![]() |
| Indah Ummu Izzah |
Mengapa banyak anak muda yang terlibat dalam tawuran. Padahal tawuran tidak mendatangkan keuntungan sama sekali. Bahkan lebih banyak kerugian yang diakibatkan olehnya. Tidak sedikit pelaku tawuran mengalami luka parah bahkan meregang nyawa.
Remaja atau anak muda biasanya cenderung berkelompok. Membuat sebuah geng. Baik itu geng sekolah, yaitu sekumpulan pelajar laki-laki maupun perempuan. Dengan berbagai macam tujuan. Ada geng modis, kutu buku sampai geng preman sekolah. Juga ada geng anak jalanan, yaitu sekumpulan anak muda yang biasanya putus sekolah. Anak-anak putus sekolah turun ke jalan. Berkumpul dengan anak jalanan. Akhirnya membentuk sebuah geng. Apakah itu geng anak punk atau geng pak ogah. Kelompok ini sangat rentan dengan perkelahian antar geng. Ketika ada anggota suatu geng menyentil perasaan geng lain. Maka hal inilah yang biasanya memicu perkelahian. Kadang hanya masalah sepele. Tapi gengsi adalah harga mati.
Faktor lainnya adalah broken home. Hancurnya tatanan rumah tangga, menjadikan anak sebagai korbannya. Kasih sayang hilang. Anak pun akhirnya terlantar. Terkatung-katung mencari perhatian. Dan berakhir pada eksistensi diri yang salah. Termasuk berkumpul dengan remaja lain yang mempunyai masalah yang sama.
Di era milenial ini ternyata masih saja marak kasus tawuran yang melibatkan anak-anak muda. Sebagaimana yang dilansir oleh TribunNews.com, 23/11/2018. Bahwa telah terjadi tawuran dua kelompok di depan Pasar Mitra Jembatan Lima, Tambora, selasa (20/11/2018). Hal ini dipicu oleh tantangan kelompok Gempas kepada kelompok Pulau Nyamuk melalui media sosial. Tawuran membuat dua pemuda dari kelompok Pulau Nyamuk mengalami luka tusuk. Sebanyak 20 orang yang terlibat tawuran di Tambora, Jakarta Barat, 13 diantaranya masih dibawah umur.
Bahkan kasus ini cenderung meningkat ditahun 2018. Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mencatat kasus tawuran di Indonesia meningkat 1,1 persen sepanjang 2018. Komisioner Bidang pendidikan KPAI Retno Listiyarti mengatakan, pada tahun lalu, angka kasus tawuran hanya 12,9 persen, tapi tahun ini menjadi 14 persen.Tempo.co, 12/9/2018.
Tawuran, Buah Sistem Kapitalisme
Kapitalisme menyebabkan orangtua abai dalam proses pendidikan anak. Padahal keluarga adalah basis pendidikan utama. Rumah sejatinya adalah madrasah bagi anak. Kapitalisme menyebabkan beban hidup setiap keluarga begitu berat, sehingga harus memeras otak dan banting tulang dalam mencari kehidupan. Sibuk mengejar materi. Menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah.
Peran ibu sebagai pendidik utama tak lagi memberikan perhatian dan kasih sayang. Tidak bisa memberi arahan akan kehidupan yang harus dicapai oleh anak-anaknya. Akhirnya, anak terdidik dengan televisi, internet, dan HP. Padahal dari media-media itulah anak mendapatkan pengaruh buruk tentang pergaulan, kekerasan, dan aktivitas kriminal lainnya. Anak sudah tidak mengenal kasih sayang sejati dalam rumahnya. Dan justru mendapatkan perhatian dari teman, geng, dan komunitas lain di jalanan.
Sementara itu, sekolah sebagai institusi pendidikan alih-alih mencetak remaja yang berkualitas. Memiliki kepribadian yang kuat sesuai dengan tujuan pendidikan. Justru menghasilkan remaja yang banyak masalah. Padahal pemerintah telah menetapkan tujuan pendidikan nasional yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa serta berkembangnya potensi diri yang optimal. Memang seharusnya seperti itulah proses pendidikan. Melahirkan pelajar yang mempunyai kepribadian yang berasal dari keimanan dan ketakwaan yang tinggi. Serta memiliki kemampuan berbasis kompetensi yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kelak.
Hanya saja, sistem pendidikan saat ini adalah sistem pendidikan sekuler kapitalistik. Membentuk pelajar yang hanya mengejar nilai. Tanpa peduli nilai qurani. Materi agama yang waktunya hanya dua jam. Sangat tidak relevan dengan tujuan membentuk insan yang mu’min-muttaqin. Rohis sebagai wadah untuk menambah nilai-nilai agama pun telah pudar pesonanya seiring isu negatif. Kata iman dan takwa tidak mewujud dalam kenyataan.
Belum lagi berbicara kualitas guru. Dalam sistem kapitalisme, guru tidak hanya terbebani oleh setumpuk bahan ajar. Mereka juga dipusingkan dengan beban hidup yang semakin mencekik. Sementara penghargaan pemerintah jauh dari nilai layak untuk para pendidik ini. Akhirnya, proses belajar mengajar hanya pemenuhan kewajiban saja. Belum lagi metode pengajaran hanya mengedepankan transformasi ilmu. Mengabaikan transformasi positif yang menjadi suri teladan.
Solusi Tawuran, Kembali kepada Islam
Ghirah atau semangat membentuk sebuah kelompok dikalangan anak muda, sudah ada sejak generasi awal Islam. Sebagaimana Rasulullah SAW membentuk kelompok para sahabat. Rasulullah SAW membina kelompok para sahabat ini di rumah Arqam. Mayoritas sahabat dikala itu masih muda belia.mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Zubair bin al-Awwam, ‘Abdullah bin Mas’ud, Sa’ad bin Abi Waqqas, Ja’far bin Abi Thalib, Mas’ud bin Rabi’ah. Dan sejumlah sahabat Rasul lainnya. Di rumah Arqam inilah Rasulullah SAW membina para sahabat dengan tsaqofah Islam. Serta membentuk akal dan jiwa Islami para sahabat.
Demikian pula yang terjadi pada generasi setelahnya. Generasi pemuda Islam disibukkan dengan ketaatan. Hari-harinya dihabiskan dngan aktivitas ibadah. Membaca, mendengar, dan menghafal Quran, hadis, dan kitab-kitab tsaqofah para ulama. Dan berdakwah di tengah-tengah umat. Imam Nawawi misalnya, menghasilkan berjilid-jilid kitab. Bahkan Imam Ahmad, bisa mengumpulkan dan hafal lebih dari satu juta hadis. Imam Bukhari juga demikian. Generasi pemuda Islam juga melakukan perjalanan mencari ilmu, serta berjihad di jalan Allah. Meninggikan kalimat Tauhid.
Karena generasi muda adalah generasi penerus peradaban. Calon pemimpin masa depan suatu bangsa. Maka semua pihak harus terlibat dalam proses pendidikannya. Juga mengambil peran dalam pembentukan kepribadiannya. Baik sekolah, keluarga, masyarakat, dan negara. Semuanya harus bersinergis mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan remaja yang beriman dan bertakwa serta mengembangan potensi diri dengan optimal.
Keluarga harus mengambil perannya sebagai institusi pertama dan utama. Melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak. Dari rumahlah pertama kali dasar-dasar keIslaman ditanamkan. Tempat dimana orangtua mengenalkan Allah SWT kepada anak. Orangtua wajib mendidik anak-anaknya dengan perilaku dan budi pekerti yang sesuai dngan ajaran Islam. Dibiasakan memilih kalimat-kalimat yang baik, sopan santun dan kasih sayang kepada sesama. Orangtua menjadi role model penerapan syariat Islam dalam rumah. Sehingga anak terbiasa mengedepankan perkara halal haram dalam memilih atau menyelesaikan suatu masalah. Hal inilah yang akan membentuk pribadi anak yang shaleh dan terikat dengan aturan Islam.
Allah SWT berfirman, yang artinya “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah para malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah atas apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”(QS At Tahrim:6)
Masyarakat juga memiliki peran dalam pembentukan generasi remaja. Karena remaja adalah bagian dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan remaja. Masyarakat memiliki peran penting sebagai kontrol sosial. Tatkala masing-masing anggota masyarakat memandang betapa pentingnya suasana kondusif dalam pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka semua orang akan sepakat mana perkara-perkara yang membawa pengaruh positif dan mana yang membawa pengaruh negatif bagi pendidikan generasi. Perkara yang membawa pengaruh negatif akan dicegah bersama.
Peran paling penting dan strategis bagi pendidikan generasi muda, ada pada negara. Yaitu melalui pembentukan sistem pendidikan. Kurikulum pendidikan harus dikembalikan pada asasnya yaitu aqidah Islam yang menjadi arah dan tujuan pendidikan. Negara juga harus menyediakan sarana pendidikan yang baik dengan harga murah sehingga dapat mengatasi kasus anak putus sekolah. Serta mempersiapkan tenaga pengajar yang handal dibidangnya masing-masing. Bukan hanya handal tetapi juga memiliki kepribadian Islam yang baik dan dapat menjadi teladan bagi generasi.
Negara juga harus mengontrol dan menetapkan aturan terhadap media-media yang diakses oleh remaja. Memastikan bahwa media-media tersebut tidak keluar dari rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Sehingga generasi tidak akan terpapar oleh pornografi, pornoaksi, konten kekerasan dan konten-konten perusak lainnya.
Walhasil, generasi muda saleh dan berpikir cemerlang, tidak akan terwujud dalam sistem kapitalis. Hanya dengan kembali kepada Islam dan menerapkan segala aturannya dalam kehidupan. Termasuk masalah pendidikan generasi muda. Maka kita akan menemukan generasi layaknya para sahabat dan orang-orang saleh setelahnya. Generasi yang memiliki pemahaman agama yang baik dan terikat dengan aturan Rabb Pencipta Alam. Oleh karena itu, agar generasi muda tidak terseret kedalam arus kemaksiatan. Mengerjakan kesia-siaan. Maka mereka harus disibukkan dalam kataatan. Mereka harus diarahkan untuk banyak mengkaji Islam melalui pembinaan intensif. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat dan generasi-generasi shaleh setelahnya. Wallahu a’lam bisshawab.[]
Penulis adalah pemerhati anak dan keluarga















Comment