by

Hamsia: Gaza Sambut Ramadhan Dengan Duka

Hamsia
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seluruh umat muslim di   seluruh penjuru dunia tentu menunggu-nunggu waktu Ramadhan tiba. Hari dimana setiap amalan kebaikan akan dilipatgandakan berkali lipat dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Kebahagiaan tentu terpantri dari setiap insan muslim yang menunggu datangnya bulan suci Ramadhan.
Namun, hal ini tidak berlaku untuk warga Gaza, Palestina. Jelang satu hari Ramadhan serangan udara Israel memporak-porandakan pemukiman mereka. Tak hanya itu, kantor media Anadolu pun tak luput dari serangan kejam Israel ini.
Ketenangan untuk menunaikan ibadah puasa pada Ramadhan 1440 H tampaknya belum bisa dirasakan warga Jalur Gaza, Palestina. Mereka diliputi rasa was-was karena gempuran rudal dari militer Israel dalam beberapa hari terakhir ini. Tak berhenti sampai di situ, beberapa menit setelah sholat tarawih dilaksanakan, serangan itu datang lebih dahsyat. Meluluhlantahkan jantung kota Gaza. Diberitakan AFP, hingga Ahad (5/5) malam, roket Israel terus menghantam kawasan Gaza. Akibatnya 23 warga Gaza meninggal dunia. Termasuk diantaranya seorang perempuan yang sedang mengandung dan seorang bayi. Serangan Israel juga menghancurkan markas kantor berita Turki Anadolu.
Serangan dari tank dan rudal udara Israel mulai menggempur Gaza sejak Sabtu (4/5). Militer negara zionis itu berdalih serangan dilakukan sebagai bentuk balasan. Milisi Palestina memang menembakkan roket ke wilayah yang diduduki Israel. Empat WN Israel tewas akibat roket yang ditembakkan dari kawasan Gaza, tiga diantaranya adalah militer.                  
Korban jiwa yang bertambah tampaknya tidak membuat Israel mengendurkan serangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu malah memerintahkan militernya untuk terus menggempur Gaza. “Lanjutkan serangan masif ke elemen teror di Jalur Gaza,” kata Netanyahu. 
Sedangkan kelompok yang menguasai Gaza, Hamas, membuka Peluang gencatan senjata dengan Israel. Pemimpin  Hamas Ismai Hanya mengatakan, situasi bisa kembali tenang jika Israel berkomitmen untuk menghentikan serangan.
Saat ini, militer Israel mengakui sudah menembak ke 320 titik di Gaza. Sasaran tembak disebut sebagai basis milisi. Militer Israel juga menyatakan ada lebih 600 roket dari Gaza yang mengarah ke kawasan Israel, sekitar 150 diantaranya dihalau sistem pertahannya. Meski masih banyak yang tidak terhalau sistem keamanan Israel, hanya 35 roket masuk ke kawasan Urban.  
Ramadhan Berdarah
Kelamnya Ramadhan di Gaza sungguh tidak pernah bisa kita bayangkan. Menjalani hari-hari terbaik di bulan Ramadhan dengan kepungan bom yang sewaktu-waktu merenggut nyawa kita. Sejatinya kehidupan di Gaza adalah kehidupan pengecualian dalam semua detailnya. Blokade yang mencekik selama kurang lebih 13 tahun, kehidupan rakyatnya yang berubah menjadi siksaan dan penderitaan, serta serangan berulang-ulang penjajah Israel yang menyebarkan kematian di mana-mana.
Eskalasi Israel secara biadab yang dilancarkan oleh geng-geng pemerintah penjajah Israel terhadap Jalur Gaza sejak sabtu pagi 4 Mei 2019. Peristiwa ini mengingatkan kembali memori barbarisme, akan pembunuhan terhadap warga palestina di Gaza selama bulan suci Ramadhan pada tahun 2014 di tengah-tengah agresi sengit Israel di Jalur Gaza.
Kala itu, terjadi penghancuran dan pembunuhan sistematis. Pasukan Israel menghancurkan bangunan-bangunan sipil, perumahan dan media, dan serangan itu berlanjutan sehingga Syawal dan merengut lebih dari  2,000 nyawa penduduk Gaza. Hal ini yang juga terjadi sejak sabtu pagi lalu.
Menurut data resmi pada Ahad (5/5) jumlah serangan udara yang dilakukan pasukan Israel sejak sabtu (4/5) sekitar 295 kali gempuran pesawat, artileri dan kapal perang menghancurkan 320 bangunan sipil. Merespon aksi keji tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan memasifkan bantuan ramadhan untuk Palestina. Ibnu Khajar, Vice President ACT menyampaikan sikap ACT terhadap kondisi duka yang dihadapi bangsa Palestina pasca serangan jelang Ramadhan.
“ACT mengecam apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina terlebih di bulan ramadhan yang suci ini. ACT melihat permasalahan ini bukan lagi masalah yang ringan karena sudah berlangsung setiap tahun dengan eskalasi yang semakin meningkat,” ujar Ibnu dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/5/2019). 
Di sisi lain warga Palestina di Jalur Gaza juga menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan kondisi ekonomi yang sangat buruk, dengan tingkat kemiskinan 85%, pengangguran lebih dari 60% untuk kaum muda, dan pendapatan per kapita hanya 2 dolar. banyak keluarga di Palestina di Jalur Gaza tidak tahu bagaimana menghadapi bulan ramadhan dengan segara urusan dan kebutuhan harus mereka urus. Mereka ketakutan dengan suara-suara ledakan bom-bom Israel disaat berbuka dan makan sahur. (PIP).
Hanya Islam yang Bisa
Jika kita flashback kebelakang pada zaman Daulah Islamiyah. Pendeta Sophronius menatap gerbang Yerusalem. Ia gelisah menanti Umar bin Khatab. Ya dengan tegas ia mengatakan, tidak  ada seorang pun yang boleh masuk Yerusalem. Sebelum ia bertemu sang khalifah. Begitu sosok yang ditunggunya tiba, ia terkesima. Terkaget-kaget melihat pemandangan di depan matanya. Penduduk Yerusalem pun dibuat takjub. Sang khalifah namanya ditakuti lawan dan disegani kawan, datang dengan berjalan kaki. Sementara untanya ditunggangi oleh pelayannya. Negoisasi pembebasan Yerusalem berlangsung damai. Negoisasi ini pun dikenal dengan sebutan Umariyah Covenant. Hingga kini kesepakatan itu masih disimpan di Gereja Suci Sepulchre di Yerusalem. 
Itulah sedikit kisah kali pertama Palestina dibebaskan. Benar-benar dibebaskan dalam arti sesungguhnya. Tanpa pertumpahan darah, tanpa ada perampasan harta benda. Bahkan darah, harta, dan kehormatan penduduk Nasrani berada dalam perlindungan  Islam. Itulah kemuliaan Islam yang berada dalam genggaman Sang Khalifah Umar bin Khattab.
Kali kedua Palestina dibebaskan melalui tangan Salahudin Al-Ayyubi tepat pada 2 Oktober 1187, setelah 88 tahun dalam tirani pasukan salib, Palestina akhirnya kembali pangkuan Daulah Islam. Pertempuran Hattin menjadi saksi bagaimana Islam yang dipimpin Salahudin Al-Ayyubi, berhasil menaklukan dan membebaskan kota suci itu dari kezaliman dan kebiadaban Pasukan Salib.
Namun kini, di awal Ramadhan 1440 H, neraka berpindah di atas bumi Palestina. Hingga saat ini Jalur Gaza masih terus membara. Sedih, Ramadhan yang penuh berkah, dilewati dengan duka. Peluru dan rudal menjadi santapan kala sahur dan berbuka. Puluhan syuhada telah meninggalkan bumi Palestina dengan berpuasa.
Sungguh miris, ini kali ketiga Palestina menunggu dibebaskan. Menunggu Sang Khalifah dan Salahudin Al-Ayyubi abad ini. Lalu adakah pemimpin yang seberani Sang Khalifah Umar dan setangguh Salahudin Al-Ayyubi hari ini?
Hari ini kaum muslim dipisahkan oleh sekat nasionalisme semu sejak runtuhnya Khilafah pada tanggal 3 maret 1924. Rasa empati dan peduli terhadap derita kaum muslimin di belahan  dunia yang lain mulai terkikis. Mirisnya, para pemimpin muslim justru bersembunyi dibalik ketiak musuh-musuh Islam. Tangan yang seharusnya diulurkan untuk menolong muslim 
Palestina, justru disembunyikan di belakang punggung mereka.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Palestina tak hanya membutuhkan doa, obat-obatan, makanan, pakaian dan tempat tinggal yang aman dan layak. Namun, lebih dari itu mereka butuh dibebaskan melalui tangan seorang pemimpin yang seberani Umar dan setangguh Al-Ayyubi.
Palestina butuh dibebaskan oleh Sang Khalifah dalam naungan Khilafah. Sebab khilafah adalah simbol persatuan umat Islam. Di mana keberadaannya menjadi alat pemersatu umat diseluruh dunia. Hanya dibawah khilafah, umat ini tiada lagi tercerai berai. Dan disatukan oleh satu ikatan akidah, aturan, pemikiran dan perasaan yang sama yaitu Islam.
Khilafah juga merupakan junnah/perisai. Di mana kaum muslimin berlindung di bawah naungannya. Sungguh hanya Khilafahlah yang akan mengirimkan pasukannya untuk membebaskan palestina dan mengakhiri dominasi Yahudi atas bumi Palestina. Khilafahlah yang akan menjamin dan melindungi pendudu k Palestina sepanjang eksistensinya.Wallahu al’lam bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita