by

Warga Jakarta Utara Gelar “Panggung Rakyat Kampung Akuarium”

Foto:beritaidependent

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pada Jumat malam, (29/7) sejumlah elemen masyarakat
korban penggusuran, khususnya warga Kampung Akuarium, di pasar Ikan
Penjaringan Jakarta Utara, telah menggelar acara “Panggung Rakyat
Kampung Akuarium” yang diisi dengan tausiyah ulama, orasi tokoh,
testimoni, pentas musik, baca puisi, marawis dan pemutaran film
dokumenter.

Acara yang berintikan menagih janji
kontrak politik Joko Widodo saat ia mencalonkan diri menjadi gubernur
Jakarta itu, yang ditandatanganinya pada September 2012, ternyata tak
dihadiri Jokowi tanpa alasan yang jelas, sekalipun undangan resmi sudah
dikirim ke Istana dan secara lisan Presiden Jokowi sendiri sudah
menyatakan kesediaannya untuk hadir. 
Terkait
ketidakhadiran Jokowi itu, Koordinator KomTak (Komunitas Tionghoa Anti
Korupsi), Lieus Sungkharisma, mengatakan penyesalannya dan menyayangkan
ketidakhadiran Presiden Jokowi tersebut.”Presiden Jokowi benar-benar
telah kehilangan empatinya dan mengangap acara ini tidak penting,
padahal dia sendiri sudah berjanji akan hadir,” ujar Lieus.
Acara
tersebut sengaja dibuat untuk mengingatkan Jokowi akan janji yang
pernah dibuatnya saat mencalonkan diri sebagai gubernur Jakarta.”Waktu
itu Jokowi bahkan sempat menandatangani kontrak politik yang berisi
janjinya untuk memperbaiki nasib warga miskin Jakarta, dan tidak akan
menggusur pemukiman warga,” imbuhnya.
Namun
faktanya, justru setelah ia jadi Gubernur dan kemudian jadi Presiden,
warga tetap digusur dan nasib rakyat miskin di Jakarta tetap saja tidak
mengalami perbaikan.”ketika dulu Jokowi datang ke Jakarta, justru rakyat
miskin Jakarta yang mendukungnya,” ungkap Lieus mengingatkan.
“Ia
datang blusukan ke kampung-kampung, ke komunitas pedagang kaki lima, ke
tukang-tukang parkir, minta dukungan. Tapi setelah ia jadi, justru
warga miskin ibukota itu ia tinggalkan,” jelasnya.
Bahkan
Jokowi tak berbuat apa-apa ketika Ahok, penggantinya sebagai gubernur
Jakarta, dengan seenaknya main gusur perkampungan warga demi kepentingan
perusahaan pengembang. “Oleh karena itulah, ketidakhadiran Jokowi dalam
acara yang diadakan warga kampung Akuarium bukan saja menunjukkan
ketidakpedulian Jokowi terhadap nasib warga miskin, tapi juga
menunjukkan rendahnya empati beliau terhadap nasib warga Jakarta yang
digusur Ahok,” ungkapnya lagi.
“Padahal Jokowi
sendiri pernah bilang betapa sakitnya jadi orang yang digusur. Namun
faktanya Jokowi tidak hadir ketika diundang warga,” ujarnya.
Ketidakhadiran
Jokowi yang tanpa memberi kabar, dan tidak pula mengirim pejabat yang
mewakilinya, menurut Lieus, benar-benar tidak etis dan sangat menyakiti
hati rakyat. Padahal undangan itu dikirim oleh ratusan ibu-ibu langsung
ke Istana Negara dengan melakukan long march dari kampung akuarium ke
Istana Negara.
Bahkan, tambah Lieus, ketika
berlangsung acara silaturrahmi nasional dengan relawan Jokowi, kepada
Dwi Cahyono, salah seorang perwakilan warga kampung akuarium yang
menemui dan menyalaminya, beliau menyatakan akan hadir. 
Tapi nyatanya beliau tidak hadir. Ini jelas sangat mengecewakan. Seperti
diketahui, saat mencalonkan diri menjadi gubernur Jakarta Jokowi
melakukan blusukan ke kampung-kampung kumuh di Jakarta dan
menandatangani kontrak politik yang berisi janji-janjinya untuk menolong
warga miskin Jakarta. Namun, setelah Jokowi tak lagi jadi gubernur
karena terpilih menjadi Presiden RI, “Kontrak Politik” yang bercita-cita
melindungi rakyat miskin itu hilang seiring dengan diangkatnya Ahok
menjadi gubernur Jakarta.  
Bahkan, di masa Ahok, tak hanya
pemukiman di Kampung Pulo Bukit Duri atau di Kalijodo yang diratakan
dengan tanah, pemukiman warga di Kampung Akuarium pun digusur oleh Ahok
dengan kekerasan dan serangkaian kebohongan dan manipulasi. 
“Tapi
ketidakhadiran pak Jokowi malam ini tak akan menyurutkan langkah kami
untuk terus menagih janjinya, “kata Lieus sembari mengingatkan Jokowi
bahwa doa orang yang teraniaya itu, cepat atau lambat pasti akan
dikabulkan Tuhan.[Nicholas]

Comment

Rekomendasi Berita