![]() |
| Ana Nazahah |
RADARINDONESIAEWS.COM, JAKARTA – Apa yang kau lakukan, jika di depanmu ada orang yang bermaksiat? Tentu kesal bukan? Ingin rasanya berteriak, marah dan mengusir mereka jauh-jauh dari penglihatan.
Namun, apa jadinya jika kita tetap melakukan? Apakah dakwah ini menjadi baik dan mereka paham? Apakah dakwah seperti ini yang Rasulullah contoh kan? Sangat disanksikan. Karena bisa jadi, malah mereka marah dan balik menyerang. Yang akhirnya mereka semakin jauh dari kebenaran.
Katakan saja, jika ada yang sedang umbar aurat di hadapan kita. Tidak mau menutup auratnya dan bahkan berpakaian hampir telanjang. Lalu kita ingatkan mereka di depan umum dan menjelaskan bahwa itu haram, kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Pasti mereka akan sangat kesal bukan? Apalagi jika kita marah-marah dan memaki mereka dengan kata-kata yang tidak baik.
Wahai sahabat! Itu bukan dakwah tapi mempermalukan. Kita malah terlihat sedang melampiaskan amarah bukan menasehati. Nasehat belum tentu sampai, tapi sakit hati mungkin itulah yang mereka rasakan.
Dakwah itu memang tanda sayang dan ianya kewajiban. Tapi bukan berarti tanpa memperhatikan kaidah yang Allah perintahkan. Allah memerintahkan kita berdakwah dengan baik dan ahsan. Sebagaimana firmanNya :
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali-imran : 104)
Ulama terdahulu selalu mempraktikan, dakwah yang Rasulullah Salallahu a’laihi wa salam contohkan. Bahwa dakwah dilakukan dengan niat ikhlas dan cara yang benar. Dakwah diniatkan karena Allah saja, bukan semata-mata karena kesal dan marah saja. Meski sekalipun kita akan tetap marah setiap melihat kemaksiatan. Di sini marah wajib, tapi melampiaskan kemarahan, itu tidak dianjurkan. Apalagi marah berubah menjadi makian.
Akan tetapi berdakwah dengan ahsan. Sekalipun kita kesal, usahakan ditahan. Jelaskan pelan-pelan, sampaikan berikut dengan hujah-hujah Syariat, bahwasanya yang kita sampaikan adalah perintah Allah, yang menciptakan kita dan alam semesta.
Setelahnya, tinggal dia yang memutuskan, diterima atau ditolak. Dia yang memilih, dan dia juga yang akan dimintai pertanggungjawaban.
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al-Qiyamah : 36).
Karena dakwah adalah nasehat, dan dianya harus ahsan. Maka tidak boleh dilakukan asal-asalan. Tapi dakwah harus dilakukan terus menerus dan kontiniu. Mustahil seseorang akan paham hanya dengan memberikan sekali nasehat. Kecuali mereka adalah para pencari kebenaran yang bersih hatinya.
Maka, ikatlah jalinan ukhuwah dengan mereka yang belum paham. Berteman baik dengan mereka walau mereka belum berhijrah. Dengan begitu, mereka akan tau, betapa rahmatannya Islam, baik lewat tindakan yang kita lakukan maupun dari nasehat yang kita sampaikan. Dengan catatan, tidak ikut-ikutan jika mereka melakukan sesuatu yang melanggar SyariatNya.[]
Penulis adalah Anggota, Revowriter Aceh










Comment