Penulis: Vie Dihardjo | Guru BK dan Alumnus Hubungan Internasional
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Suasana kemenangan Idul Fitri selalu menghadirkan suka cita. Takbir menggema di masjid-masjid, hati terasa ringan setelah menunaikan ibadah Ramadan. Namun, di balik euforia tersebut, tersimpan ironi yang tak bisa diabaikan: kemenangan yang dirasakan secara individual belum sepenuhnya terwujud secara kolektif dalam kebersamaan umat.
Fenomena perbedaan penetapan 1 Syawal kembali terulang setiap tahun. Sebagian umat merayakan Idul Fitri, sementara sebagian lainnya masih berpuasa.
Perbedaan ini kerap dianggap wajar karena adanya ragam metode penentuan awal bulan Hijriah, seperti rukyatul hilal (pengamatan bulan) dan hisab (perhitungan astronomi). Kedua metode ini memiliki landasan kuat dalam tradisi keilmuan Islam dan mencerminkan keluasan syariat.
Namun demikian, realitas ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar – apakah perbedaan ini semata-mata persoalan khilafiyah, atau justru mencerminkan problem serius dalam persatuan umat?
Perbedaan Khilafiyah dan Tantangan Persatuan
Idul Fitri sejatinya menjadi simbol persatuan umat Islam. Akan tetapi, realitas yang terjadi justru menunjukkan fragmentasi. Takbir tidak serentak menggema, dan kebersamaan terasa terbelah. Kondisi ini bukan hanya persoalan metode, melainkan juga berkaitan dengan ketiadaan otoritas dan kepemimpinan tunggal yang mampu menyatukan keputusan umat.
Dalam konteks ini, perbedaan yang semestinya berada dalam ranah khilafiyah berpotensi meluas menjadi indikator lemahnya persatuan umat. Terlebih, pengaruh sistem sekuler turut membentuk cara pandang yang memisahkan antara ibadah individual dan pengelolaan urusan kolektif.
Ibadah dipandang sebagai ranah privat, sementara urusan publik, termasuk penetapan hari besar keagamaan, diserahkan pada otoritas masing-masing negara.
Akibatnya, umat Islam yang hidup dalam sistem negara-bangsa (nation-state) tidak memiliki satu otoritas global yang dapat mengikat keputusan bersama. Setiap negara menetapkan kebijakan sendiri, termasuk dalam urusan keagamaan. Kondisi ini memperkuat fragmentasi dan menjadikan perbedaan sebagai sesuatu yang terus berulang.
Toleransi Bukan Satu-satunya Solusi
Toleransi terhadap perbedaan memang penting, namun tidak cukup untuk menyelesaikan akar persoalan. Umat Islam perlu membangun kembali kesadaran kolektif bahwa persatuan bukan sekadar nilai moral, melainkan kebutuhan mendasar.
Kesadaran ini harus melampaui batas teritorial, kepentingan politik, dan sekat-sekat sistem yang memecah belah. Tanpa perubahan cara pandang, perbedaan penetapan Idul Fitri akan terus terjadi, bukan hanya sebagai perbedaan metode, tetapi sebagai cerminan persoalan persatuan yang belum terselesaikan.
Idul Fitri sebagai Momentum Persatuan
Ramadan sejatinya telah melatih umat Islam dalam ritme yang sama: berpuasa di siang hari dan berbuka pada waktu yang serupa.
Ini bukan sekadar ritual ibadah, melainkan latihan menuju kebersamaan. Maka, Idul Fitri seharusnya menjadi puncak dari persatuan tersebut.
Allah SWT berfirman:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).
Dalam sejarah Islam, penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal tidak semata persoalan teknis rukyat atau hisab, melainkan juga terkait dengan otoritas kepemimpinan umat.
Para ulama fiqih menegaskan bahwa keputusan pemimpin memiliki kekuatan mengikat bagi seluruh kaum muslimin, sehingga dapat mencegah perpecahan.
Secara fiqih, metode rukyat memiliki dasar dari sabda Rasulullah ﷺ:
“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Meski demikian, para ulama juga menekankan pentingnya keberadaan kepemimpinan yang memiliki kapasitas dalam konteks personalitas dan kualitas keilmuan yang mampu menyatukan keputusan umat secara global.
Hal ini bukan untuk menghapus perbedaan ijtihad, melainkan untuk menghadirkan satu keputusan yang menjadi rujukan bersama.
Penetapan 1 Syawal bukan sekadar persoalan teknis ibadah, melainkan juga menyangkut kepemimpinan dan pengelolaan urusan umat secara kolektif. Idul Fitri seharusnya menjadi refleksi pentingnya persatuan, bukan sekadar perayaan kemenangan individu.
Momentum ini semestinya mendorong umat Islam untuk tidak hanya kembali pada kesucian diri, tetapi juga berupaya membangun kebersamaan yang lebih kokoh. Wallahu a’lam bishshawab.[]














Comment