by

Temu Aktivis, “Historia Kopi Nusantara”

Foto/Nicholas/radarindonesianews.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di pengujung bulan April 2018, digelar pertemuan jalinan silaturahmi perwakilan puluhan aktivis di Kedai Kopi Perjuangan di Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (26/4). 
Selain aktivis Karman B.M (mantan Ketum GPII), hadir pula ada seperti aktivis yang dari Jawa Barat Ery Muh. Roffi, Aceh Munawar Kholik, serta Lombok Muh. Syaiful Wathan, pertemuan bertajuk “Historia Kopi Nusantara”, Di awal, Ery Muh.Roffi menjabarkan panjang lebar tentang sejarah kopi Nusantara, khususnya yang ada di wilayay Jawa Barat.
Abad ke 17, jelasnya, produk kopi Cianjur merupakan daerah yang memproduksi kopi terbesar pada masa itu. Pada awal abad 17 di Masa VOC diambil sampel beberapa produk bibit kopi di Indonesia. 
“Belum terpikirkan sama sekali oleh VOC, kemudian pada pertengahan abad 17 ada perintah, meluas ke Bogor hingga Pantura serta Batavia,” utaranya.
Menarik memang, kekhasan sangat besar dan produk terbesar asal Cianjur dan sekitarnya yang sempat punah di Jabar, dikarenakan adanya kerjapaksa dan monopoli kala itu, paparnya 
Ery menambahkan, pada abad 18, kopi di wilayah Jabar sempat punah, karena perlakuan tanam paksa diberlakukan kolonial belanda kepada petani kopi. Dimana petani enggan menanam lagi, soalnya perkebunan kopi dikuasai pepohonan jeruk.
Kopi, ulasnya, pernah menjadi prover perubahan saat revolusi industri, bahkan kenikmatan kopi rasanya membangkitkan inspirasi tentunya.
“Ia dapat dijadikan sumber untuk membuat kebijakan, perubahan sosial dan lain-lain. Hingga dengan kopi ini pada titik tertentu bisa berdampak,” tukasnya.
Lain halnya dengan, Syaidul Wathan aktivis asal Lombok mengatakan berbicara kopi secara umum di daerahnya, Robusta, Tropika.
“Kopi ternyata berasal dari daerah yang terletak di Ethiopia. Di mana orang Arab menggunakan kopi sebagai minuman kebugaran,” paparnya. Maka, sambungnya, minum kopi itu untuk orang kalangan Sufi agar memperkuat fisik.
Tahun 1696 kopi baru masuk ke Indonesia dari Malabar, salah satu Kota yang terletak di India. Patut diperhitungkan kala itu, dampak banjir, hama. Lalu Kopi berasal dari stek,” ujar aktivis yang kini menjadi Dewan Daerah AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).
Tahun 1300-an Indonesia penghasil kopi ke-empat terbesar di dunia. Saat itu, kopi masuk ke lombok pada 1741 dibawa oleh Belanda di gunung Tambora dan Rinjani, Robusta dan Arabica.
Arabica semakin tinggi semakin enak, tumbuh di ketinggian 1000 meter. Di Lombok mempunya ‘Kopi Pahlawan’, yang sebenarnya sudah ke Jerman, dan belum ada MoU.
Di Lombok, kopi Arabica sudah terkenal, namun di Rinjani belum, makanya kami sebut namanya kopi Pahlawan. 100% hasilnya untuk rumah belajar, hasil dari penjualan kopi. Kopi Pahlawan, yang konsen pada kopinya dan berkeinginan merawat kembali kopinya, baik ada rasa coklat, jeruk.
“Secara ilmu rasa dari intisari kumbang, yang sedot bunga jeruk, dan hinggap di kopi. Hingga beda tempat, beda rasa,” tukasnya 
Selanjutnya, Munawar Khalil, aktivis perwakilan Aceh, menjelaskan kopi Gayo, di mana berbicara sejarah, rasa, warna mestinya akan tidak jauh berbeda dengan narasumber sebelumnya, ada dua faktor, kopinya enak dan warung kopinya banyak. Bicara produk dan pertanian kopi di daerahnya, Aceh, menurutnya, kopi Aceh selama ini tersebar di sejumlah daerah, memiliki keunikan (ciri khas) tersendiri.
“Kopi Aceh ini unik dan juga dibicarakan banyak kalangan karena kopinya enak,” utaranya 
Kopi ke Aceh dibawa juga oleh Belanda, menjadi kopi Arabica pada 1924, kopi Gayo yang ada di sana itu sebenarnya kopi Arabica,” pungkasnya.[Nichola]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + four =

Rekomendasi Berita