by

Dugaan Konspirasi Jahat Jegal Pencabuban Yansen Binti Kian Kental

Suryansyah, saksi Terdakwa Pembakaran Gedung Sekolah Di Palangka Raya. Jakarta (18/4).[Dok/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kasus pembakaran beberapa sekolah di Palangkaraya Kalimantan Tengah, yang sidangnya telah beberapa kali digelar di kantor Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (18/4/2018) bila ditelisik secara mendalam tengah mendudukkan Yansen Binti sebagai pesakitan, Akhirnya sedikit demi sedikit mulai terkuak, bahkan mulai perlihatkan motif sesungguhnya dimainkan atas kasus itu.
Bahkan, perjalanan sidang yang diduga kental kepentingan dan nuansa politis itu, kini sudah mengarah pada adanya bentuk konspirasi jahat skenario tengah direvisi. 
Pasalnya, sedari beberapa gelaran sidang kasus, kian jelas adanya keanehan dan kejanggalan dipertontonkan para penyelenggara penegakan hukum di ruang sidang yang mulia itu.
Hal kejanggalan semacam itu, juga pernah mendapat tanggapan dari seorang praktisi hukum ternama, Beny Pakpahan, SH. sebagaimana bunyi emailnya pada SKM Buser, Beny menegaskan bahwa; 
“Dikenakannya sanksi pasal 55 KUHP, namun penetapan tersangka pada Yansen Binti merupakan hasil dari keterangan 8 orang saksi tersangka lainnya yang saling berkaitan mengarah pada Yansen memerintahkan pada mereka, untuk melakukan pembakaran, saya (Beny -Red) sebagai praktisi hukum tidak menemukan bukti selain keterangan 8 orang saksi tersangka itu. Bahkan pada saat praperadilan di Palangkaraya maupun lewat media cetak serta media elektronik. Sedangkan hasil forensik Polri hanya menerangkan bahwa adanya percakapan antara Yansen dengan 8 orang lain, itupun keterangan ahli hanya dibangun berdasarkan BAP milik 8 orang tersangka lainnya. 
Itu artinya sampai saat ini yang mengarah pada peran Yansen selaku pemberi perintah 8 orang tersebut tidak terlihat.
“Maka, disinilah kiranya kita patut mempertanyakan kinerja penyidik menetapkan tersangka,” paparnya kembali
Padahal, berdasarkan pasal 184 ayat (1) KUHAP, sangat jelas disebutkan bahwa yang bisa menjadi alat bukti untuk menetapkan tersangka, antara lain, keterangan saksi, keterangan ahli, petunjuk, dan keterangan terdakwa, sedangkan alat bukti penetapan tersangka pada Yansen Binti, hanya berdasarkan keterangan saksi kedelapan (8) orang.
Kemudian, mengenai alat bukti, seperti jerigen, minyak, selang, handuk, serta sumbu, itu merupakan barang yang tak terkait peran Yansen selaku dituding tudingi pemberi perintah, akan tetapi barang-barang itu lebih mengarah pada pelaku pembakaran.
Pertanyaannya sekarang, dimana bukti/petunjuk yang mengarah kepada Yansen Binti selaku pemberi perintah?
Bukan hanya itu, kejanggalan demi kejanggalan justru semakin terlihat pada sidang-sidang lanjutan, seperti tidak dapatnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi penjual minyak, hingga berdampak ditundanya sidang yang terkesan mengulur waktu, sampai pada pengakuan para tersangka yang menyatakan intimidasi dan di bawah tekanan saat menulis BAP, hingga merekapun meminta agar hakim dapat membatalkan BAP.
Sementara, kejanggalan lainnya antara lain; terlihatnya hakim dalam sidang seakan mewakili JPU, menggiring para saksi, juga terdakwa mengarah pada kesimpulan memberatkan terdakwa.
Sedangkan keanehan lainnya adalah; digelarnya sidang dengan 7 saksi hingga sampai larut malam. Bahkan beberapa karyawan yang berjaga piket di kantor Pengadilan sempat berkata kalau sidang sampai jauh malam itu bisa jadi sejarah dan baru terjadi.
” Baru kali ini ada sidang digelar sampai jauh malam, bisa jadi sejarah, ini kan lepas dari jam kerja kantor,” ungkap seorang Pamdal kepada wartawan.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four − three =

Rekomendasi Berita