Penulis: Septa Anitawati, S.I.P | Founder Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah
Laman radarkarawang.id (9/1/2026) menulis bahwa puluhan anak teridentifikasi terpapar konten kekerasan di ruang digital hingga memunculkan niat melakukan tindakan ekstrem, mulai dari menyerang lingkungan sekolah, melukai orang lain, bahkan mengakhiri hidup sendiri.
Fakta ini menjadi alarm keras bagi kita semua tentang kondisi generasi yang sedang tumbuh di tengah arus digital yang nyaris tanpa sekat.
Pertanyaannya, mengapa anak-anak begitu mudah terseret ke arah kekerasan?
Jika ditelisik lebih dalam, anak-anak hari ini hidup sangat dekat dengan dunia digital, sementara kemampuan mereka untuk menyaring informasi masih sangat terbatas. Konten yang seharusnya tidak mereka konsumsi justru hadir tanpa kendali, membentuk cara berpikir dan bersikap yang keliru, bahkan berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain.
Masalah ini setidaknya berakar pada tiga persoalan utama.
Pertama, lemahnya peran keluarga. Banyak orang tua belum sepenuhnya menjalankan fungsi sebagai pendidik pertama dan utama. Anak dibiarkan tumbuh tanpa pendampingan yang memadai, sementara perhatian orang tua tersita oleh tekanan ekonomi dan tuntutan hidup yang semakin berat. Ketika kebutuhan dasar belum seimbang dengan daya beli, pendidikan karakter sering kali menjadi hal yang terabaikan.
Kedua, lingkungan pergaulan dan algoritma digital. Anak-anak berinteraksi dalam lingkaran yang sama-sama terpapar konten serupa. Kekerasan tidak hanya ditampilkan sebagai tontonan, tetapi juga dikemas dalam permainan dan tayangan yang seolah memberikan pembenaran, bahkan panduan, atas tindakan brutal, pembunuhan, hingga bunuh diri.
Ketiga, arus sistemik yang membentuk pola pikir generasi. Ketika nilai-nilai kehidupan dipisahkan dari agama, anak-anak tumbuh dengan krisis makna. Mereka kesulitan menyelesaikan persoalan hidup secara sehat dan bermartabat, sehingga kekerasan kerap dipilih sebagai jalan pintas dalam menghadapi konflik, terutama konflik sosial.
Kondisi ini menunjukkan kegagalan pendidikan yang hanya berorientasi pada aspek kognitif, namun mengabaikan pembentukan kepribadian.
Alih-alih melahirkan generasi tangguh dan bertanggung jawab, yang muncul justru generasi rapuh, mudah goyah, dan tidak memiliki pegangan moral yang kuat dalam menyikapi persoalan pribadi maupun sosial.
Lebih jauh, persoalan ini juga mencerminkan lemahnya pengaturan ruang publik digital. Konten kekerasan beredar luas tanpa kendali yang memadai. Orientasi keuntungan sering kali mengalahkan tanggung jawab moral, sementara dampak jangka panjang terhadap mental dan karakter pelajar nyaris diabaikan.
Jika situasi ini terus dibiarkan, maka masa depan generasi benar-benar berada di ujung tanduk. Kita patut bertanya: akan menjadi apa anak-anak kita kelak?
Membentuk Generasi Emas
Generasi membutuhkan fondasi yang kokoh sebagai landasan hidup, dan fondasi itu adalah akidah Islam. Keimanan yang kuat kepada Allah SWT akan membentuk pola pikir dan pola sikap yang lurus.
Cara seseorang menyikapi masalah, termasuk menahan diri dari kekerasan, sangat ditentukan oleh keyakinannya dalam beragama.
Dengan landasan ini, setiap perbuatan diarahkan agar bernilai ibadah melalui dua prinsip utama: ikhlas lillahi ta’ala, semata-mata mengharap ridha Allah, serta sesuai tuntunan Rasulullah SAW sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kembali pada Solusi Sistemik
Umat membutuhkan solusi yang menyeluruh, bukan solusi parsial apalagi tambal sulam. Akar persoalan harus dicabut, bukan sekadar ditutup sementara. Dalam konteks ini, sistem Islam menawarkan aturan yang komprehensif dalam menjaga dan membentuk kepribadian generasi, baik di ranah keluarga, pendidikan, maupun ruang publik.
Kita berharap generasi masa depan tidak hanya selamat dari arus kekerasan, tetapi juga siap memikul estafet kepemimpinan peradaban, kembali menjadi khoiru ummah, umat terbaik yang memberi arah dan teladan bagi dunia. Wallahu a’lam.[]














Comment