by

Uniknya Waktu Berpuasa di Alaska yang Tak Menentu

Alaska (Foto: Thinkstock)
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Akhir bulan ini, umat Muslim di seluruh dunia akan mulai berpuasa selama sebulan penuh. Di Indonesia sendiri, kita akan menahan lapar dan haus serta hawa nafsu selama kurang lebih 13 jam setiap harinya.

Namun, waktu berpuasa ini akan berbeda di setiap negara. Contohnya seperti di Chili yang hanya berpuasa sekitar sembilan jam setiap harinya. Atau Australia yang memiliki waktu berpuasa sekitar 11 jam karena saat ini sedang memasuki musim dingin.

Lalu, bagaimana dengan negara yang berada di bagian utara seperti Alaska?
Ada keunikan tersendiri tentang waktu berpuasa di negara land of the midnight sun ini. Tak seperti negara lainnya yang berpuasa rata-rata 11 hingga 15 jam, di Alaska kamu bisa berpuasa hingga 20 jam. Wow!

Karena terletak di bagian utara, Alaska menjadi salah satu negara yang memiliki sinar matahari terpanjang di dunia. Di musim panas, kamu bisa berpuasa hingga 20 jam lamanya, mulai pukul 03.15 hingga 23.45 waktu setempat. Sedangkan di musim dingin, kamu justru hanya akan merasakan puasa selama lima jam saja.

Lamanya waktu berpuasa yang harus dijalankan membuat sebagian umat Muslim di Alaska sejak tahun 2009 mengikuti jadwal puasa sesuai waktu di Mekkah. Mereka berpuasa selama 15 jam sehari, yaitu sejak pukul 04.15 hingga pukul 19.00.

Waktu puasa ini sesuai dengan keputusan Dewan Masjid Alaska yang mengikuti fatwa Dar al-Ifta al Misriyyah, lembaga hukum Islam yang berpusat di Kairo. Fatwa itu dibuat akibat cuaca yang sangat ekstrem saat musim panas di Alaska. Sehingga umat Muslim di Alaska boleh mengikuti waktu Mekkah, agar berpuasanya lebih ringan dibanding waktu setempat.

Tak hanya waktu berpuasanya yang lama, Alaska juga memiliki keunikan lainnya yang berkaitan dengan bulan ramadhan. Jika kamu tetap mengikuti jadwal puasa selama 20 jam, maka kamu akan berbuka puasa dan salat tarawih dalam keadaan matahari bersinar, padahal jam menunjukkan pulul 21.00 waktu setempat. Hal ini dikarenakan jarak antara matahari terbit dan terbenam sangat panjang di musim panas.

Berkembangnya Komunitas Muslim di Alaska
Meskipun Alaska memiliki perbedaan jadwal puasa yang tidak sama, namun hal itu tidak mengurangi persatuan komunitas Muslim di sana. Komunitas Muslim yang masih terbilang baru ini kini semakin mengalami perkembangan yang cukup pesat. Berawal dari melakukan kegiatan keagamaan di sebuah ruang pusat perbelanjaan, tetapi di tahun 2010 umat Muslim Alaska telah bisa salat di sebuah masjid yang terletak di kota Anchorage, Alaska Tengah.

Dikutip alaskamasjid.com, masjid itu dibangun oleh komunitas Muslim di Alaska yang dananya berasal dari donasi berbagai pihak. saat itu, dana yang dibutuhkan untuk membeli tanah pembangunan masjid sebesar US$ 600 ribu atau setara dengan Rp 8 miliar.

Kini, masjid dua lantai yang dirancang tanpa kubah itu telah berdiri kokoh. Ketiadaan kubah dibuat bukan tanpa alasan, melainkan akibat cuaca musim dingin dan hujan salju yang sangat ekstrem.

Imigran asal Palestina, osama Obeidi menjadi Imam masjid tersebut. Kehadiran masjid ini pun direspon baik oleh penduduk setempat. Adanya masjid itu juga membuat kegiatan keagamaan Musli di Alaska lebih terorganisir. Tertarik untuk mencoba berpuasa di Alaska?[ANO]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 − 3 =

Rekomendasi Berita