by

Diduga Terserang Bakteri Tikus 4 Warga Gunung Kidul Tewas

Ilustrasi
RADARINDONESIANEWS.COM, GUNUNGKIDUL- Dalam kurun waktu dua minggu terakhir warga Desa Terbah, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunungkidul resah. Hal itu terjadi akibat mewabahnya penyakit Leptospirosis di wilayah ini. Keresahan semakin memuncak menyusul meninggalnya 4 orang warga setempat yang diduga akibat terinfeksi bakteri yang diakibatkan kotoran tikus ini. Korban meninggal terduga terkena bakteri Leptospirosis di Desa Terbah antara lain Sugimin (51), Jumani (48), Midi (60) dan Mbok Walijem (68) tahun.
Menurut Supriono (45) tahun, menantu Mbok Walijem, Almarhum mertuanya diketahui menderita Leptosporosis Saat dirawat di RSUD Prambanan. Sebelum meninggal Korban sempat menjalani rawat inap selama dua hari di rumah sakit ini. Lebih lanjut Supriono menyatakan ada dua orang keluarganya yang terkena penyakit serupa, kakak iparnya yang tinggal serumah dengan Mbok Walijem juga terkena penyakit Leptospirosis dan saat ini dirawat di RSUD Wirosaban Kota Yogyakarta. 
“Mertua saya sempat dirawat di RSUD Prambanan selama 2 hari, menurut keterangan dokter beliau meninggal akibat terkena penyakit tikus. Lha ini kakak ipar saya sekarang kondisinya juga drop kemarin malam kami bawa ke Wirosaban. Sementara ini keteragannya juga sama terkena penyakit tikus” Ucapnya ketika di temui di RSUD Wirosaban, Jum’at (3/3/2017). 
Berdasarkan data yang dihimpun radarindonesianews.com di lapangan, korban meninggal lainnya rata-rata diindikasikan juga terkena penyakit Leptospirosis, Jumani dan Sugimin diketahui meninggal di RSI Kalasan, Sedangkan Korban lain Midi di rawat di RSUD Dr. Soejarwadi Klaten. Menurut keterangan beberapa warga yang sempat kami temui mereka mendengar dari keluarga korban bahwa dokter menyatakan korban terkena penyakit tikus. Selain keempat korban yang meninggal dunia, saat ini ada kurang lebih 9 warga desa Terbah yang masih dirawat di beberapa rumah sakit dan mengalami gejala sama seperti korban yang meninggal. 
Kepala Desa Terbah Eko Nuryadi, saat dikonfirmasi mengenai kasus ini tidak mau memberi keterangan. Nomer Handphone yang diketahui merupakan milik sang Kades ketika di hubungi justru di tolak, dan sampai berita ini diturunkan pesan pendek yang kami kirimkan pun hanya dibaca tanpa ditanggapi. Sedangkan Camat Pathuk R. haryo Ambar Suwardi menyatakan bahwa pihaknya saat ini sudah melakukan cek lapangan dan akan segera mengambil tindakan antara lain mensosialisasikan bahaya penyakit Leptospirosis. 
Meski sudah memakan banyak korban, namun kasus bakteri Leptospirosis yang mewabah di desa Terbah ini nampaknya belum menjadi perhatian khusus bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul. Terbukti ketika dimintai keterangan melalui saluran telepon, Sekertaris Dinas Kesehatan Dewi Irawaty menyatakan bahwa dirinya belum mengetahui informasi tersebut dan baru akan meminta keterangan dari Kabid Pencegahan dan pengendalian penyakit. 
Kelambatan penanganan korban bakteri Leptospirosis ini memantik kekecewaan warga, Tokoh masyarakat Desa Terbah, Suyanto (48) menyatakan warga saat ini sedang dalam kondisi was-was. Mengingat bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup berkaitan dengan penyakit ini. Selain itu pihaknya juga menyayangkan lambatnya respon dari pemerintah. Menurutnya jika dihitung dari jumlah korban meninggal dan yang dirawat seharusnya pemerintah sudah mengambil tindakan penanganan dan pencegahan secara masif. 
“Kami sebagai warga masyarakat merasa sangat kecewa. Kasus seperti ini baru pertama kali terjadi, yang kami alami hanya kebinggungan dan ketakutan, jangan-jangan besok saya atau keluarga yang kena. Seharusnya ini sudah dikategorikan Kejadian Luar Biasa (KLB). Korban meninggal sudah 4 orang belum lagi yang dirawat, dan kejadiannya sudah hampir 2 minggu. Pemerintah desa, Kecamatan dan Pemda seharusnya hadir memberi rasa aman bagi kami dengan melakukan penanganan dan pencegahan, Lha kok malah baru mau sosialiasi, keburu mati semua nanti “ Ucapnya dengan berkaca-kaca ketika memberi keterangan kepada media. (Ivan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight + 17 =

Rekomendasi Berita