by

Hany Handayani Primantara: Muhasabah di Balik Bencana Alam

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Masih terngiang dibenak kita wilayah Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat  penduduknya ditimpa kemalangan beberapa waktu lalu. Lombok diguncang gempa. Puluhan kali gempa susulan pun mengikuti hingga luluh lantahakan wilayah pariwisata tersebut. Rumah-rumah warga, fasilitas umum roboh, tempat-tempat wisata pun tak luput dari serangan gempa berkekuatan 6,9 SR ini. 
Pasca kejadian, korban jiwa bermunculan. Warga korban gempa yang selamat mengungsi ke gedung-gedung yang masih utuh seperti sekolah serta masjid yang masih kokoh berdiri. Kekurangan air bersih jadi problem, mengingat akses sumber air bersih tertutup longsor akibat gempa. Warga Lombok saat ini butuh banyak pasokan makanan, namun sepertinya pendistribusian bantuan nampak minim dari pemerintah daerah maupun pusat. 
Kejadian gempa di Lombok hingga tulisan ini dibuat pun, belum dinyatakan sebagai bencana nasional. Padahal jika dilihat dari banyaknya korban, serta kerugian material serta nonmateril yang dialami warga amat banyak. Bukan lagi tak memiliki rumah guna tempat tinggal. Mereka pun bingung dengan nasib kedepan, karena mesti membangun semuanya mulai dari awal. Namun dengan kerusakan yang begitu besar para korban tak tahu harus memulai darimana. 
Belum lama gempa terjadi di Lombok kini giliran daerah Istimewa Yogyakarta yang diguncang gempa. Gempa dengan berkekuatan 5,8 SR terjadi pada pukul 01.36.34 WIB lokasi di 8.97 LS, 110.23 BT atau 112 kilometer Barat Daya Gunungkidul hari ini, Rabu (29/8/208).
Dalam Islam, kejadian gempa bukanlah sekedar dipandang sebagai bencana alam. Walaupun memang hal ini erat kaitannya dengan alam. Namun lebih dari itu, alam tak mungkin berguncang dengan sendirinya tanpa faktor sebab. Seorang yang berakal pasti akan berfikir tentang ada apa dibalik kejadian gempa yang bertubi-tubi ini. 
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya, dari situ timbullah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi, “Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat.” [Miftah Daaris Sa’adah, jilid 2 hlm. 630]
Sejalan dengan apa yang Allah sampaikan dalam Quran: “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).
Meninjau dari beberapa keterangan yang telah Allah sampaikan tadi maka ada kaitan erat antara keimanan serta aktivitas penduduk dengan bencana yang Allah turunkan ini. Bagi muslim yang beriman akan berfikir bahwa gempa tersebut adalah sebuah tanda peringatan dari Allah. Teguran bagi para warga, teguran bagi pemerintah daerah maupun pusat sebagai penguasa yang berkewajiban untuk mengelola alam ini agar sesuai dengan apa yang Allah harapkan.
Begitu pula dengan gempa yang terjadi di Yogyakarta. Tak jauh beda, ini adalah sebuah peringatan dari Allah agar penduduk Indonesia segera meninggalkan aktivitas maksiat yang dilarang Allah termasuk aktivitas para penduduknya yang tak lagi berhukum pada hukum Allah. 
Maka jelaslah bahwa yang dimaksud penyebab kerusakan alam tersebut bukan hanya aktivitas manusia yang berkaitan dengan alam secara langsung, seperti penebangan pohon secara masal ataupun merusak lautan hingga biota laut semakin menipis. Melainkan perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia kepada Allah.
Imam Abul ‘Aliyah ar-Riyaahi berkata, “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi maka (berarti) dia telah berbuat kerusakan padanya, karena perbaikan di muka bumi dan di langit (hanyalah dicapai) dengan ketaatan (kepada Allah Ta’ala)”.
Imam asy-Syaukaani pun ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirik dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta”.
Dari berbagai keterangan tersebut, masihkah kita jumawa dengan apa yang Allah timpakan di negeri tercinta ini? Haruskah Allah turunkan azab dan bencana lebih besar lagi agar kita berfikir dan bertaubat? Naudzubillah… Semoga dengan adanya bencana kita makin ingat akan maksiat dan segera bertobat ke jalan-Nya.[]

Hany Handayani: Momentrepreneur
Aktif: di dunia kepenulisan Revowriter

Comment

Rekomendasi Berita