by

Hawilawati, S.Pd*: Ni Hao Dan Catatan Kecil Perjalanan Bocah Indonesia Di Mesir

Hawilawati, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam sebuah perjalanan pulang sekolah seorang bocah Indonesia di Mesir menggunakan bus, panas terik terasa menampar jarak dua jam perjalanan yang cukup melelahkan. Turun di sebuah halte yang dipenuhi  tebalnya debu gurun pasir nan terik lagi gersang. 
Tak tampak pedagang di tepi jalan yang menjajakan makanan atau minuman seperti di Indonesia. Namun, syukur dan alhamdulillah Alfi, sebut saja sang bocah demikian, sudah membawa persediaan air mineral cukup sebagai bekal. 
Berhenti di sebuah tempat, sang sopir dan kondektur bis berkebangsaan Mesir itu dengan semangat membuka perbekalan mereka dan bertanya kepada Alfi, bocah asal Indonesia yang berada dalam bus tersebut. 
“Hal anta Shiny? ” Tanya sang pengemudi kepada Alfi penuh keakraban. Kalau ditranslasi maksud pengemudi bus itu bertanya apakah kamu orang China? 
“Laa ana Indunisy…,”  Ujar Alfi. Tidak, aku orang Indonesia.
“Hayya na’kulu jami’an!” (Ayo, kita makan bersama), ajak sang pengemudi.
“Afwan, ana syabi’tu”, Maaf, saya sudah kenyang, Ujar Alfi.
“Hayya na’kulu jami’an” Ayolah kita makan bersama, bujuk sang pengemudi kembali.
Mereka beberapa kali memaksa untuk mengajaknya makan. Begitulah tipikal penduduk setempat yang menghias perilaku santun dan ramah. Siapapun disapa dan diajaknya makan bersama .
Lanjut perjalanan, bocah-bocah ramai, bermain kelereng dan berkejar-kejaran  di lorong  jalan Giza,. Alfi berpapasan dengan pandangan bocah yang begitu tajam.
“Ni Hao….Ni Hao…” Salah seorang bocah menyapa Alfi sambil memegang perutnya. 
Alfi mencoba memahami gelagat anak tersebut. Alfi menerjemahkannya sesuai apa yang dipahaminya. Hemm dipikirnya bocah-bocah Giza itu lapar dan ingin meminta sesuatu. Alfi pun bergegas untuk membeli 2 bungkus makanan.
“Khudz, Hadza tho’am!” Ujar Alfi kepada bocah bocah yang ditemuinya di Giza itu. “Ambillah makanan ini.”
Namun, bocah tersebut menggelengkan kepala sambil berucap, “Ana laa a’kul haadza”, Saya tidak makan ini.
Dengan bersabar, Alfi kemudian bertanya, “Maadza Turiidu ?” ( Apa yang kamu mau)
“Ana uriidu wahiid junaih”, “Yang aku mau, uang 1 Pound,” Ujar sang bocah. Ternyata bukan makanan yang diinginkan bocah bocah Giza itu melainkan uang sebesar 1 Pound.
Tanpa berpikir lama, Alfi memberikan uang sebesar 5 pounds plus sebungkus makanan yang sudah terlanjur dibelikan. Bocah Giza itu pun bersorak gembira dengan 5 Pound uang pemberian Alfi sambil memanggil kawan – kawan lain untuk berbagi.
Ada yang menarik dari percakapan antara Alfi dan para bocah di Giza, Mesir ini. Bagi mereka, orang yang mempunyai fisik Asia itu dianggapnya orang China padahal warga Asia lainnya seperti Indonesia dan Malaysia banyak dijumpai.
Mengapa ini terjadi? Mengapa bocah bocah itu begitu fasih melafalkan ucapan “Ni Hao” di negeri Mesir ini? Apakah karena perdagangan China yang meluas di sana yang membuat orang Mesir lebih mengenal orang China? Menyedihkan, karena kekurangan tahunya tentang Indonesia, mereka ada yang bertanya, “Letak Indonesia di sebelah mananya China?”. Sebuah pertanyaan yang sangat menohok dan menyayat hati.
Tak dipungkiri, kini souvenir atau produk khas Mesir pun banyak yang bukan buatan  asli dalam negeri, kebanyakan Made in China, layaknya di Indonesia – mulai dari peniti sampai perabot rumah tangga dibanjiri oleh produk China.
Itulah sekelumit  catatan kecil di negeri piramid, setiap orang asing yang datang ke sana selalu disangka keturunan China.  Sapaan “Ni Hao” menjadi sesuatu yang lumrah didengar. Sebegitu besarnya pengaruh China di sana; anak-anak lebih familiar dengan sebutan “Ni Hao” ketimbang “Hello” atau “Apa kabar”.
Ni Hao OBOR?
One Belt One Road (OBOR) merupakan proyek yang diinisiasi China untuk mempermudah koneksi dagang antar-negara di Eropa dan Asia melalui jalur sutra maritim.
Bersiaplah  kelak jika perjanjian OBOR  ini terus diberi angin segar oleh pemangku kekuasaan, maka kitapun akan lebih familiar  mendengar sapaan Ni Hao dibanding “gimane kabarnye”, “Kumaha kabarna”,  “Priben kabare”, “Piye kabare” atau “Apa kareba”.
Untuk sebatas sapaan, mungkin tidak masalah dan tak perlu dirisaukan.  Justru yang harus dirisaukan jika  kelak terjadi  perpindahan produk, jasa, tenaga, budaya bahkan ide-ide secara besar-besaran ke pusat kota, ke perkantoran, ke industri, ke pasar-pasar, ke kampung-kampung wilayah Indonesia, kita akan lebih banyak menemui segala sesuatunya yang berbau Tionghoa, ketimbang produk lokal dan kaum pribuminya sendiri. 
Dimana produk lokal dan kaum pribumi? Produk lokal tergerus dengan produk China sementara  kaum pribumi  termarginalkan dan mengais rezeki di negeri orang menjadi TKI dan TKW rumah tangga.
Kemana orang cerdas pribumi? Ditarik dalam proyek-proyek besar negara Eropa yang lebih dihargai hingga pada akhirnya banyak  orang cerdas stay dan bekerja untuk negara lain.
Ironisnya, sebagai negeri yang kaya raya ini hanya menjadi  dongeng sebelum tidur saja. Anak cucu kita tidak akan merasakan nikmatnya hidup di negeri yang kaya dengan  SDA yang melimpah ini. Kondisi yang terjadi justeru bayi-bayi lahir menanggung utang akibat kebijakan  penguasanya yang melampaui batas. Bahkan  hampir sebagian besar SDA dilelang dan dijual yang kini telah terpancang bendera asing dan aseng, status dalam sistem kapitalis bukan lagi milik Indonesia.
Swastanisasi atau privatisasi menjadi jeruji besi nan tebal bergembok terhadap area SDA, yang kita tak akan bisa masuk untuk  mengeksplorasi dan  menikmati kekayaan alam negeri kelahiran  kita sendiri.
Ibu Pertiwi kaya, namun rakyat tak bisa menikmatinya bahkan kita asing di tanah kelahiran sendiri, dan menjadi  jongos di negeri sendiri. Sungguh memilukan. China kian bernafsu menancapkan hegemoninya ke negara-negara tiga benua sampai  ke pelosok Indonesia  yang siap mematikan mangsanya seperti itik mati di lumbung padi.
Lalu, di manakah letak cintamu kepada NKRI wahai penguasa,   jika welcome dengan kaum imperialis, bahkan  berusaha legowo terhadap  jeratan OBOR yang akan membuat lembaran-lembaran kisah pilu hingga sad ending bagi generasi kini dan yang akan datang?
Owh penguasa, janganlah kau menambah derita negeri ini, akankah dirimu menjadikan kisah subur negeri nan elok ini dengan  bad story layaknya Angola, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan dan Sri Lanka?
Belajarlah dari pengalaman pahit Zimbabwe yang memiliki utang sebesar 40 juta dollar AS kepada China. Sebagai imbalan penghapus utang akhirnya Zimbabwe harus dengan rela mengganti mata uangnnya menjadi Yuan.
Begitupun Srilanka, diketahui bahwa  China telah membiayai proyek pelabuhan Hambantota yang terletak di pantai Selatan Sri Lanka melalui bantuan utang sebesar US$ 1,5 miliar. Bantuan tersebut diberikan pada tahun 2010. Bantuan itu diberikan untuk membangun infrastruktur dalam rangka mempermudah hubungan ekonomi bilateral Srilanka dan China.
Namun, pada 2017 Sri Lanka harus merelakan pelabuhan tersebut kepada China karena tidak mampu membayar utangnya. Keputusan tersebut dilakukan dengan menandatangani kontrak untuk melayani perusahaan milik negara China selama 99 tahun. Itu artinya Srilanka tak bisa membayar utang dan oleh karen itu negara jaminannya. Sungguh ini merupakan jeratan penjajahan secara lunak. 
Suatu saat akan hadir duka dan penyesalan yang mendalam, mengapa duduk akrab layaknya sahabat dengan kaum imperialis, sementara para ulama dan umat Islam yang mencintai negeri ini telah vokal mengingatkan kebijakan sang pemangku kekuasaan yang melampaui batas, namun justru disambut dengan persekusi. Sungguh ironis negriku.[]

*Pendidik di STP-Khairu Ummah, Ciledug, Tangsel.

Comment

Rekomendasi Berita