by

Henyk Nur Widaryanti: Kisah Cinta Dua Dunia “TKA Dan Rakyat Indonesia”

Hennyk Nur Widayati.[Dok/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – NKRI harga mati. Begitulah kira-kira slogan yang selama ini sering digaung-gaungkan. Menggambarkan bahwa NKRI memiliki kedaulatan, sudah final, tidak bisa ganti lagi. Makna tersiratnya negeri ini adalah milik Indonesia, dan akan selamanya ada untuk rakyat Indonesia. Namun, tong kosong nyaring bunyinya. Air beriak tanda tak dalam. Slogan tersebut hanya berlaku untuk menjaga kepentingan belaka. 
Sebagaimana berita yang setiap hari kita santap. Isu mengenai TKA menjadi momok bagi bangsa sendiri. Apalagi setelah disahkan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018, menambah suram masa depan rakyat. Kasus jatuhnya helikopter yang mengangkut penumpang berkebangsaan China yang merupakan tenaga kerja PT. IMIP Sulawesi Tengah. Bahkan tidak segan-segan, ternyata PT tersebut diberitakan telah mempekerjakan  3.000 TKA asal China (platmerah.com/210418). 

Belum lagi dikabarkan sehari ada dua pesawat yang membawa TKA masuk Indonesia (portalislam/200418). Indonesia menjadi sorotan dunia. Setelah tersiar kabar bahwa pemerintah ingin mengimpor tenaga kependidikan (dosen) dari luar. Upaya tersebut dilakukan demi meraih prestasi internasional. Pemerintah tidak segan-segan menyiapkan anggaran 300 M untuk gaji dosen asing (republika.co.id/180418).
Kebijakan pilu bagi rakyat Indonesia. Mereka akan gigit jari di negeri sendiri. Padahal kondisi rakyat sendiri sedang dalam keprihatinan. Banyak pengangguran, masih ada yang butuh kerjaan. Namun, kondisi itu seakan tak tertangkap oleh pemimpin negeri ini. Akan kemanakah nasib bangsa ini? Inikah yang dinamakan nasionalisme sejati? 

Nasionalisme seakan hanya berlaku saat merasa terancam kepentingannya sendiri. Nasionalisme ternyata tidak bisa melindungi bangsa ini dari serangan luar negeri. Bisa dibayangkan banyaknya TKA akan menyingkirkan anak negeri. Padahal SDM negeri ini cukup banyak, mereka pun juga berprestasi. Namun mereka rela mengantri di bursa-bursa kerja, demi mencari sesuap nasi. 
Bagaimana kah solusi permasalahan ini? Dalam Islam sesungguhnya juga mengatur penggunaan TKA. Sistem Islam, dalam upaya memenuhi kebutuhannya akan membuat berbagai pabrik ataupun departemen. Seperti perindustrian yang akan mendukung kokohnya suatu bangsa. 

Tentunya akan diperlukan banyak ahli dalam bidang ini. Tenaga kerja yang akan dimasukkan akan diambil dari para intelektual muslim atau non muslim yang merupakan penduduk negara sendiri. Perekrutan ini akan dimaksimalkan, hingga jika masih ada kekurangan baru mencari tenaga ahli dari luar. Itupun jumlahnya terbatas, hanya sesuai keperluan. 

Sehingga negara dapat memenuhi kewajiban nya kepada rakyat untuk menyiapkan lapangan pekerjaan. Pemerintah dalam Islam tidak akan mau dipaksa untuk memasukkan TKA tanpa kebutuhan. Islam memberikan penjelasan bahwa tugas pemimpin adalah mengurusi urusan rakyat. 

Pekerjaan salah satu urusan rakyat. Sehingga pemimpin wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat. Semoga pemimpin kita saat ini segera memahami, bahwa tugasnya menjadi pemimpin adalah untuk rakyatnya bukan untuk rakyat negeri lain. Rakyat tidak membutuhkan slogan, rakyat hanya butuh pemimpin yang taat syariat dan bisa membuktikan dengan kebijakan. Wallaahua’lam.[]

Penulis adalah seorang dosen di Jawa Timur

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 2 =

Rekomendasi Berita