by

Kartiara Rizkina Murni: Hipokrisi Demokrasi

Kartiara Rizkina Murni
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tahun ini pemilu dan pilpres dengan tensi terpanas. Penyelenggaraan pemilihan umum 2019 di sejumlah daerah mengalami banyak kendala. Mulai dari masalah distribusi logistik, kekurangan suarat suara, kerusakan kotak suara, kerusakan surat suara, hingga surat suara yang tercoblos lebih dulu. Deretan kasus ini menunjukkan pihak KPU gagal menjamin pemilu yang berjalan. Dilansir dari Tirto.id, setidaknya ada belasan kabupaten/kota yang terhambat melaksanakan pemilu karena maslah logistik. Selain itu banyak muncul di media-media, baik media televisi, media cetak atau media sosial yang memberitakan perihal banyaknya kecurangan-kecurangan yang terjadi. KPU di nilai benar-benar gagal dalam mengatasi pemilu tahun ini. 
Lain cerita nya dari kedua kubu paslon, masing-masing mereka mengklaim  dirinya yang menang. dari kubu 02 yakni Prabowo-Sandi yang menyatakan mereka menang unggul di 18 provinsi. Sementara kubu 01 yakni Jokowi-Ma’aruf yang juga menyatakan mereka menang berdasarkan hasil quick count dari lembaga survei Charta Politika (bbc.com 78/4/2019). Hingga saat ini hasilnya masih simpangsiur,  tapi pihak KPU menegaskan agar  masyarkat untuk tidak termakan isu tersebut, dan di minta bersabar menunggu hasil dari KPU sendiri. 
Jika membahas kecurangan dalam pilpres, sebenarnya tidak hanya terjadi di tahun ini saja. Pemilihan sebelumnya pada tahun 2014 juga terdapat kecurangan, namun memang tidak separah di pilpres tahun ini. Polemik di pilpres sebelumnya di tambah lagi dengan meninggalnya ketua KPU 2014 Husni Kamil Manik, kepergian almarhum secara mendadak sontak menimbulkan tanda tanya. Banyak pihak yang merasa terkejut dan kaget, sehingga timbul banyak isu mengenai kepergian HKM.
Membahas banyaknya kecurangan baik dalam pilpres ataupun pemilu merupakan bukti nyata mengenai kebobrokan demokrasi. Dan permasalahn di atas merupakan wajah dari sistem Demokrasi, melahirkan akidah yang di bangun atas sekulerisme, menciptakan peradaban Machiavillisme yakni tentang kenegaraan dan pemerintahan yang menganggap segala sesuatu yang di lakukan demi pemerintahan dan negara, apapun itu, adalah sah dan baik di lakukan. Machiavillisme juga menjadi dasar sebuah pemerintahan yang absolut dan otoriter. Sehingga kecurangan-kecurangan ini adalah dari Machiavillisme yang mereka gunakan. Artinya sistem Demokrasi gagal dalam mengatur kenegaraan dan kepemerintahan, Demokrasi telah gagal memberikan solusi, menghadirkan orang-orang yang rusak akhlak dan pemahamannya. Lalu, akan seperti apa jadinya Indonesia kedepan jika sistemnya masih seperti ini. 
Kisruh pemilu 2019 membuktikan bahwa kita ataupun rakyat tidak bisa lagi berharap bahwa pemilu dan pilpres benar-benar menjadi solusi terbaik untuk melakukan perubahan. Seperti kecurangan-kecurangan dalam pemilu, dan ini jelas melanggar UU nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu. Kita lihat kembali, siapa yang membuat aturan tersebut? Tentau saja mereka, maka wajar jika mereka melanggarnya. Hiprokrit Demokrasi dengan slogan dari-oleh-untuk-rakyat tidak pernah benar-benar terbukti. Padahal dana yang digunakan untuk pemilu dan pilpres adalah uang rakyat, tenaga rakyat, dan itu bukan dana yang sedikit. Tetapi hanya sebagai sarana bagi korporasi dan rezim untuk menguasai rakyat. 
Jika akar permasalahannya adalah di sistemnya, maka ganti presiden bukanlah solusi tuntas. Tidakkah cukup segala permasalahan yang kita alami ini menjadi alasan kita untuk tidak lagi mempertahankan sistem Demokrasi? Saatnya kita mengganti sistem dengan sistem yang lebih baik yakni sistem islam, dengan sebutan sistem Khilafah, sandaran aturannya ialah Al-Quran dan Assunah. Tidak ada dalam sejarah kepemimpinan khilafah mengenai adanya kecurangan dalam pemilihan khalifah. Maka jelas dalam khilafah menciptakan peradaban yang gemilang, menghadirkan pemimpin-pemimpin taat dan jujur.
ما من عبد يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة
“Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati dalam keadaan berbuat curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah akan mengharamkan atasnya surga.” (HR Muslim).[]

Comment

Rekomendasi Berita