by

Yuharia*: Rezim Panik, Gencarkan Fitnah Pada Ulama

Yuharia
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kini kita berada pada bulan April. Bulan yang menentukan tumbang atau bertahannya rezim represif ini. Walau pilpres telah berlalu, kepanikan masih membayangi rezim ini. Terlebih, saat kubu 02 mendapat dukungan dan do’a dari para ulama menjadikan oknum-oknum tertentu menghalalkan segala cara untuk memfitnah mereka.
Pada malam Sabtu (13/4), akun  twitter pribadi salah seorang anggota dewan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Said Didu dibajak oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Hal ini dibenarkan Said Didu saat di mintai konfirmasi. “Twitter saya di-hack. Betul, di-hack.” Kata said Didu melalui pesan  Whatsapp kepada Republika.co.id, sabtu (13/4) jelang tengah malam. Said Didu menyadari akunnya diretas saat menyaksikan debat capres tersebut. Bukan hanya twitter-nya yang diretas, tetapi juga akun Whatsapp dan Facebook-nya sempat diretas. Namun, Whatsapp dan Facebook-nya sudah berhasil diambil alih oleh Said. 
Selain dari mantan komisaris BUMN PT Bukit Asam (Persero), pihak TvOne juga telah menyampaikan klarifikasi. Pasalnya, salah satu postingan dari akun yang telah diretas itu menyeret nama pemimpin redaksi TvOne Karni Ilyas. Adapun konten-konten yang disebarkan akun @saididu sejak dibajak bersifat tendensius terhadap sosok Ustadz Abdul Somad (UAS). Seperti diketahui, pada kamis (11/4) lalu UAS telah menunjukkan dukungannya secara terbuka terhadap Prabowo Subianto. Video rekaman dukungan tersebut disiarkan pertama-tama oleh stasiun televisi TvOne.
Berikut tangkapan layar dari salah satu konten yang berupa fitnah terhadap pribadi UAS. “Rumah UAS di JL. Kamboja ds. Rimbo Panjang Km.20 Kec. Tambang, Kab. Kampar hasil pemberian dari PRABOWO untuk mendukung paslon PAS. Pantaskah Ulama seperti ini? Mulut seorang Ulama harusnya konsisten tidak berubah hanya demi HARTA Duniawi#UASDibayarPrabowo”
Fitnah tersebut sontak mendapat respon dari warganet dengan menyemarakkan penggunaan tagar #UASdifitnahKejiDanBrutal serta #saveUAS pada hari ahad (14/4).
Dari awal kita mencium ‘aroma busuk’ dari rezim sekarang. Merangkul ulama sebagai strategi baru mereka. Menjadikan ulama sebagai wakil demi mendapatkan suara umat muslim karena diyakini memiliki peluang untuk menang. Tetapi faktanya umat tidak tertarik bahkan ragu kepada pilihan mereka. 
Rezim pun menyadari kondisi tersebut akan mengantarkan kepada kehancuran tatkala mereka tidak dapat  membendung keraguan umat terhadap ulama tersebut. Inilah yang menyebabkan rezim marah dan panik hingga menjadikan ulama lain yang dikatakan mendukung pihak oposisi, sebagai target kemarahan.
Walhasil, ambisi untuk berkuasa telah membutakan hati, sehingga membuat oknum-oknum tersebut dengan ringan menempuh cara yang salah demi sebuah jabatan. Termasuk memfitnah dan mengkriminalisasi ulama. Padahal mereka merupakan pemandu ke jalan Allah,  sebagai penjaga kemurnian dan kesucian aqidah Islam, serta pemersatu umat. 
Kehadirannya (ulama) tidak hanya untuk membimbing umat dalam urusan jual beli, pernikahan, etika bergaul, mendidik anak dan urusan muamalat lainnya. Akan tetapi, juga dibutuhkan untuk menjelaskan kepada kaum muslim, betapa pentingnya memilih pemimpin yang mau menerapkan aturan-aturan Islam secara kaffah. Sehingga, merupakan hal yang sangat tercela, tatkala menjadikan ulama sebagai target fitnah.
Namun, hal yang harus diperhatikan, oknum-oknum yang saat ini gigih menyudutkan ulama hanya bisa diminimalisir tatkala Islam menjadi sumber peraturan. Karena Islam tidak akan pernah membiarkan ulama dikriminalisasi, apalagi sampai difitnah, karena tingginya kedudukan mereka. 
Hal ini tercermin dalam sabda Rasulullah saw. yang masyhur, ”Bukan termasuk umatku orang yang tak menghormati orang tua, tidak menyayangi anak-anak dan tidak memuliakan alim ulama.” (HR Ahmad, Thabrani, Hakim).
Maka, sudah sepantasnya, kaum muslim untuk memperjuangkan kembali diterapkannya Islam secara kaffah dan mencampakkan sistem buatan manusia yang saat ini menjadi santau (racun) bagi kehidupan. Wallahua’lam bi ash-shawab.[]
*Mahasiswa Ilmu Dan Teknologi Pangan UHO

Comment

Rekomendasi Berita