by

Ade Gogo: Myanmar Dan Pembantaian Etnis Rohingnya

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Etnis Rohingya kembali dibantai. Pelaku utamanya adalah tentara. Tentara adalah penguasa Myanmar, bukan Aung San Suu Kyi. Aung secara de facto difungsikan tidak lebih hanya sebagai Menteri Luar Negeri.

Bangladesh dengan Myanmar hanya dipisahkan oleh sungai besar. Konflik antara Pakistan dan Bangladesh kemudian memutuskan ribuan etnis Rohingya migrasi ke Myanmar. Mereka menetap selama puluhan tahun hingga jumlahnya mencapai kurang-lebih satu juta jiwa. Mereka minoritas di antara mayoritas Buddhism.
Minoritas di Myanmar bukan hanya Rohingya, namun ada yang lainnya yaitu etnis Thaksin, mereka Kristen. Rohingya dan Thaksin terlalu sering mendapatkan perlakukan yang menyedihkan dari warga mayoritas yang diprovokasi oleh junta militer. Para Bhiksu dijadikan eksekutor.
Kurang-lebih 25 tahun yang lalu Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu Myanmar dengan dukungan suara rakyat hampir 100 persen. Tapi militer menolak kemenangan Aung. Dia lalu ditangkap dan diasingkan. Dunia Internasional mengecam sikap kontraproduktif terhadap demokrasi yang dilakukan militer Myanmar. Tapi militer bergeming.
Negara-negara maju kemudian bersikap keras dengan menekan Myanmar, tapi negara yang berada di Semenanjung Laut Cina Selatan ini tetap bergeming. Blokade ekonomi yang dilakukan negara-negara maju, termasuk Amerikapun tidak menggoyahkan sikap militer Myanmar. Aung tetap diasingkan dan dilarang kembali ke Myanmar. Myanmar milik militer. Aung kembali merebut simpati rakyat, dia kembali terpilih sebagai Presiden.
Permintaan Aung kepada negara-negara anggota ASEAN, termasuk menyebut Indonesia secara khusus, supaya tidak merecoki apa yg terjadi di negara Myanmar, mungkin karena merasa dirinya tidak ada keterlibatan sama sekali atas peristiwa pembantaian terhadap ribuan nyawa etnis muslim Rohingya. Aung marah karena sejumlah negara menilai pembunuhan masif ini adalah genosida (kejahatan kemanusiaan yang sangat luarbiasa. Dia merasa tertuduh.
Aung sesungguhnya ingin berteriak, “Aku ini peraih Nobel Perdamaian..! Aku tidak mungkin melakukan itu!” Tapi dia pun tidak berani menunjuk militer sebagai pelakunya. Aung, sejatinya adalah musuh militer. Parleman Myanmar memiliki kurang-lebih 450 kursi, 300 kursi adalah pendukung Aung, 150 kursi sisanya adalah milik militer. Dan sebagian besar Departemen serta Intansi-instansi vital strategis juga berada dalam kekuasaan militer.
Pembantaian terakhir yang dilakukan militer terhadap etnis Rohingya memang diawali tewasnya puluhan anggota militer dan polisi setelah diserang sekelompok orang bersenjata. Militer kemudian menuding gerilyawan Rohingya yang melakukan penyerangan. Aung mungkin saja, tidak sependapat dengan militer.
Pengamat intelijen tidak menutup kemungkinan membuat analisis spekulasi bahwa penyerangan terhadap aparat keamanan Myanmar itu dilakukan oleh militer dengan tujuan supaya internasional menekan Aung, dan militer kemudian memiliki alasan untuk mengambil alih kekuasaan secara de jure.
Etnis Rohingya harus dibela dan diterima oleh negara yang disinggahi atas nama kemanusiaan dan perdamaian. Indonesia harus melakukan jauh lebih dari sekadar simpati, tetapi harus melakukan pendekatan secara militer degan Panglima Militer Myanmar.
Penekanan Indonesia yang dinilai secara politik oleh Myanmar setara sebagai negara berkembang dengan cara apapun tidak akan pernah didengar oleh Myanmar. Karena penekanan yang dilontarkan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB pun tidak dihiraukan sama sekali oleh Myanmar. Justru Aung yang semakin tertekan.
Tampunglah muslim Rohingya oleh Indonesia. Masih terdapat kurang lebih 24 ribu pulau tidak berpenghuni di Tanah Air kita. Pinjamkanlah satu untuk ditempati oleh mereka. Ini sebagai langkah riil. Rohingya merasa tidak ada manusia lain di Bumi ini selain Buddhis Myanmar, karena mereka tidak menemukan CINTA dan KASIH di bagaian Bumi yang lainnya. Mereka semakin menderita, karena tanah leluhurpun yaitu Bangladesh, menolak mereka kembali. Tolong cintai mereka atas nama kemanusiaan.[SBN]

Penulis adalah Peminat Teori Geopolitik Dan Geostrategic)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two + twelve =

Rekomendasi Berita