by

Ahok Sinking Effect Mega Di Balik Tjahaja Purnama

Ahok.[Gofur/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  DI TAHUN 90-an Soe Hok Djin (sosiolog Dr Arief Budiman yang merupakan kakak kandung Soe Hok Gie) mengatakan, kalau diibaratkan petinju Megawati itu seperti petinju yang tangguh, yang tahan terhadap berbagai tekanan dan gempuran, tetapi ketika saatnya harus mengambil inisiatif dia tidak tau bagaimana seharusnya.

Boleh dibilang separuh dari kehidupan Megawati memang penuh dengan berbagai tekanan. Waktu dia remaja ayahandanya, Sukarno, dijatuhkan melalui rangkaian peristiwa berdarah yang membekaskan trauma bangsa sampai hari ini. Di masa Orde Baru sejarah Sukarno digelapkan, anak-anaknya termasuk Mega dikucilkan, diusir dari istana, –dan menurut cerita karena Sukarno tidak meninggalkan banyak warisan, Mega tidak punya tempat tinggal, hingga berbaik hatilah seorang gubernur Jakarta ketika itu, memberikannya sebuah rumah sederhana sebagai tempat berteduh: — dialah Letnan Jenderal KKO Ali Sadikin, mantan Menko Maritim, yang oleh Sukarno dikatakan sebagai: koppige vent, koppig, seorang yang keras, yang memberikan physical face kepada kota Jakarta yang waardig (yang dihargai), karena berkemanusiaan dan berperadaban.

Di dalam‘’Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’’Sukarno melukiskan secara amat dramatis kelahiran Megawati pada bulan Januari 1947.
‘’…Dalam bulan Januari lahirlah putriku. Kami sangat menginginkan seorang anak perempuan. Dan sebelum Fatmawati mengandung, dia bermimpi bahwa bapakku memberinya sekuntum kembang sepatu merah. Ini jelas berarti bahwa dia segera akan mengandung seorang anak perempuan. Aku takkan melupakan peristiwa di malam tanggal 23 Januari itu, di malam itu guntur seperti hendak membelah angkasa. Istriku terbaring di kamar tidur yang telah disediakan sebagai rumah sakit. Tiba-tiba lampu padam, atap di atas kamar itu runtuh, mega yang gelap dan berat melepaskan bebannya dan air hujan mengalir ke dalam kamar seperti sungai.

Dokter dan juru-juru rawat mengangkat Fatmawati ke kamar tidurnya sendiri. Dia basah kuyup seperti juga perkakas dokter, kain seperai, pendeknya semua. Di dalam kegelapan dengan cahaya pelita lahirlah puteri kami. Kami menamakannya Megawati…’’ (Halaman 379-380).

Sukarno bukan hanya sangat menyayangi tetapi juga sangat membanggakan Megawati. Seringkali di tengah-tengah pidatonya Sukarno menyebut nama Megawati dan menjadikannya contoh.

‘’Mega, Megawati, saya panggil juga Dis, Gadis, jangan kawin sama pemuda yang tidak bercita-cita, meskipun rupanya seperti Robert Taylor…Anakku cantik Megawati kemarin saya tanya, engkau nanti kalau sudah keluar dari SMA mau sekolah kemana? Pak, Megawati mau jadi insinyur pertanian, Pak…’’(Wedjangan Revolusi, halaman 34).

Sekitar dua tahun sebelum pecah peristiwa 27 Juli 1996 saya termasuk yang sering berinteraksi dengan Mega yang waktu itu jadi Ketua Umum PDI yang tidak diakui oleh Soeharto. Interaksi ini dalam kapasitas saya sebagai wartawan koran Merdeka. Suratkabar milik mendiang BM Diah, seorang Sukarnois yang pernah menempati posisi penting di masa pemerintahan Sukarno.
‘’Merdeka’’ waktu itu jadi koran pelopor yang membela Megawati, meski di tubuh redaksinya terdapat faksi-faksi pendukung Soerjadi.

Yang saya ingat dari Mega waktu itu antara lain adalah impresi yang sangat mendalam bahwa dia adalah seorang yang sangat perasa, sifat perasa ini saya menduga muncul akibat berbagai tekanan hidup yang dialaminya sebagai putri proklamator, putri seorang pejuang terhormat yang menjadi Bapak Bangsa yang namanya sejajar dengan tokoh-tokoh dunia pada masanya, tetapi yang kemudian disingkirkan begitu saja seperti seekor kucing jalanan oleh Soeharto.

Saya seringkali menyaksikan sepasang mata Mega berkaca-kaca waktu dia mendengarkan suara-suara wong cilik yang dikemukakan kepadanya di kantor PDI di Jalan Diponegoro. Waktu itu, pertengahan tahun 1990, belum eranya selfie, tidak jarang ketika tiba giliran bertemu dengan rombongan ibu-ibu misalnya, pertemuan sering diakhiri dengan kucuran air mata, peluk cium, dan tangisan yang sangat mengharukan.

Di mata saya waktu itu Megawati adalah seorang yang sangat perasa, seorang yang lembut hati, yang hemat dalam berkata-kata, lebih ingin banyak mendengar demi untuk menolong wong cilik yang lemah, orang-orang yang tergusur, yang tidak berdaya, dan yang diledek oleh kehidupan yang penuh ketidakadilan, seperti halnya ayahandanya, Sukarno, yang meletakkan hatinya buat rakyat, yang mewakafkan hidupnya buat kemerdekaan bangsa, persatuan dan kesatuan serta menjaga toleransi dalam beragama.

Bagaimana Megawati sekarang?

Mega sekarang digambarkan berada di balik (Basuki) Tjahaja Purnama.

Oleh banyak kalangan Mega disebut berada di belakang pusaran kemelut Pilgub Jakarta. Seperti diketahui PDIP adalah partai utama pendukung Ahok terdakwa penista agama. Kolaborasi dukungan seperti ini akan sangat membahayakan Megawati dan kelangsungan eksistensi PDIP di masa mendatang.

Pertama, presiden Jokowi dikabarkan sebenarnya sudah sangat ingin memutus kasus Ahok ini secara tuntas agar tidak berlarut-larut dan terus menerus menimbulkan ekses buruk terhadap citra pemerintahannya. Hanya saja sebagai ‘’petugas partai’’Jokowi masih terganjal (ewuh pakewuh dan tidak ingin konfrontatif) kepada sikap partai tempatnya bernaung. Terutama dalam hal ini dengan Megawati.

Menurut cerita, Jokowi sebenarnya sudah sangat tidak nyaman dengan Ahok yang menggandulinya sejak kasus reklamasi pantai utara Jakarta pada pertengahan tahun lalu. Jokowi sesungguhnya sudah sangat ingin fokus membenahi kabinetnya dan memulihkan kondisi perekonomian nasional dan mengevaluasi secara keras kinerja Darmin Nasution (Menko Ekonomi) dan Sri Mulyani (Menkeu).

Kedua, kasus Ahok telah menimbulkan Ahok Sinking Effect atau Efek Negatif Ahok yang dapat secara ril menyebabkan kemerosotan pamor PDIP. Setidaknya bukti konkretnya adalah dalam Pilkada Serentak kali ini PDIP banyak mengalami kekalahan, contoh di Bangka Belitung, Gorontalo, Banten, termasuk Jakarta yang disesumbarkan Ahok-Djarot bakal menang dalam satu putaran.
Contoh lain tentang kekalahan PDIP dalam Pilkada Serentak ini masih banyak lagi dan dinamika serta progresnya dapat diikuti melalui media massa.

Ketiga, fakta penting lainnya Ahok bukan hanya terlilit kasus penistaan agama dan menjadi terdakwa, Ahok juga terlibat dalam kasus-kasus korupsi besar seperti kasus Rumah Sakit Sumber Waras, pembelian lahan di Cengkareng, kasus tanah BMW, dan persoalan off budget. Kasus-kasus korupsi ini cenderung tidak banyak terlihat dan didengar oleh mata dan telinga publik, media massa pun terkesan kurang berminat untuk ‘’menggorengnya’’menjadi angle atau issue tersendiri.

Keempat, pamor Megawati sebagai Ibu Bangsa dan Negarawan akan sangat merosot akibat terseret-seret kasus Ahok. Niscaya pada gilirannya nama besar Sukarno yang harum dan terhormat akan ternoda olehnya. Di sisi lain pamor PDIP sebagai partai wong cilik bisa tenggelam dan semakin merosot pada Pilpres 2019 mendatang. Nasib serupa dipastikan juga akan dialami oleh partai-partai pendukung lainnya seperti Nasdem, Golkar, dan Hanura. Inilah saatnya untuk Megawati tampil memberikan sumbangsih dengan melepas berbagai belenggu yang berpotensi melunturkan nama besarnya sebagai anak Sukarno.

Saya sendiri sering dilanda oleh semacam Oerkracht yaitu romantika perjuangan mengenai Sukarno. Romantik perjuangan dalam bahasa Belanda disebut sebagai Oerkracht atau sumber abadi, bagi kekuatan ide dan batin. Walaupun sebagai wartawan yang suka membaca sejarah saya suka tergelitik membaca kecaman Tan Malaka bahwa katanya Sukarno belum memerdekakan bangsa ini 100 persen.

Seperti tersebutlah kisah pada suatu malam dalam sebuah pertemuan antara Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Haji Agus Salim, Tan Malaka yang hadir dengan lantang tiba—tiba berkata:


‘’Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik kepada kemerdekaan yang kalian ciptakan. Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Sukarno sahabatku…harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen…’’.

Zaman bergerak, waktu berkisar. Inilah waktunya bagi Megawati dan juga Presiden Jokowi untuk memerdekakan bangsa 100 persen.[]

Arief Gunawan, Wartawan Senior Rakyat Merdeka

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 5 =

Rekomendasi Berita