Adab dan Ilusi Pengetahuan di Era Digital

Opini28 Views

Penulis: Dr. H. J. Faisal | Pensyarah Prodi PAI & Pascasarjana UNIDA Bogor/ Anggota PJMI/ Pemerhati Pendidikan dan Sosial/ Director of Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS)

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila dia menceritakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Sebelum masuk kepada inti tulisan, saya ingin memulai dengan sebuah pertanyaan mahasiswa di prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) sewaktu saya mengajar mata kuliah Hadits Tarbawi beberapa waktu yang lalu

‘Pak…di manakah kesenjangan antara kebodohan, ilmu, dan adab jika dilihat pada zaman teknologi informasi yang semakin canggih ini?’

Awalnya saya sendiri tidak pernah menyangka, kalau ada mahasiswa yang mempunyai kerangka pemikiran (mindset) sedalam ini.

Kesenjangan Terlihat Sangat Samar

Sebenarnya, kesenjangan yang ditanyakan oleh mahasiswa tersebut bisa terlihat bagi mereka yang memehami sistuasi psikologis manusia yang hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin canggih ini.

Namun, bagi mereka yang tidak memahami, kesenjangan ini akan sangat samar, atau bahkan tidak akan terlihat sama sekali.

Situasi psikologis tersebut antara lain, ketika di zaman teknologi canggih seperti ini – orang bodoh bisa terlihat pintar karena banyaknya informasi yang bisa diakses tetapi hanya lapisan kulit yang paling tipis, namun bisa menjadi sebuah alat – seakan orang bodoh bisa mengetahui semua dari informasi yang tipis itu.

Bahkan masalah terbesar zaman ini bukan lagi kurangnya informasi, melainkan kelimpahan informasi yang menciptakan ilusi pengetahuan.

Dahulu, untuk mengetahui sesuatu, seseorang harus duduk lama bersama guru, membaca banyak kitab, berdiskusi, bahkan bergulat dengan keraguan.

Proses itu membentuk bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kerendahan hati. Semakin dalam seseorang belajar, semakin dia sadar bahwa apa yang belum diketahuinya ternyata jauh lebih besar daripada yang diketahuinya.

Hari ini situasi berbalik

Seseorang membaca satu artikel, menonton dua video pendek, lalu merasa telah memahami ekonomi, filsafat, agama, pendidikan, bahkan psikologi manusia.

Padahal yang dia peroleh sering kali hanyalah “ringkasan dari ringkasan” informasi semata. Dia mengetahui istilahnya, tetapi tidak memahami akar persoalannya.

Perbedaan Antara Informasi Singkat dan Ilmu Pengetahuan

Perbedaan antara mengetahui informasi dan memiliki ilmu sangat besar, yaitu informasi menjawab ‘Apa…?’, pengetahuan menjawab ‘Bagaimana…?’, ilmu menjawab ‘Mengapa…?’, dan hikmah menjawab ‘Untuk apa….?’

Banyak orang berhenti pada tingkat pertama tetapi berbicara seolah sudah sampai tingkat keempat.

Dalam kajian filsafat dasar, fenomena ini dekat dengan apa yang dikenal sebagai efek Dunning-Kruger.

Orang yang pengetahuannya masih dangkal sering kali justru sangat percaya diri, padahal dia belum memahami kompleksitas bidang yang sedang dibahas.

Sebaliknya, orang yang benar-benar mendalami suatu bidang cenderung lebih hati-hati karena dia melihat lapisan-lapisan persoalan yang tidak terlihat oleh pemula.

Karena itu, kebodohan di era digital, tidak selalu tampak sebagai ketidaktahuan. Kebodohan modern sering menyamar sebagai pengetahuan.

Dia berbicara dengan istilah-istilah canggih, mengutip banyak sumber dan hafal banyak konsep tetapi ketika ditanya lebih dalam apa sumber asal teori tersebut, mengapa teori itu muncul, apa kritik terhadap teori tersebut, atau dalam konteks apa teori itu berlaku? Mereka terdiam.

Di situlah terlihat bahwa yang dimiliki hanyalah serpihan informasi, bukan penguasaan ilmu.

Saya teringat sebuah pemikiran yang cukup relevan dengan zaman disrupsi teknologi ini bahwa ’Orang bodoh zaman dahulu tahu bahwa dirinya tidak tahu sedangkan orang bodoh zaman sekarang – dengan adanya mesin pencari di tangan –  merasa tahu segalanya.

Mungkin karena itulah adab menjadi semakin penting. Adab membuat seseorang berani berkata, “Saya pernah membaca tentang itu, tetapi saya belum cukup memahami untuk memberi kesimpulan.”

Kalimat sederhana itu justru merupakan tanda kedewasaan intelektual yang semakin langka. Bukan karena kurang cerdas, melainkan karena cukup berilmu untuk menyadari batas-batas dirinya.

Tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan mengajarkan bagaimana cara mencari informasi, karena hampir semua orang bisa melakukannya.

Tantangan terbesarnya adalah mengajarkan bagaimana cara membedakan antara sekedar merasa tahu dan benar-benar memahami.

Di situlah adab dan ilmu bertemu, sementara kebodohan sering bersembunyi di tengah-tengahnya dengan topeng ‘kepastian’ dan kemunafikan (hipokrasi).

Munculnya Fenomena Ilusi Pengetahuan, Karena Kedalaman Pemahaman Yang Semakin Terkikis

Dahulu hambatan utama adalah akses. Sekarang hambatan utama adalah kedalaman.

Bagaimana dulu ketika saya bersekolah dan kuliah di akhir tahun 90-an sulit sekali mendapatkan buku yang isinya terbarukan (up to date). Tetapi sekarang, justru kita sulit membedakan mana yang benar-benar telah kita pahami dan mana yang hanya lewat di beranda media sosial kita.

Sebagai dosen, tentunya saya sering melihat fenomena di mana mahasiswa saat ini senang sekali menggunakan banyak istilah pedagogis pendidikan, seperti constructivism, transformative learning, critical thinking, self-regulated learning, machine learning, mixed methods, dan istilah-istilah lainnya.

Tetapi ketika saya tanya balik kembali kepada mereka, mengapa teori ini yang anda gunakan dan bukan teori lain?

Mulailah terlihat kedalaman pemahaman yang sebenarnya. Bingung, bahkan gagap dan gugup menjawabnya.

Bukan karena mereka tidak cerdas, melainkan karena budaya digital sering mendorong konsumsi pengetahuan dalam bentuk potongan-potongan pendek.

Istilahnya banyak, fondasinya kadang belum terbentuk. Bisa ‘comot’ istilahnya, tetapi tidak bisa menerangkan maknanya secara mendalam.

Ironisnya, teknologi Artificial Intelligent (AI) pun bisa memperbesar fenomena itu.

Lebih ironis lagi, banyak akademisi yang bisa membuat sebuah buku 500 halaman sekaligus dalam 30 detik. Tentu saja terdengar sangat efektif.

Jika sebuah buku hanya ringkasan dari potongan teori-teori yang tidak diteliti lagi untuk mendapatkan ‘gap theory’, maka di situlah muncul ilusi pengetahuan.

Bukan hasil penelitian atau pemikiran mendalam (research) yang muncul tetapi hanya sekedar hasil pencarian (search) dari mesin pencari (searching engine), seperti google dan AI.

Dari sini saya justru melihat tantangan intelektual terbesar beberapa tahun ke depan bukan lagi siapa yang memiliki informasi paling banyak melainkan siapa yang masih mampu berpikir mendalam di tengah banjir informasi.

Fungsi Adab dalam Hal Ini

Seorang filsuf modern dari Korea Selatan, Byung-Chul Han, pernah mengatakan bahwa apa yang kita sukai, kurang lebih sering mengarah ke kegelisahan semacam ini.

Masyarakat informasi menghasilkan begitu banyak data tetapi belum tentu menghasilkan kontemplasi. Kita terus terhubung tetapi belum tentu terus memahami.

Maka, maka di sinilah adab seseorang yang berilmu sangat berperan, karena mungkin ukuran kecerdasan bukan banyaknya jawaban yang dimiliki seseorang, melainkan kemampuannya mengatakan, “Saya belum paham sepenuhnya tentang hal itu. Mungkin saya perlu berpikir lebih dan mencari refrensi yang lebih valid juga tentang itu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di era serba cepat seperti ini, kerendahan hati tersebut justru semakin langka kita dengar.

Di era digital, kita tidak akan mengalami krisis informasi melainkan krisis adab terhadap ilmu. Informasi yang berlimpah menciptakan ilusi pengetahuan, sehingga manusia merasa mengetahui banyak hal tanpa melalui proses talaqqi, verifikasi, refleksi, dan pembentukan kebijaksanaan yang selama ini menjadi syarat lahirnya ilmu dalam tradisi Islam.

Ingatlah, bahwa kebodohan sering merasa sudah selesai belajar, ilmu sadar bahwa pembelajaran belum selesai, dan adab membuat seseorang tetap rendah hati meskipun dia tahu banyak.

Itulah mengapa adab tidak pernah bisa digantikan oleh teknologi, secerdas apa pun teknologinya. Teknologi dapat mempercepat akses ilmu tetapi tidak bisa secara otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Pengguna Teknologi Merasa Lebih Repot dari Penciptanya

Tetapi repotnya, di negeri yang tinggal menikmati teknologi, seperti Indonesia, justru lebih ‘repot’ dalam menilai teknologi informasi tersebut sementara negara penghasil teknologinya hanya berpikir bagaimana teknologi ciptaannya bisa bermanfaat dan bisa terjual lebih banyak.

Sering kali negara atau masyarakat yang memproduksi teknologi memandang teknologi itu sebagai alat; dengan berpikir bagaimana membuatnya lebih berguna, lebih cepat, lebih efisien, dan bisa lebih banyak dipakai.

Sementara masyarakat di negara yang hanya mengonsumsi teknologi kadang menjadikannya sebagai arena perdebatan identitas, moralitas, bahkan pertarungan ideologi dan agama.

Padahal bagi para insinyur di laboratorium negara produsen teknologi tersebut –  mungkin pertanyaan mereka jauh lebih sederhana, “Bisakah alat ini bekerja lebih baik daripada versi sebelumnya?”.

Sedangkan di masyarakat pengguna, pertanyaan dan perdebatannya berubah menjadi lebih kompleks, dan terkadang tidak berhubungan secara intens terhadap teknologi tersebut; seperti apa dampaknya bagi budaya kita, apakah ini mengancam pekerjaan manusia, apakah ini merusak pendidikan, apakah ini membuat manusia menjadi malas berpikir, atau bahkan apakah ini sesuai dengan tuntunan agama atau tidak.

Satu hal yang sangat lucu adalah kita tidak membuat teknologi tersebut, kita tidak memahami cara kerjanya, kita tidak pernah membaca riset pengembangannya tetapi kita sangat yakin menjelaskan seluruh dampaknya terhadap peradaban.

Ini mirip seseorang yang hanya melihat kapal berlayar dari pantai lalu merasa tahu seluruh proses pembuatannya.

Sebenarnya, bagi saya pribadi, kedua sudut pandang itu sama-sama penting.

Namun, masalah muncul ketika kritik dilakukan tanpa pemahaman yang cukup terhadap teknologi tersebut atau sebaliknya, ketika teknologi dikembangkan tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya. Di dunia akademik, hal serupa juga terjadi.

Ada yang memuji AI secara berlebihan seolah akan menyelesaikan semua masalah manusia. Ada juga yang mengutuk AI seolah seluruh kemunduran intelektual berasal darinya, bahkan dianggap menjadi salah satu sumber kesyirikan terhadap Tuhan. Padahal AI, internet, atau teknologi apa pun hanyalah penguat alias amplifier.

Jika digunakan oleh orang yang berilmu dan beradab, dia menjadi alat untuk mempercepat pembelajaran.

Jika digunakan oleh orang yang malas berpikir, ya dia akan mempercepat kemalasan berpikir.

Analoginya seperti ini, pisau yang sama bisa dipakai koki untuk memasak atau dipakai orang lain untuk hal yang merugikan. Yang menentukan bukan pisaunya, melainkan tangan dan kesadaran yang memegangnya.

Kareena itulah, kadang saya berpikir, persoalan utama abad ini bukanlah krisis teknologi melainkan krisis kedewasaan dalam menggunakan teknologi.

Teknologinya mungkin terus naik level; dari mesin tik ke komputer, dari komputer ke internet, dan dari internet ke AI.

Tetapi kalau kedewasaan intelektual dan adab pengguna tidak ikut naik level, hasilnya seperti yang kita bicarakan tadi, informasi bertambah, kepastian bertambah, tetapi pemahaman belum tentu bertambah, bukan?

Penutup

Mungkin inilah paradoks zaman digital. Semakin mudah memperoleh jawaban, semakin jarang orang menikmati proses bertanya dengan sungguh-sungguh.

Padahal, sebagaimana para guru dan ulama sering mengingatkan bahwa kualitas seseorang sering kali lebih terlihat dari kualitas pertanyaan daripada banyaknya jawaban.

Tentu saja, dalam tulisan say aini, saya tidak menyamakan bahwa dengan menjadi pengguna teknologi kita menjadi bangsa yang “bodoh”. Karena itu akan membuat kita semakin defensif secara membabi buta.

Saya hanya ingin menyimpulkan bahwa semua manusia rentan terhadap ilusi pengetahuan, termasuk akademisi, mahasiswa, birokrat, politisi, bahkan pakar sekalipun.

Ilusi pengetahuan inilah yang akan terus menjadi kesenjangan terbesar antara ilmu, kebodohan, dan adab. Wallahu’allam bisshowab. []

Comment