by

Yakobus Odiyaipai Dumupa: Bijak Dan Cerdas Berpolitik

Bupati Kabupaten Dogiyai Yakubus Dumupa.S.IP.[Musa/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, Bupati Kabupaten Dogiyai Yakobus Odiyaipai Dumupa mengatakan politik dalam praktisnya difinisikan sebagai cara dan sarana untuk memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan. 

Hal ini diungkap Dumupa ketika melihat esklasi politik di Papua yang semakin mengancam hak-hak asasi dan demokrasi yang berperadaban Papua yang ditulis di akun facebook pribadi [26/ 05/2018].

Maka dirinya mempertanyakan bagaimana orang merebut dan mempertahankan kekuasaan menjadi suatu agenda penting yang mesti dijawab bersama? 

Untuk menjawab pertanyaan di atas, dirinya memberikan dua aliran pemikiran, yakni (a) dilakukan dengan mengedepankan etika dan moral; dan (b) dilakukan dengan menghalalkan segala cara.

Menurut Dumupa, dalam berpolitik praktis, dirinya mengikuti aliran politik yang mengedepankan etika dan moral.

Artinya kata dia, berpolitik harus sesuai dengan nilai-nilai luhur yang dianut segenap umat manusia, dengan mengutamakan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

“Saya berposisi pada politik yang mengutamkan aliran etika dan moral tadi. Karena itu, sejak mencalonkan diri sebagai Bupati Dogiyai, katanya, saya mengajarkan kepada semua anggota tim sukses, para pendukung dan simpatisan untuk berpolitik dengan mengedepankan etika dan moral.” Ujarnya.

Dan mereka memahami dan mematuhinya,” tegas Dumupa. 

Dia mengatakan, jika ada politisi yang menghalalkan segala cara, termasuk dengan mengabaikan etika dan moral dalam pemilihan legislatif dan pilpres nanti, maka politisi tersebut hanya berorientasi merebut dan mempertahankan kekuasaan, tetapi bukan melayani dan membangun masyarakatnya.

Menurut Dumupa, politisi yang demikian juga selalu tidak mau menerima kekalahan dalam kompetisi politik, selalu sakit hati dan iri hati atas keberhasilan atau kemenangan orang lain, dan akhirnya menjadi orang yang suka memfitnah dan memprovokasi. 

“Jika anda mau sukses dalam berpolitik praktis, berpolitiklah dengan bijak dan cerdas, sebab TUHAN akan merestuinya. ” Ujarnya.

Ditambahkan Yakobus, jika Anda menghalalkan segala cara, termasuk dengan dengan mengabaikan etika dan moral, maka anda akan gagal dan anda akan menjadi orang yang sakit hati dan suka iri hati serta suka memfitnah dan memprovokasi atas keberhasilan atau kemenangan orang lain.

Sebelumnya, seorang akademisi Uncen Andreas Goo dan penulis Buku Dogiyai Dou Enaa itu mengatakan, politik demokrasi di Papua biasanya didorong oleh kepentingan politik yang mengabaikan pertimbangan etika dan moral sehingga sangat mematikan esensi demokrasi dan hak-hak dasar orang Papua.

Diharapkan, politik di Papua mesti dibangun berdasarkan etika dan moral yang baik demi menciptakan Papua, Tanah damai katanya”. [Musa Boma]

Comment

Rekomendasi Berita