpuji sering kali dilontarkan oleh para penguasa negeri ini. Dimana kebanyakan dari mereka adalah para intelek dan orang-orang yang memiliki pengaruh di masyarakat. Tak hanya ujaran yang dapat mengarah adu domba dan mengkambing hitamkan orang lain, sistem kapitalis- demokrasi gemar juga mengarahkan pengusungnya untuk berbuat curang dan culas dengan hanya mementingkan ego. Maka sudah selayaknya kita tenggelamkan virus adu domba.
Bukankah seorang pemimpin harus mampu mengayomi, merangkul dan memberi contoh yang baik kepada orang-orang (rakyat,red) yang dipimpinnya? Bukan malah menjelekkan kelompok lain yang tidak sejalan dengannya. Kalau dalihnya adalah kegiatan kampanye, bukankah sebaiknya melepaskan diri dari otoritasnya sebagai seorang pemimpin. Jadi tidak akan timbul kerancuan, Apakah tindakannya ini atas dasar  kepemimpinannya ataukah tuntutan kampanye kelompoknya?
Seperti tindakan petahana yang akhir-akhir ini gemar sekali muncul untuk mempromosikan kelompoknya tapi mengapa atributnya sebagai  sosok pemimpin negeri ini tidak dilepas? Bahkan untuk mengambil cuti aja enggan. 
Penggunaan fasilitas negara saat kampanye, sangat membuktikan bahwa rezim saat ini serakah dan tak punya malu. Memproduksi kaos bergambar yang menunjukkan kelompoknya secara besar-besaran, bagi bagi hadiah kepada masyarakat, bukankah ini termasuk tindakan suap? Kalau bukan termasuk suap, mengapa dilakukan saat ini negeri ini sedang panas-panasnya kampanye.  Kalau ingin berbuat baik, kenapa seluruh subsidi yang ada malah dicabut? Sungguh aneh, demi terpilih lagi ia jilat kembali ludah yang sudah terbuang. Sungguh memalukan, sistem kapitalis -demokrasi, mampu membuat orang bersikap dualisme.
Sabda Rasululloh saw: ” tanda – tanda orang munafiq ada 3. Bila berbicara dusta, bila berjanji ingkar dan bila dipercaya khianat” (HR. Bukhori dan Muslim).
Berbuat baik hanya untuk elektabilitas dan pencitraan semata, tidak didasari pada keikhlasan hati dan keimanan yang kuat.
Sangat jauh berbeda, dengan aturan-aturan Islam. Sistem Islam membangun kekuasaan politik di atas kesadaran umat atas keshahihan ideologi Islam dan kemampuannya dalam menyelesaikan problem -problem kehidupan. Sistem Islam yang bersumber dari sang Mahapencipta, Allah Azza wa Jalla sudah pasti seluruh hukumnya sesuai dengan fitrah manusia baik yang beragama Islam maupun non Islam. 
Karena kekuasaan Islam berlandaskan hukum-hukum Sang Khaliq, maka akan meningkat kesadaran yang tinggi untuk menegakkan ketaatan. Bukan hanya sebatas untuk memenangkan individu, golongan ataupun kepentingan-kepentingan semu.  Dengan kekuasaan yang telah diraih itulah, maka kesejahteraan dan keberkahan bisa diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan.
 Yakinlah penerapan sistem Islam dalam bingkai Khilafah mampu mensejahterakan kaum muslim dan non muslim. Allah SWT berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107).
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْـقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ  وَلَا يَزِيْدُ  الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 82).
Dan mampu menjaga toleransi antar umat beragama. Sebab tidak ada paksaan bagi non muslim untuk masuk Islam.
Allah SWT berfirman:
لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ  ۗ  قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ  ۚ  فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا  ۗ  وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256).
Jadi dalam sistem Islam tidak akan timbul adu domba, fitnah ataupun mengkambing hitamkan golongan tertentu. Sebab sistem Islam mampu menyadarkan seorang pemimpin yang takut hanya kepada Allah SWT. Sehingga ia akan benar-benar menjaga amanah sebagai seorang pemimpin. Wallahualam bishowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita