Waktu Terbaik Beramal adalah Hari Ini, Esok Belum Tentu Kita Temui

Opini980 Views

Penulis: Amir Kumadin | Alumni IAIN Walisongo Semarang, Direktur Penerbit Intuisi Press, Penulis Lebih dari 15 Judul Buku

 

“Sesungguhnya, di setiap peristiwa kehidupan, Tuhan sedang menguji respons kita. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai diri. Jangan biarkan materialisme membutakan nurani”

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Waktu yang telah berlalu—bahkan satu detik yang baru saja pergi—telah menjadi fosil kehidupan. Ia tak mungkin kembali, tak bisa ditawar, dan tak dapat diulang.

Hari ini adalah milik Anda sepenuhnya. Di sinilah Anda berdaulat atas pilihan, sikap, dan tindakan. Hari ini adalah momentum paling berharga—lebih mahal daripada harta, jabatan, bahkan lebih bernilai daripada apa pun yang kita banggakan. Ia adalah peluang emas yang tak akan pernah berulang untuk berbuat baik.

Adapun esok atau lusa, itu sepenuhnya milik-Nya. Kita tidak pernah benar-benar tahu apakah masih diberi kesempatan untuk menjumpainya.

Imam Hasan al-Bashri pernah mengingatkan, “Dunia itu hanya tiga hari. Kemarin telah pergi dan tak akan kembali. Besok belum tentu engkau temui. Maka hari ini adalah kesempatanmu untuk beramal.”

Di balik kesadaran itu, tersimpan hikmah besar: manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk berbuat kebajikan. Mulailah dari yang kecil. Dari yang tampak sepele. Dari yang mungkin dianggap remeh. Justru di situlah letak penentuan nasib kita—di dunia dan di akhirat.

Ketika Anda melewati panitia pembangunan masjid di tepi jalan, jangan tunda untuk bersedekah. Seribu atau dua ribu rupiah mungkin terasa kecil. Namun bayangkan jika 10.000 orang melakukan hal yang sama—terkumpul 20 juta rupiah dalam sehari. Dalam sebulan, bisa mencapai ratusan juta.

Begitulah sunnatullah bekerja: keseluruhan tersusun dari bagian-bagian kecil. Kontribusi kecil Anda adalah bagian dari bangunan besar itu. Ketika masjid itu berdiri, Anda termasuk di antara orang-orang yang ikut membangunnya.

Jika Anda melihat batu, paku, atau duri di jalan yang membahayakan orang lain, berhentilah sejenak untuk menyingkirkannya. Jangan merasa terlalu penting untuk melakukan hal sederhana. Bisa jadi, itulah amal yang menyelamatkan Anda.

Jika di hadapan Anda ada orang yang membutuhkan pertolongan, jangan sibuk berasumsi. Jangan bersembunyi di balik dalih, “Itu ujian bagi dia.” Bisa jadi justru Andalah yang sedang diuji: apakah mau mengulurkan tangan atau memilih berpaling.

Sesungguhnya, di setiap peristiwa kehidupan, Tuhan sedang menguji respons kita. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai diri. Jangan biarkan materialisme membutakan nurani.

Jangan biarkan bisikan yang meremehkan amal kecil mengalahkan niat baik. Setan kerap membisikkan:
“Ah, cuma paku kecil…”
“Sedekah cuma dua ribu, apa artinya?”
“Tunggu saja sampai kaya, baru bersedekah.”

Padahal, waktu terus berjalan. Niat baik yang ditunda sering kali tak pernah menjadi perbuatan. Harta yang dikumpulkan belum tentu sempat dibelanjakan di jalan kebaikan. Di situlah manusia kerap tertipu oleh dua nikmat besar –  waktu dan kesempatan.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Jangan sampai kita menyadari segalanya ketika semuanya telah berakhir. Jangan sampai penyesalan datang ketika pintu amal telah tertutup.

Karena itu, sekali lagi: waktu terbaik untuk beramal saleh adalah hari ini.
Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari).

Maka pastikan akhir hari ini ditutup dengan kebaikan. Sebab esok belum tentu menjadi bagian dari kisah hidup kita.[]

Comment