Penulis: Ustadz Bachtiar Nasir | Ketua Umum Sajid
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – ADA satu ayat yang sering menjadi penenang hati setiap kali kehidupan terasa sempit, yakni firman Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6: “Fa inna ma’al-‘usri yusra. Inna ma’al-‘usri yusra.”
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Banyak orang memahami ayat ini seolah-olah Allah berfirman, “Setelah kesulitan akan datang kemudahan.” Padahal Al-Qur’an tidak menggunakan kata ba’da (sesudah), melainkan ma’a (bersama).
Perbedaannya sangat mendasar. Allah tidak menjanjikan bahwa kemudahan baru hadir setelah kesulitan berlalu. Justru Allah menegaskan bahwa di dalam kesulitan itu sendiri telah ada kemudahan.
Bahkan penegasan itu diulang dua kali sehingga para ulama menjelaskan bahwa satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan yang menyertainya.
Lalu mengapa kita sering merasa hidup begitu berat? Sering kali persoalannya bukan semata-mata pada keadaan, melainkan pada hati. Sesuatu kita anggap mudah karena sesuai dengan rencana dan keinginan kita. Sebaliknya, sesuatu terasa sulit ketika tidak berjalan seperti yang kita harapkan.
Kecewa muncul karena kenyataan tidak sejalan dengan angan-angan. Sebaliknya, kebahagiaan hadir ketika kenyataan melampaui ekspektasi.
Di sinilah letak pelajaran besar yang diajarkan Surah Al-Insyirah. Kehidupan tidak ditentukan oleh rencana manusia, melainkan oleh kehendak Allah SWT. Yang pasti terjadi bukanlah apa yang kita inginkan, tetapi apa yang Allah tetapkan.
Karena itu, jalan tercepat menuju kelapangan adalah menundukkan hati kepada kehendak-Nya.
Ketika hati telah menerima bahwa semua yang terjadi berada dalam ilmu dan keputusan Allah, maka kegelisahan mulai mereda. Kesulitan tidak lagi dipandang sebagai hukuman, melainkan sebagai bagian dari skenario terbaik yang sedang Allah susun.
Maka, jangan larut dalam kesedihan, jangan tenggelam dalam kekecewaan, apalagi berputus asa. Tidak ada satu pun peristiwa di alam semesta yang meleset dari kehendak Allah, bahkan seujung rambut sekalipun. Semua berjalan dengan ukuran yang paling tepat menurut hikmah-Nya.
Saat hati tunduk kepada Allah, setidaknya ada dua anugerah yang akan diraih. Pertama, kita menjadi ridha terhadap ketetapan-Nya. Kedua, kita memperoleh jalan yang diridhai oleh Allah.
Inilah makna firman Allah tentang hamba-hamba pilihan-Nya: “Radhiyallahu ‘anhum wa radhu ‘anhu”—Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.
Jika hari ini kita sedang menghadapi jalan yang terasa buntu, sedang diuji dengan kesempitan rezeki, kesehatan, atau berbagai persoalan hidup, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan kita.
Ingatlah, menurut janji-Nya, bukan hanya satu kemudahan yang menyertai kesulitan itu, melainkan dua kemudahan yang telah Allah siapkan bagi hamba yang tetap percaya, bersabar, dan menyerahkan hatinya kepada kehendak-Nya.[]














Comment