by

Alfira Khairunnisa: Nasib Pendidik Generasi Kian Tak Pasti

Alfira Khairunnisa

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Guru adalah pendidik generasi bangsa yang dapat menempah generasi
menjadi kaum cerdas dan intelektual. Mereka adalah sosok-sosok yang memiliki
semangat luarbiasa dalam mencerdaskan anak bangsa. Namun apa jadinya jika nasib
guru kini terabaikan, masihkah semangat itu membuncah? disamping hati mereka
yang kian resah.

Seperti yang terjadi saat ini, ribuan karyawan honorer kategori
dua (K2), yang mayoritas guru, melakukan aksi demonstrasi menuntut agar diangkat
menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Para guru yang berasal dari sejumlah
daerah di Indonesia itu menggelar aksi demonstrasi di seberang Istana sejak Selasa
(CNN Indonesia, 30/10/2018)
Para peserta aksi menolak konsep pengangkatan Pegawai Pemerintah
dengan Perjanjian Kerja (P3K) dan mendesak agar diangkat menjadi CPNS.
Namun sayang, gayung tak bersambut. Demo ribuan honorer K2 di
istana negara, tampaknya belum jua membuahkan hasil yang diharapkan. Aksi yang digelar
itu tidak direspon oleh orang nomor satu di Indonesia ini. Ya, Presiden Jokowi.
Nasib Guru Kian Terabaikan
Sungguh Nasib Malang kian meradang, guru sebagai pencetak
generasi, begitu malang nasibnya kini. Bekerja sebagai pendidik generasi demi
sesuap nasi, tetapi pemerintah begitu tega hingga membuat nasib guru kian
menderita. Bagaimana tidak? Profesi guru yang mulia tidak dapat mensejahterakan
keadaannya. Seabrek kebutuhan rumah harus terus terpenuhi, tapi apa daya honor
sebagai tenaga pendidik tak jua mencukupi.
Guru honorer dengan PNS sama-sama mengabdikan diri sebagai
pendidik generasi, tetapi kesenjangan sosial terlihat cukup signifikan. Bahkan
terkadang jam terbang guru honorer justru lebih banyak dibanding PNS.
Sungguh, ini adalah perlakuan buruk sistem sekuler terhadap profesi
pendidik generasi. Mereka juga digenjot dengan berbagai peraturan yang berbelit,
namun minim perhatian terlebih yang berkaitan dengan kesejahteraan. Begitu juga
pandangan sistem saat ini terhadap bagaimana urgensi pendidikan yang sesungguhnya,
bahwa sistem sekuler menempatkan sistem pendidikan hanya sebagai komponen ekonomi,
yakni sebagai bagian pencetak mesin industri bukan pembangun peradaban sehingga
kental dengan hitungan untung rugi.
Sistem Islam Memberi Kesejahteraan Pada Guru
Pandangan Islam terhadap pendidikan dan para pendidik sangat
bertolak belakang dengan sekulerisme kapitalisme. Bagaimana tidak? Islam menjadikan
pendidikan sebagai pilar peradaban mulia, dan menempatkan para guru sebagai salah
satu arsiteknya. Sementara demokrasi sangat jelas pengabaiannya terhadap nasib
guru. Jikalau memang penguasa peduli terhadap nasib guru, harusnya tidak ada
pilah-pilih antara honorer dengan PNS.
Sistem Islam telah sangat jelas terbukti dalam pendidikan dan
jaminan kesejahteraan para guru. Karena Islam memandang bahwa guru adalah orang
yang berjasa yang harus dimuliakan dan diperhatikan segala aspirasinya, bukan
mengabaikan dengan tidak merespon keluh kesahnya.
Dalam Islam pendidikan merupakan perkara yang jua tak kalah
penting dengan perkara yang lainnya. Salah satunya yang berkaitan dengan para
pendidik. Yang mana para pendidik diharapakan mampu mencetak generasi yang tak
hanya cerdas dari sisi ilmu pengetahuan, namun juga keterikatan dan ketundukan
kepada sang Maha Pencipta.
Maka untuk mewujudkannya, perlu adanya dukungan dari Negara,
dalam hal ini adalah penguasa, yaitu orang yang berkuasa dalam pengambil
kebijakan di Negara. Salah satunya yang berkaitan dengan kesejahteraan parapendidik.
Sebagaimana bisa terlihat pada masa kekhalifahan Umar bin
Khattab, terdapat kebijakan pemberian gaji kepada para pengajar Al-Qur’an, yang
masing-masing sebesar 15 dinar, yang mana satu dinar pada saat itu sama dengan
4,25 gram emas. Jika satu gram emas Rp500.000 saja dalam satu dinar berarti
setara dengan Rp. 2.125.000,00. Dengan kata lain, gaji seorang guru mengaji
adalah 15 dinar dikali Rp. 2.125.000, yaitu sebesar Rp. 31.875.000. Angka yang
fantastis bukan? Luarbiasa.
Nah, kemudian yang berkaitan dengan pembiayaan pendidikan dalam
sistem Islam merupakan sepenuhnya oleh negara (Baitul Maal). Pos kepemilikan
umum yaitu SDA, seperti tambang, hutan, minyak dan gas, serta laut.
Biaya pendidikan dari Baitul Mal tersebut secara garis besar
akan dibelanjakan untuk dua kepentingan. Pertama, untuk membayar gaji segala
pihak yang berhubungan dengan pelayanan pendidikan, seperti guru, dosen,
karyawan, dan lain-lain. Kedua, untuk membiayai segala macam sarana dan
prasarana pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku pegangan,
dan sebagainya.
Adapun sekolah adalah sebagai penanggung jawabnya secara
langsung oleh negara sendiri atau dibangun dan didanai oleh individu-individu
atau kelompok-kelompok yang kaya di dalam komunitas yang berbagi tanggungjawab
untuk mendidik generasi yang nantinya sebagai estafet peradaban.
Maka, dengan demikian, pandangan Islam terhadap pendidikan
dan para pendidik bertolak belakang dengan sekulerisme kapitalisme. Islam
menjadikan pendidikan sebagai pilar peradaban mulia dan menempatkan para guru
sebagai salah satu arsiteknya. Hal itu nampak dari perhatian sistem Islam
terhadap pendidikan dan jaminan kesejahteraan para guru, tanpa membeda-bedakan pegawai
negarakah atau swastakah.

Maka dari itu untuk mewujudkan hal tersebut, tiada lain adalah
kembali pada sistem Islam yang terbukti telah dapat mensejahterkan para
pendidik dan dapat menuntaskan berbagai problematika kehidupan. Wallahu a’lam.[]
#Alfira Khairunnisa adalah nama pena dari Sartika Saragih Lahir di Pematang Kerasaan Kec. Bandar Kab. Simalungun Sumatera Utara. Praktisi pendidikan sekaligus pemerhati remaja dan gerak mahasiswa ini menyelesaikan studinya pada tahun 2010 di Akademi Manajemen Informatika. Menulis artikel, cerpen di beberapa media cetak maupun online. Mengajar di SMK Widya Karya Balam Kec. Balai Jaya Kota Kab Rokan Hilir Riau pada 2011-2014. Sekarang berdomisili di Rokan Hilir, Riau. 

Comment

Rekomendasi Berita