by

Yulia Hastuti, SE, M.Si: Memerdekakan Palestina Dari Agresor Israel

Yulia Hastuti, SE, M.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Gejolak politik praktis dalam proses pemilihan umum (pemilu) presiden dan wakil presiden juga anggota lesgilatif di negeri ini akan dilaksanakan serentak beberapa hari kedepan. Penyelenggaraan pesta demokrasi selalu menimbulkan polemik yang seolah tak pernah usai. Hal ini juga merambah di belahan negeri lain yang mengaku sebagai negara Israel.
Benjamin Netanyahu yang merupakan Perdana Menteri Israel kembali mencalonkan diri pada pemiliham umum (9/4). Netanyahu berjanji jika terpilih lagi akan mengakuisisi pemukiman Yahudi di Tepi Barat, bagian dari Palestina di barat sungai Yordan (Republika.co.id, (7/4/2019).
Pemukiman di Tepi Barat menjadi persoalan yang paling diperdebatkan Israel dan Palestina saat ini. Penguasa Yahudi berencana membangun satu pemukiman besar di Tepi Barat ke arah pinggir selatan Bethlehem. Jika rencana pemukiman dibangun akan membuat kota tersebut sepenuhnya dikepung oleh pemukiman Yahudi. Meski pemukiman tersebut ilegal bagi hukum internasional yang masih saja dibantah oleh Israel.
Netanyahu malah menyatakan akan memperluas kedaulatan (Israel) tanpa membedakan blok pemukiman dan pemukiman terisolasi. Tentu saja fakta tersebut tidak dapat mengubah segala usaha yang dilakukan untuk perluasan wilayah Israel bahwa pemukiman Yahudi tersebut ilegal.
Sehubungan dengan pemilu Israel yang sudah diambang pintu, Netanyahu juga melakukan kunjungan ke Rusia untuk menemui Presiden Rusia Vladimir Putin yang diduga dilatari motif politik. Mereka akan membahas masalah Suriah dan penguatan koordinasi keamanan, sesuai dengan pernyataan Netanyahu bahwa Israel telah memberikan kontribusi bagi keamanan di Suriah (Republika.co.id, 4/4/2019).
Pertemuan tersebut juga akan membantu Netanyahu memainkan peran kredensial kenegaraan dan keamanan untuk memenangkan pemilu kembali dalam persaingan ketat dengan penantangnya Benny Gantz, mantan kepala militer yang belum pernah terjun ke dunia politik.
Kembali pada keputusan Israel dalam mencaplok perbatasan di Tepi Barat, langsung membuat para pemimpin Palestina beraksi dengan keras. Israel tidak akan pernah berhenti melanggar hukum internasional selama mendapat dukungan dari masyarakat internasional terutama dari Amerika Serikat (AS), merujuk pada pernyataan Kepala negosiator Palestina dan pembantu dekat Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Saeb Erekat (Republika.co.id, 12/4/2019)
Penjajahan Berdasarkan Agama
“Tanah Palestina adalah wakaf milik umat Islam. Tak ada seorangpun yang boleh membiarkan tanah ini lepas walaupun hanya sejengkal!” (Syaikh Ahmad Yasin, Republika Online, 19/6/2011) 
Pernyataan Syaikh Yasin menegaskan bahwa Tanah Palestina yang dirampas dan diduduki Israel sejak tahun 1948 adalah milik kaum Muslim. Konsekuensinya, tidak boleh ada yang berpikir bahwa Tanah Palestina bisa dibagi dua dengan Israel yang telah merampas dan mendudukinya hingga kini. 
Seluruh kaum Muslim berkewajiban mengembalikan tanah tersebut dari tangan Zionis Yahudi. Upaya memerdekakan Palestina tak bermakna jika seluruh Tanah Palestina bukan sebagian apalagi sebagian kecil gagal dikembalikan kepada kaum Muslim.
Bangsa Yahudi secara historis maupun geografis tak memiliki hak sejengkal pun atas tanah Palestina. Mereka hanya penjajah yang mengambil tanah kaum Muslim, penjarah yang membunuhi para lelakinya dan mengambil kehormatan para wanitanya.
Sejak entitas negaranya berdiri pada tahun 1948, Israel telah menduduki 77% tanah Palestina dan telah mengusir 2/3 (dua pertiga) rakyat Palestina dari tanah mereka. Penderitaan semakin bertambah dengan ribuan orang Palestina tewas dibantai, puluhan ribu luka-luka, cedera bahkan cacat, ratusan ribu kehilangan rumah, tempat tinggal dan pekerjaan, ribuan wanita dilecehkan kehormatannya bahkan diperkosa dan ribuan anak-anak menjadi yatim piatu.
Sesungguhnya akar persoalan Palestina bukan tentang perang saudara, atau hanya terbatas urusan politik, tapi ini adalah tentang agama. Al-Qur’an dan Hadist menjelaskan bahwa kaum Yahudi sangat tidak ridha dengan kaum Muslim. Keburukan kaum Yahudi telah dicontohkan dalam Al-Qur’an yakni keras hati, dzalim dan fasik, melakukan kerusakan di muka bumi, melanggar janji, munafik, senang kemewahan, serakah, sombong, pengecut dan sifak buruk lainnya.
Bagi umat Islam ini juga tentang aqidah yang kita yakini bahwasanya Yahudi adalah musuh paling sengit bagi kaum Muslim sejak dahulu hingga akhir zaman seperti Rasulullah Sallahu’alaihi Wassalam sampaikan bahwa kita akan berperang dengan kaum Yahudi.
Solusi total terhadap masalah Palestina tentu umat Islam tidak dapat berharap kepada mereka yang anti Islam. PBB organisasi dunia justru memberikan persetujuan dan pengakuan terhadap Israel.
Berharap kepada organisasi HAM dan Demokrasi juga merupakan alat barat yang berstandar ganda untuk menyudutkan kaum Muslim. Terlebih berharap kepada AS karena merekalah selama ini yang bergandengan tangan dengan Israel dan memberikan bantuan baik secara fisik dan pengaruh terhadap penjajahan bagi Palestina.
Meraih Kemenangan Hanya dengan Persatuan Umat Islam
Kaum Muslim tentu rindu melihat wilayah Palestina kembali dibebaskan dari pemerintahan tiran Israel. Selayaknya yang pernah dilakukan oleh pejuang pertama yang membebaskan tanah Palestina yaitu Umar bin al-Khathab Radiallahu’anhu, dilanjutkan Shalahuddin al-Ayyubi, Sultan Abdul Hamid II dan para khalifah yang beratus-ratus tahun mempertahankan Bumi Palestina.
Kita harus sadar bahwa isu Palestina adalah isu Islam dan cara umat memandangnya juga harus dengan perspektif Islam. Umat Islam tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan persatuan Islam bukan umat yang terpecah-belah. Perlu kerja sama bagi kaum Muslim dan penguasa kaum Muslim untuk menyangkal bahwa krisis Palestina hanya dibingkai dengan sekat-sekat nasionalisme dan nation state, tentu hal tersebut hanya ide jahat yang akan menghancurkan umat.
Muslim sejatinya adalah khairu ummah (umat terbaik) yang bersaudara tanpa memandang kebangsaan maupun batas-batas negara. Kita adalah satu kelompok besar manusia, kita adalah satu umat yang merupakan bagian dari seluruh Muslim dunia.
Karena itu untuk kembali mewujudkan persatuan kaum Muslim dan kemenangan Islam, umat membutuhkan seorang khalifah, pemimpin seluruh kaum Muslim. Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam telah bersabda:
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺟُﻨَّﺔٌ ﻳُﻘَﺎﺗَﻞُ ﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺋِﻪِ ﻭَﻳُﺘَّﻘَﻰ ﺑِﻪِ
” Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
Hanya dengan kepemimpinan umat yang satu akan mampu mengembalikan tanah Palestina dari zionis Israel dan sekutunya. Kekhilafahan terakhir telah membuktikan dengan memahami status tanah Palestina dalam pandangan syariah Islam sebagai tanah wakaf milik kaum Muslim telah mampu menggetarkan ketakutan pada musuh-musuh Islam dalam upaya memerdekakan tanah Palestina demi kemuliaan Islam yang gemilang. Wallahu a’lam bi ash-shawab. []
Penulis adalah anggota Revowriter chapter Banda Aceh

Comment

Rekomendasi Berita