by

Aptisi Gelar Dialog Kepemimpinan Bangsa Bermartabat Dan Berkeadilan

Prabowo.[Nicholas/radarindonesianews.com]

RADARINDONESIANEWS.COM, 
JAKARTA – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyampaikan bahwa dirinya memang bukanlah merupakan ahli ekonom, namun dirinya merupakan prajurit militer dan paham Pertahanan Negara serta fungsi utama negara.

“Di dalam Pembukaan UUD’45 alinea keempat termaktub tujuan nasional ialah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.” jelasnya, saat orasi kebangsaan di  acara ‘Dialog Kepemimpinan Nasional Yang Bermartabat &
Berkeadilan’ di Hotel Sahid, yang digelar Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), 
Senin (17/4). 

“Jeniusnya Founding Fathers (pendiri bangsa) ketika itu, bagian dalam 
UUD sudah dirancang suatu konsep negara jauh kedepan. Baik itu 
pasal 33 yang berisikan tentang ekonomi, ada pula pasal Pertahanan 
bahwa setiap warga negara wajib dan berhak membela negara,” ungkapnya.

Dalam orasinya Prabowo menyatakan, para founders meranca
negara, seluruh rakyat wajib dan berhak membela hingga memunculkan 
konsep Pertahanan Ketahanan Semesta.

“Tentara Indonesia berasal dari
rakyat dan membela rakyat, saya yakin TNI tidak akan pernah melawan 
rakyatnya sendiri. Pertahanan dan Ketahanan negara letak utamanya di
 dalam kekuatan ekonominya, berbicara Kedaulatan, Pertahanan dan
 Kemanan yang dibahas ekonominya,” jelasnya di hadapan Akademisi, Rektor, Dekan, bahkan mahasiswa mahasiswi yang tergabung 
dalam APTISI. Hadir dalam kesempatan tersebut Prof.Dr.Mahfud MD, Dr.
Marzuki Alie, Ketua DPR RI Fadli Zon.

Di samping itu dalam menelusur situasi perang 
yang acap kali terjadi di dunia, lanjut mantan Danjen Kopasus itu
, tentunya memiliki sebab musabab yang berbeda-beda, namun 
ujung-ujungnya ialah merebut Sumber Daya Alam (SDA). Ibaratnya, tutur menantu mantan Presiden RI kedua (2) Soeharto itu, Amerika Serikat (AS) alasan masuk ke Iraq dalam rangka membawa paham ‘Demokrasi’.”Namun di Zimbabwe tidak demokratis, mereka tidak masuk. Terjadi karena tidak ada gas, minyak dan sebagainya. Itulah Pertahanan Keamananan, tidak bisa tanpa ekonomi,” tukasnya.

Anak dari Prof. Dr. Raden Mas Sumitro Djoyoikusumo itupun menuangkan 
alur pikirannya, dan merasa sedih karena melihat para tokoh, para
 akademisi yang dibangun oleh orang tuanya kini malah menyebarluaskan 
filosofi ekonomi yang bertentangan denhgan Ideologi Pancasila.”Bahkan saya pernah dipanggil para tokoh ekonom FE UI, lalu mereka katakan bahwa ekonomi Neolib suatu sistem yang SALAH,” ungkapnya lagi
membeberkan.

Adapun ‘Paradoks Indonesia’ buku terbitan Prabowo Subianto itu
 berisikan refleksi ‘kejanggalan’ yang terjadi di Indonesia dengan tinjauan 
kritis dari sisi ekonomi. Sambungnya seraya flash back dia mempertanyakan 
Indonesia yang merupakan negara terkaya kelima (5) dari Sumber Daya
 Alam (SDA) namun rakyatnya miskin, ia menemukan kekayaan alam di
 Indonesia, tidak tinggal di Indonesia, itulah yang sempat diungkap
 oleh mantan Presiden Pertama RI, Ir Soekarno sebelum beliau
 diadili pada tahun 1931 dengan pidato tokoh Proklamator ‘Indonesia
Menggugat’.

“Loh, kok paradoks Indonesia ini hampir sama dengan keadaan Indonesia 
pada tahun 1931? kok tidak jauh berbeda dengan Tahun 2014, 2017
dimana ‘net of flow, national of wealth’, ditandai dengan peralihan
 kekayaan Indonesia (Nasional) selama 350 tahun,” ungkapnya penuh tanda
tanya besar

“Ini bagaimana mau bicara keadilan? bicara mengenai pendidikan
 SD, SMP, SMA, untuk kampus-kampus saja, kalau gaji PNSnya kecil,
 kebanyakan guru mengajar paginya lalu siang ngojek. Ini terjadi di mana
 mana,” paparnya.

Padahal menurutnya bila dibayangkan negara sebesar Eropa, secara
 geografis Indonesia hampir sama dengan Eropa Barat yang berjumlah 27
negara itu.”Saya bicara belasan semenjak tahun 2002 lalu, ini ada
s emua angka-angka baik rujukan pihak Pemerintah Republik Indonesia 
sendiri dan Bank Dunia mengenai PDB. Ini angka matematis yang inti
 pencerahan ialah kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia,”
paparnya menjelaskan benang merah yang tertuang dalam buku
’Paradoks Indonesia’.

“Kasus korupsi merajalela terjadi berjumlah triliunan, gaji hakim berapa? Mengalir kekayaan nasional, suka atau tidak suka, banyak tidak suka
 dengan Prabowo pastinya. Di mana kekayaan Indonesia yang mempunyai
 Bauksit ketiga terbesar di dunia, bahan untuk alumunia,
alumunium. Apakah ada motor, mobil, televisi buatan Indonesia ?”
tukasnya.

“Artinya kekayaan alam dibeli murah oleh bangsa asing, dijual 3 kali
lipat, ini berikan subsidi ke bangsa Asing tadi. Harusnya kita berada
 dalam keadaan yang sedih, dan kita diakui sebagai bangsa yang tidak 
pandai,” sindirnya seraya kecewa dan prihatin.

“Setelah hampir 72 tahun merdeka, kesenjangan bukan membaik namun
 makin melebar. Bangsa Indonesia, bangsa yang rendah diri, tidak
 percaya dengan diri sendiri, merasa inferior, nampak minder lander 
konteks,” ungkapnya.

“Kita selalu kagum akan semua yang berasal dari Asing. Kita kira kulit 
putih lebih baik dari bangsa ini, serasa tidak punya harapan. Silahkan Prof koreksi. Namun saya percaya diri soalnya data Bank Dunia, dan baru
 keluarkan dimana saya baru dapat 2-3 bulan yang lalu menyebut pula
 ketimpangan yang semakin lebar,” jelasnya.

Selain itu pula menurut data World Bank (Bank Dunia) yang lebih ‘galak’ dari Prabowo Subianto, masih mengggunakan nominal angka Gimni Rasio, 4,1 dimana artinya koefisien angka yang menggambarkan ketimpangan.”4,1, artinya sebanyak 1 % rakyat Indonesia menguasai 41% kekuasaan. Kalau di sini menurut Bank Dunia sudah 47 %, namun kenyataan di Lapangan sudah 49 %,” jelasnya.

Sedangkan kalau dari pertanahan, menurut Prabowo perkiraan sejumlah 1
% sudah menguasai 80 % tanah. Ini.”Wajib dibaca oleh saudara saudara 
sekalian, ini semua dibenarkan oleh Bank Dunia (WB), ternyata lebih
 menyedihkan, Indonesia berada di kondisi parah, dan sangat sangat
 menyedihkan. Bila berbicara Martabat dan Keadilan saya berbicara tentang Faktual,” tandasnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − ten =

Rekomendasi Berita