by

Dituduh Bakar Sekolah Di Palangkaraya, Kuasa Hukum Yansen Sebut ‘Ada Motif Politik’

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Terkait beredarnya pemberitaan sepihak selama ini dirasa merugikan pihak bapak Yansen Binti, yang dituduh dalang dan dihubung-hubungkan dirinya terkait peristiwa pembakaran sebanyak 7 sekolah dasar negeri (SDN) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah dalam kurun sepekan lebih, yang tak luput dari amukan jago merah, pada kisaran 21 hingga 30 juli 2017 tahun lalu, yang dimana menurut pemberitaan tersiar sepihak menyatakan pelaku pembakaran, ialah anggota DPRD Propinsi Kalimantan Tengah, Yansen Alison Binti, yang merupakan pelayan (gembala) gereja hingga dituduh pelaku teror pembakaran sekolah di Palangka Raya itu. 
Adapun proses persidangan dilangsungkan di pengadilan negeri Jakarta Barat, dengan alasan persidangan dilakukan di Jakarta, agar keadaan di Palangka Raya tidak terganggu.
Sastiono partner SH, kuasa hukum, Yansen Binti beserta family menyampaikan bermaksud menjelaskan sejauh ini sudah melalui sidang ke 12, dimana terdakwa, dari kedelapan terdakwa baik saksi ahli, dan saksi fakta di pengadilan negeri Jakarta Barat.”Proses penyidikan oleh Mabes Polri terkesan masih prematur, mereka katakan ada rapat. Ada ritual di rumah betang, tapi ga ada sama sekali,” ungkap Sastiono Kesek S.H, didampingi rekan pengacaranya Erik Suangi S.H.
Adapun, Yansen, politisi partai Gerindra tersebut ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok Jawa Barat, yang  merupakan timses mengantarkan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran memenangkan Pilgub Kalteng yang lalu. Padahal saat itu, beliau berada di tempat ibadah rapat prosesi pemakaman. Semenjak tanggal 4 september, sekitar 7 bulan sudah, Yansen meringkuk di dalam tahanan Mako Brimbob Kelapa Dua, Depok
Ibu Maryati Usman, istri dari bapak Yansen pasca peristiwa suaminya dituduh dan dihubungkan peristiwa kebakaran tersebut, menjadi shock mendengar kabar suaminya ditahan.”Suami saya dituduh menjadi dalang pelaku pembakaran tersebut,” ujar Maryati, yang kini tengah alami stroke ringan’ hingga duduk di kursi roda itu, saat memberikan keterangan pada wartawan di pengadilan Jakarta Barat saat diwawancarai wartawan. Rabu (4/4) 2018.
“Kok masih dinaikan ke persidangan proses ini, Maka kami sudah laporkan ke Majelis Hakim untuk dipercepat lagi,” terangnya.
Bahkan, pihak kuasa hukum menjelaskan kalau sudah memberikan permohonan perlindungan ke LPSK, Komisi Yudisial, MA, dan Komnas HAM, bahkan menyerahkan surat ke DPR RI Komisi III.
“Perlindungan saksi dan korban, Komnas HAM, bahkan ke Komisi III DPR RI kami sudah ajukan surat,” imbuhnya menambahkan.
Selanjutnya,pihak kuasa hukum dari kedelapan (8) terdakwa menyampaikan kalau sudah melakukan pemeriksaan, baik saksi fakta dan ahli.”Di dalam pemeriksaan tersebut tidak ada satupun keterangan saksi fakta menerangkan ada kejadian kejadian seperti tercantum dalam surat dakwaan,” paparnya.
“Tidak ada menjelaskan hal tersebut. Saksi hanya menyatakan benar ada kebakaran, akan tetapi tidak ada terjadi persitiwa itu, baik pendahuluan sebelumnya tindak pidana dilakukan terlihat,” tuturnya.
Kemudian, barang bukti dari ke 15 hanphone , jelas kuasa hukum menyampaikan tidak diketmukan bukti digital forensik, baik sms, wassap, handphone maupun rekaman suara yang menyatakan bahwa
berkoordinasi dalam peristiwa kebakaran.
“Pengawalan dan pengawasan serta perlindiungan bagi saksi saksi kami. Selain itu, saksi sudah mencabut BAP,” ungkapnya.
Polisi awal penangkapan mengatakan ada rekaman, dimana memerintah melakukan pembakaran sekolah..”Namun saat persidangan tidak ada saksi menyatakan,” jelasnya
Pasalnya, dari kubu pihak kami yang sejauh ini sudah melalui sidang ke 12 terdakwa, dimana dari kedelapan terdakwa.”Baik setelah diperoleh keterangan baik saksi ahli dan saksi fakta. Tidak diketemukan kegiatan faktanya dimana saksi tidak menyatakan terjadi peristiwa perencanaan pembakaran,” ungkap kuasa hukum.
“Baik dari sms, kiriman wassap, yang merupakan koordinasi terkait rapat untuk pembakaran. Bahkan saksi mencabut BAP-nya,” bebernya.
“Kami akan ajukan perkara ini selanjutnya ke Komisi Yudisial. Secara ‘locus delecti’ nya kan tidak disana,” cetusnya.
Sementara, Istri Yansen, Ibu Maryati Usman, mengatakan,”Sama sekali tidak tahu menahu atas kasus ini suami saya, namun dituduhkan ke Dia. Dan saat ini dicabut semua,” kata dia.
“Beliau sekarang mencalonkan sebagai bupati Gunung Mas, dan tidak ada sama sekali di tempat. Mungkin arahnya ke politik dimana bapak mencalonkan selaku bupati Gunung Mas, dari partai Gerindra,” ucapnya menduga.
Padahal, menurut Maryati, suaminya tidak salah, dan tidak tahu menahu sama sekali atas kasus kebarakan ini, malahan ada pemberita online sepihak yang memberitakan suaminya terlibat.
“Tuduhan. Ini kan dituduh, namun kini kan mereka mencabut BAP, dan tidak ada ritual, bahkan saat dituduh beliau saat itu ada kegiatan sendiri. Saat kejadian beliau sedang lakukan sosialisasi pencalonan Bupati Gunung Mas,” paparnya.
“Kayaknya ada motif politik di belakang fitnah kasus ini. Yah, disinilah kami harap Majelis Hakim mau betul betul melihat fakta dan menyatakan bahwa suami saya benar-benar tidak bersalah,” pungkas Maryati berharap.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven + 17 =

Rekomendasi Berita