by

Wa Ode Sukmawati*: Tambang Melenggang, Banjir Datang

Wa Ode Sukmawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa daerah di Indonesia kembali dilanda banjir, salah satunya adalah Konawe Utara (Konut). Sejak 2 Juni hingga saat ini Konut masih saja terendam banjir yang menyebabkan kerugian materi yang luar biasa. Tercatat, sebanyak 370 unit rumah hilang terseret arus sejak banjir Konawe Utara (2/6/2019). Bahkan banyak diantaranya terseret arus sejauh ratusan meter hingga ke sungai. Sisanya rusak parah dan sudah tak berbentuk. Sebanyak 8.000 orang lebih warga Konawe Utara tercatat sebagai pengungsi. (Liputan6, 20/06/2019). 
Diduga yang menjadi pemicu terjadinya banjir bandang di Konawe Utara adalah aktivitas puluhan perusahaan tambang nikel maupun perkebunan sawit. Berdasarkan data Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sultra, ada puluhan perusahaan tambang beroperasi di otorita Ruksamin-Raup tersebut. Beberapa di antaranya PT. Elit Kharisma Utama yang berlokasi di Lasolo dan Langgikimia. Luas area garapan mencapai 496 hektar. Ada juga PT. Nusantara Konawe Nikel yang beroperasi di Lasolo dan Langgiima dengan luas area gerapan mencapai 373 hektar. Dan PT. Cipta Jaya Surya lebih luas lagi garapannya mencapai 3.029 hektar yang berlokasi di Morole dan Langgikima. Semua titik yang menjadi lokasi pertambangan terdambapk banjir. (KendariPos, 20/06/2019).
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sultra tak menampik adanya “kontribusi” perusahaan tambang dan perkebunan sawit sebagai penyebab terjadinya banjir di konut. Sejak dulu, lembaga pegiat lingkungan ini mengingatkan pemerintah pusat, Pemda, dan stakeholder terkait agar mencari solusi jangka panjang supaya bencana alam tidak terulang. Namun, tak mendapat tanggapan serius dari para pemangku kebijakan. “ Ada kebijakan pemerintah yang kami duga menjadi pemicu munculnya banjir. Yakni terkait penutupan hutan sebesar 8,8% untuk perusahaan tambang dan perkebunan sawit”, ungkap Saharuddin, Direktur Walhi Sultra. (KendariPos, 20/06/2019).
Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa banjir terjadi akibat derasnya curah hujan yang turun, namun kita juga tidak bisa menafikkan adanya hukum kausalitas. Faktor penyebab terjadinya banjir tersebut bukan karena alam saja, melainkan ada campur tangan manusia didalamnya. Pemanfaatan sumber daya alam yang kurang baik menjadi salah satu pemicu penyebab terjadinya banjir. Hutan adalah salah satu tempat yang tepat untuk penyerapan air, namun karena berdirinya perusahaan-perusahaan tambang dengan luas ribuan hektar dan perkebunan kelapa sawit membuat hutan menjadi rusak, sehingga tak memungkinkan untuk penyerapan air dengan intensitas yang sangat tinggi. 
Perlu kita ketahui bahwa dalam membangun suatu usaha seperti pertambangan harus ada yang namanya AMDAL sebagai tanda bahwa usaha yang akan dibangun layak untuk dijalankan. Hal ini telah diatur oleh undang-undang Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH). Yang sanksi dapat diberikan kepada siapa saja yang tidak memiliki hal tersebut. Namun apa jadinya jika hal ini kurang diperhatikan, atau bahkan diabaikan dan tidak dilalukan analisis terlebih dahulu, namun izin tetap diberikan kepada sipengelolah untuk menyelenggarakan usahanya. 
Dalam sistem ekonomi kapitalisme hal tersebut menjadi hal yang lazim. Tentu masih segar diingatan kita bagaimana buruknya dampak yang terjadi pada PLTU yang ada dalam film dokumenter sexy killer. Dampaknya sangat buruk terhadap mahluk hidup dan lingkungan namun izin tetap melekat pada usaha tersebut. Siapa yang memiliki kekuasaan dan modal tentu dapat menjalankan usahanya. 
Sama halnya dengan yang terjadi di Konut, hutan yang dikelola dengan tidak baik dapat menimbulkan masalah yang dapat menyebabkan banyak orang terkena masalah tersebut. Padahal pelakunya hanya segelintir orang dari kalangan tertentu. Namun tentu dampak buruk yang muncul dari masalah tersebut tak dapat memilah-milah untuk datang kepada siapa yang ia kehendaki. Harusnya masyarakat lebih sadar tentang bagaimana boboroknya sistem sekarang ini. Sistem yang berpotensi menimbulkan berbagaimacam masalah namun tak mampu menghadirkan solusi yang benar-benar menyelesaikan problematika publik. 
Inilah salah satu dampak dari diterapkannya sistem sekularis kapitalis, mendapatkan keuntungan dan kekayaan menjadi tujuan utama tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi. Rakyat tak dipedulikan dalam hal mencari keuntungan. Yang ada hanya keutamaan untuk mendapatkan keuntungan individu dan pihak yang terkait didalamnya. Sehingga terjadilah pengelolaan industri, pertambangan dan bisnis dibangun dengan mengabaikan kebutuhan hidup masyarakat umum seperti kawasan resapan air dan lain-lain. 
Islam adalah agama yang kamil (sempurna) yang memiliki berbagai macam solusi dalam setiap masalah yang ada bahkan sebelum masalah terjadi, islam telah memiliki langkah preventif. Dalam hal penanganan banjir islam juga tentu memiliki solusi yang sangat efektif . Dalam negara yang menerapkan sistem islam untuk mengatasi banjir dan genangan, negara memiliki kebijakan yang canggih dan efektif. 
Contohnya seperti membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan dan lain sebagainya. Pada masa keemasan Islam, bendungan-bendungan dengan berbagai macam tipe telah dibangun untuk mencegah banjir maupun keperluan irigasi. Di Provinsi Khuzestan, daerah Iran selatan misalnya, masih berdiri dengan kokoh bendungan-bendungan yang dibangun untuk kepentingan dan pencegahan banjir.
Juga membangun sumur-sumur resapan pada kawasan tertentu. Sumur-sumur ini selain untuk resapan, juga digunakan untuk persediaan air yang sewaktu-waktu bisa digunakan, terutama jika musim kemarau atau paceklik air. Dan dalam aspek undang-undang dan kebijakan, negara akan menggariskan beberapa hal penting seperti kebijakan tentang master plan, mengeluarkan syarat-syarat tentang izin pembangunan bangunan. Membentuk badan khusus yang menangani bencana alam, serta menyediakan tenda, makanan, pakaian dan pengobatan yang layak agar korban bencana alam tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan atau tempat istrahat yang tidak memadai. 
Itulah gambaran kecil bagaimana negara Islam menangani masalah seperti banjir. Islam sebagai sistem dalam suatu negara tentu memiliki berbagai macam solusi tehadap banyaknya masalah yang terjadi. Karena Islam bukan hanya agama ritual belaka, namun Islam juga merupakan sistem kehidupan yang mampu memecahkan berbagai problematika kehidupan. Oleh karena itu saatnya kita kembali kepada sistem yang langsung berasal dari sang khaliq.Wallahu’alam.[]
*Anggota Komunitas menulis Untuk Peradaban

Comment

Rekomendasi Berita