by

Tan Malaka Institute : Bedah Buku ‘Ayahku Maroeto Nitimihardjo’ Ungkap Gerakan Kemerdekaan

Foto/Nicholas/radarindonesianews.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA
– “Hidup itu hanya sekali, kemerdekaan selama lamanya,” begitulah
untaian motto kata kata Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) di
massa awal perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan jauh hari
sebelum 1945, sejenak saat diawal sesi acara bedah buku ‘Ayahku Maroeto
Nitimihardjo’ Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan, adapun Bambang
Sulistomo, moderator sampaikan bedah buku sebelumnya telah dilaksanakan
tujuh (7) kali tepatnya hingga yang kini digelar.”Bangsa yang
menghormati pahlawannya, ditambah pula upaya menghargai cita cita sesuai
amanah Proklamasi 17 agustus 1945,” Imbuh Bambang mengingatkan kembali
di Gedung Joeang45, Jumat (24/3).
Bambang
mengungkapkan, buku melukiskan dari semenjak kelahiran
tokoh Maroeto Nitimihardjo, mengapa aktif di ‘Jong Java’ dan berperan
dalam pengejewantahan Ideologi ‘Tan Malaka’ salah seorang tokoh pendiri
Partai Murba, yang merupakan tokoh kemerdekaan Indonesia berpihak pada
sayap kiri ketika itu.
Dalam kongres Pemuda
ke-2, Maroeto sempat memperoleh buku dari Muhammad Yamin buku tentang
Tan Malaka.”Di Jong Java mengenal budaya ‘tenang tenang saja’ (‘alon
alon asal kelakon’), Namun setelah dirinya peroleh buku Tan Malaka itu,
sontak tertanam menjadi Revolusioner,” Tukasnya lebih lanjut
mengemukakan daya tarik tersendiri pantas dan layak dibacanya buku
tersebut.
Sementara itu, di lokasi dan waktu
yang sama perwakilan dari Kementerian Sosial yang turut hadir, Prof. Dr.
Mansyur Idris menyampaikan dari buku tersebut tentunya diharap peroleh
tentunya bukan hanya informasi, namun energi positif.
Dari
pihak Kementerian Sosial sendiri, baginya menilai dalam rangka
memperkuat informasi diperlukan upaya memperoleh pengetahuan, data
valid, dan genuine baik juga dari pihak negeri ‘kincir angin’ (noted
Belanda) yang mana memiliki potensi khusus dalam bidang ini.”Ditambah
perlunya orang atau individu memperoleh gelar Kepahlawanan oleh negara.
Perlunya memastikan yang peroleh penghargaan bagi bangsa dan negara baik
fisik dan lainnya, yang juga mengecilkan kepentingan pribadinya, demi
kepentingan bangsa dan negara,” Kemukanya lagi.
Sejatinya,
Kemensos yang berperan dalam proses akomodasi serta administrasi hingga
tahapan sampai ke Istana Negara.”Mudah-mudahan dapat segera bisa
diusulkan hingga ke Istana Negara, Maroeto Nitimihardjo memiliki
persyaratan yang kuat, dalam sifat welfare state mempengaruhi,”
Ungkapnya.
Ditambah, sambungnya mengutarakan
beliau ‘Maroeto’ merupakan orang yang memiliki jasa luar biasa, penuh
dedikasi, tanpa batas, tanpa pamrih dan tak mementingkan kepentingan
keluarganya. Perlu diketahui, sebagai catatan orang atau individu yang
pantas memperoleh ‘gelar kepahlawanan’ oleh negara, penilaiannya diambil
dari jiwa dan dedikasi dianggap pernah memimpin perjuangan bersenjata
atau politik mencapainya.”Merebut bahkan mempersatuan perjuangan demi
Kemerdekaan Indonesia dan tidak pernah menyerah serta pertaruhkan
hidupnya demi bangsa dan negara,” Paparnya.
Bila
ditelisik dari pengalaman sejarah, kemukanya lebih lanjut sepanjang dan
masa kini, untuk mantan Presiden RI Kedua Soeharto dan Keempat Gus Dur,
dinilai telah lolos seleksi sejauh ini.”Dipandang memiliki kontribusi
bagi negara setelah era Kemerdekaan. Memiliki jiwa yang bertanggung
jawab secara nasional, dimana ada individu yang memiliki potensi namun
penentuan terakhir yang berikan ialah Presiden, diusulkan daerah atas
usulan masyarakat secara formal,” Jelasnya lagi.
Bonnie
Triyana, selaku ahli sejarah menyampaikan tak dapat ditepis kembali
menariknya pembahasan mengenai Partai Murba tak akan terlepas dengan
sosok Tan Malaka, dimana Maroeto yang juga sempat mengenyam pendidikan
masuk HMS (pendidikan secara Barat) sampai meninggal dan seterusnya. 
Ada
beberapa poin dalam buku ini, sambung Bonnie mengulas dimana merupakan
sumber yang dapat digunakan dalam melihat sejarah Indonesia.”Narasi
sejarah bila dipahami memiliki kerumitan dan kompleksitas, bukan gugatan
namun pemahaman lebih bijak masa lalu dalam merangkai masa depan,”
Paparnya kembali mengurai buku yang telah terbit pada 2009, dan
diluncurkan kembali itu.
“Buku ini ditulis oleh
Hadijoyo dimana perjuangan masa pergerakan, cerminan situasi
Kolonialisme seperti apa. Di masa Jepang serta saat alami kesulitan di
masa periode ‘Revolusi Sosial’ yang mana ketika itu banyak masih kurang
paham kondisi saat itu,” Jelasnya.
Pemaparan
isi buku, sambung Bonnie yang juga merupakan pemred dari Majalah
Historia menjelaskan dimana Hadijoyo mengulas saat ‘Eyang’ (sebutan
Kakek) yang ketika itu bertugas menjadi Bupati, mungkin merasa dan
melihat dimana penduduk alami kelaparan di masa itu.
“Timbulnya
gerakan ’embrio’ etnonasionalisme, seperti dimana Jong Java, yang mana
Sutarmo dimna berdebat cukup seru dengan HOS Cokroaminoto, membahas soal
Nasionalisme dan Etnisitas yang dipandang sempit saat itu,” Paparnya.
“Peran
Maroeto, jejaknya diikuti oleh pemuda jawa ketika itu,dimana berdialog
dan pemikirannya di dalam satu sisi akrab dengan pemikiran modern dan
kebebasan nasional,” Ungkapnya.
“Maroeto masuk
dalam pergerakan bawah tanah. Di samping itu ada pula Shimizu, sebagian
dari jepang itu pemasok informasi dan intelijen. Begitu kembali dari
Jepang mereka kelompokan pemuda yang nasionalis Mizhumi dan Shimizu yang
dekat dengan Maeda, serta atif dalam perjuangan pemuda yang termasuk
dalam kelompok Revolusioner, kemudian di masa Jepang muncul pula asrama
pemuda,” Tukasnya.
Posisi Maroeto berada di
dalam ‘kelompok tertutup’ dan berada di bawah tanah, lalu di masa
kolonial berhasil bangun kantor berita antara bersama adam malik, dan
antara merupakan gabungan antara PNI Baru. “Menjadi pelopor, di masa
Revolusi Sosial. Menariknya buku ini, isinya berisikan kecederungan
kompleks hubungan antar manusia, hingga sebabkan kompletisitas yang
terjadi ketika itu,” Jelasnya.
Dr. Harry A
Poeze, seorang Peneliti Belanda mengemukakan kesannya mengenai Maroeto
ada beberapa data yang menarik untuk dicatat dimana selaku tokoh yang
lebih banyak diam dan mengendalikan Organisasi dari dalam, juga sebagai
ketua organisasi partai Murba, perilaku seperti moderat namun radikal
sekali dan berpendirian teguh.”Beliau berikan sumbangsih penting
terhadap Revolusi Indonesia, baik sebelum penduduknya Jepang dan masa
revolusi. Pantas memperoleh jasa besar, dan peroleh gelar pahlawan
nasional dan sejajar dengan Adam Malik,” Pungkasnya.
Foto
dokumentasi : nampak narasumber saat tengah bedah buku,’Ayahku Maroeto
Nitimihardjo’ Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan.[Nicholas]
Bonnie
Triyana (Ahli sejarah/Pemred Majalah Historia), Moderator Bambang
Sulistomo, Dr. Harry A Poeze (Peneliti Belanda), Ridwan Saidi (Budayawan
Betawi yang digelar oleh Tan Malaka Institute di Gedung Joeang45,
Menteng Raya 31Jakarta Pusat, jumat (24/3).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 − two =

Rekomendasi Berita