by

Elpiani Basir, S. Pd: Solusi Islam Tanggulangi Banjir

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Tenggara (Sultra), Lukman Abunawas menyebut kegiatan pertambangan dan kerusakan lingkungan menjadi penyebab banjir bandang yang melumpuhkan kabupaten Konawe Utara (Konut).

Menurutnya, sejak menjadi daerah otonomi baru (DOB), banjir yang terjadi kali ini merupakan banjir terparah yang meluas hingga 6 kecamatan. Ini memang karena di sana banyak aktivitas penambangan dan juga karena lingkungan hidup yang sudah tidak tertata dengan baik. Sehingga itu menjadi salah satu penyebab banjir di sana, kata Lukman,selasa ( 11/06/2019).

Selain keberadaan tambang dan kerusakan lingkungan di Konut, mantan Sekda Sultra itu juga menyebutkan, kurangnya daerah resapan air menjadi salah satu faktor penyebab banjir. Terlebih di Konut, banyak drainase yang kurang tertata dengan baik. Apalagi ketika hujan lebat dan berkepanjangan banjir lebih mudah terjadi, karena air tidak mengalir dengan Harusnya tiap daerah itu punya tempat resapan airnya, ujarnya ,( ZONASULTRA.COM 11/06/2019).

Pengelolaan sumber daya alam secara liberal tanpa memperhatikan dampak buruk yang akan terjadi di lingkungan hanya akan menyisakan penderitaan kepada masyarakat, banjir yang meluluh lantahkan rumah – rumah warga dan juga korban jiwa. Allah Swt memperingatkan kita dalam Al Qur an surat Ar Rum 41 yang artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan laut di sebabkan karena perbuatan manusia Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali kejalan yang benar.

Sebagai insan yang beriman kepada Allah SWT tentu kita meyakini bahwa segala musibah termasuk banjir merupakan qadha dari Allah Swt dan kita harus bersabar namun tidak cukup hanya dengan bersabar tapi kita semestinya bisa menjadikan bencana alam yang silih berganti menimpa negeri ini  menjadi momen penyadaran bahwa saatnya aturan-aturan Allah diterapkan secara menyeluruh dalam aspek kehidupan kita.

Sudah saatnya kita melirik kebijakan khilafah Islamiyah  yang terhimpun dalam manajemen bencana model Khilafah Islamiyah. Manajemen bencana model Khilafah Islamiyah tegak di atas akidah Islamiyah. Prinsip-prinsip pengaturannya didasarkan pada syariat Islam, dan ditujukan untuk kemashlahatan rakyat. Manajemen bencana Khilafah Islamiyah meliputi penanganan pra bencana, ketika, dan sesudah bencana.

Penangangan pra bencana adalah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mencegah atau menghindarkan penduduk dari bencana. Kegiatan ini meliputi pembangunan sarana-sarana fisik untuk mencegah bencana, seperti pembangunan kanal, bendungan, pemecah ombak, tanggul, dan lain sebagainya. Reboisasi (penanaman kembali), pemeliharaan daerah aliran sungai dari pendangkalan, relokasi, tata kota yang berbasis pada amdal, memelihara kebersihan lingkungan,pengelolaan tambang yang baik dan lain-lain; juga termasuk dalam kegiatan pra bencana.

Kegiatan lain yang tidak kalah penting adalah membangun mindset dan kepedulian masyarakat, agar mereka memiliki persepsi yang benar terhadap bencana; dan agar mereka memiliki perhatian terhadap lingkungan hidup, peka terhadap bencana, dan mampu melakukan tindakan-tindakan yang benar ketika dan sesudah bencana.

Untuk merealisasikan hal ini, khalifah akan melakukan edukasi terus-menerus,khususnya warga negara yang bertempat tinggal di daerah-daerah rawan bencana alam; seperti warga di lereng gunung berapi, pinggir sungai dan laut, dan daerah-daerah rawan lainnya. Edukasi meliputi pembentukan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penjagaan dan perlindungan lingkungan serta peningkatan pengetahuan mereka terhadap penanganan ketika dan pasca bencana. Harapannya, masyarakat terbiasa peduli terhadap lingkungannya dan mengetahui cara untuk mengantisipasi dan menangani bencana, dan me-recovery lingkungannya yang rusak – akibat bencana – agar kembali berfungsi normal seperti semula.

Selain itu, Khilafah Islamiyah membentuk tim-tim SAR yang memiliki kemampuan teknis dan non teknis dalam menangani bencana. Tim ini dibentuk secara khusus dan dibekali dengan kemampuan dan peralatan yang canggihseperti alat telekomunikasi, alat berat, serta alat-alat evakuasi korban bencana, dan lain-lain sehingga mereka selalu siap sedia (ready for use) diterjunkan di daerah-daerah bencana. Tim ini juga bergerak secara aktif melakukan edukasi terus-menerus kepada masyarakat, hingga masyarakat memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, menangani, dan me-recovery diri dari bencana.

Adapun manajemen ketika terjadi bencana adalah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian material akibat bencana. Kegiatan-kegiatan penting yang dilakukan adalah evakuasi korban secepat-secepatnya, membuka akses jalan dan komunikasi dengan para korban, serta memblokade atau mengalihkan material bencana (seperti banjir, lahar, dan lain-lain) ke tempat-tempat yang tidak dihuni oleh manusia, atau menyalurkannya kepada saluran-saluran yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Kegiatan lain-lain yang tidak kalah penting adalah penyiapan lokasi-lokasi pengungsian, pembentuan dapur umum dan posko kesehatan, serta pembukaan akses-akses jalan maupun komunikasi untuk memudahkan team SAR untuk berkomunikasi dan mengevakuasi korban yang masih terjebak oleh bencana. Oleh karena itu, berhasil atau tidaknya kegiatan ini tergantung pada berhasil tidaknya kegiatan pra bencana. Aspek yang ketiga adalah manajemen pasca bencana, yakni seluruh kegiatan yang ditujukan untuk;
 (1) me-recovery korban bencana agar mereka mendapatkan pelayanan yang baik selama berada dalam pengungsian dan memulihkan kondisi psikis mereka agar tidak depresi, stres, ataupun dampak- dampak psikologis kurang baik lainnya.

Adapun kegiatan yang dilakukan adalah kebutuhan-kebutuhan vital mereka, seperti makanan, pakaian, tempat istirahat yang memadai, dan obat- obatan serta pelayanan medis lainnya. Recovery mental bisa dilakukan dengan cara memberikan taushiyah-taushiyah atau ceramah-ceramah untuk mengokohkan akidah dan nafsiyah para korban ;
 (2) me-recovery lingkungan tempat tinggal mereka pasca bencana, kantor-kantor pemerintahan maupun tempat-tempat vital lainnya, seperti tempat peribadahan, rumah sakit, pasar, dan lain-lainnya.

Khilafah Islamiyah, jika memandang tempatterkena bencana, masih layak untuk di-recovery, maka, ia akan melakukan perbaikan-perbaikan secepatnya agar masyarakat bisa menjalankan kehidupannya sehari-harinya secara normal, seperti sedia kala. Bahkan jika perlu, khalifah akan merelokasi penduduk ke tempat lain yang lebih aman dan kondusif. Untuk itu, Khalifah Islamiyah akan menerjunkan tim ahli untuk meneliti dan mengkaji langkah-langkah terbaik bagi korban bencana alam. Mereka akan melaporkan opsi terbaik kepada khalifah untuk ditindaklanjuti dengan cepat dan profesional. Inilah kebijakan khilafah islamiyah dalam mencegah dan penanggulangan banjir.Wallahu A’lam bissawab.[]

•Pemerharti  Masalah Sosial Andoolo,Sulawesi Tenggara)

Comment

Rekomendasi Berita