by

Kedudukan Dan Kemuliaan Perempuan Dalam Bingkai Islam

-Opini-64 views

Oleh: Mutiara Aini*

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Berbicara tentang perempuan adalah sesuatu yang menarik di tengah iklim demokrasi patriarki. Kemampuan untuk menyuarakan pendapat serta cara pandang demokrasi “ala” perempuan adalah sesuatu yang harus dimiliki para perempuan masa kini.

Belum lama ini, Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Girls Leadership Class menyampaikan kekhawatirannya terhadap kaum perempuan. Ia menyatakan bahwa, banyak negara di dunia termasuk Indonesia yang hingga saat ini masih memposisikan perempuan di posisi yang tidak jelas (Minggu 20/12/20).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun mencontohkan, di beberapa negara, bayi perempuan yangyy lahir tidak bisa langsung mendapatkan sertifikat atau akte kelahiran. Di sisi lain, tidak semua negara memprioritaskan anak perempuan untuk mendapatkan imunisasi.

Dalam konteks kehidupan  keluarga dengan keterbatasan ekonomi, maka yang kan didahulukan untuk mendapatkan akses pendidikan adalah anak laki-laki.

Kemudian jika dia sudah bekerja, tidak boleh memiliki rumah atau toko atau usaha atas nama perempuan, harus atas nama laki-laki.

Dia pun mengatakan berdasarkan hasil studi Bank Dunia, ada lebih dari 150 negara memiliki aturan yang justru membuat hidup perempuan lebih susah. Benarkah demikian?

Lantas, apakah 150 negara yang memiliki aturan buruk bagi buruh perempuan, tidak dialami buruh laki-laki? Apakah buruh laki-laki lebih terjamin kesejahteraannya dari buruh perempuan?

Kenyataannya baik laki-laki atau perempuan sama-sama tidak menemui kesejahteraan dalam sistem ekonomi kapitalis yang telah rapuh ini.

Eksploitasi Perempuan Dalam Kapitalisme

Kapitalisme terbukti menciptakan kesenjangan dan kemiskinan. Lapangan kerja yang minim bagi laki laki, melambungnya harga bahan pokok,dan tingginya biaya hidup membuat jutaan perempuan tak punya pilihan lain selain bekerja menyambung hidup menjadi PRT di negeri orang.

Para kapitalis lebih condong dan menaruh minat lebih terhadap perempuan sebagai tenaga kerja tekun dan murah tanpa mempertimbangkan bahwa perempuan termasuk kalangan rentan yang mengalami resiko kekerasan fisik maupun seksual lebih besar dari pada masyarakat umum lainnya.

Inilah bentuk deskriminasi terhadap kaum perempuan saat ini. Semua masalah ini, lahir dari penerapan sistem sekuler yang terbukti gagal mensejahterakan perempuan. Kerusakan dalam kehidupan ekonomi,  politik, sosial dan budaya bersumber dari implementasi sekuler yang sangat lemah.

Bangsa bangsa di dunia ini, mungkin termasuk Indonesia juga di dalamnya – menganggap bahwa kesulitan yang dihadapi perempuan muslim di sebuah negara lain bukanlah bagian kesulitannya.

Masalah kemiskinan perempuan dan perbudakan melalui batasan pembagian kekayaan dan sumber daya alam. Mereka abai terhadap persoalan sesama muslim yang tinggal dan hidup di negara lain dan bukan menjadi perhatian apalagi sebagai tanggung jawabnya.

Maka, tidaklah heran jika kasus pelecehan seksual terhadap perempuan semakin meningkat baik di skala nasional maupun di level dunia.

Dari sini kita dapat menilai pergantian dan perubahan posisi pejabat saja tidak cukup. Pangkal masalahnya bukan pada sosok penguasa, melainkan pada sistem sekular yang telah rapuh dan tidak mampu lagi mengatasi persoalan manusia yang kompleks.

Sekularisme tidak lagi cocok dengan kebutuhan manusia. Persoalan dalam konsep sekuler akan terus muncul dan berulang, bahkan lebih parah.

Maka lebih dari sekedar penggantian terhadap jabatan dan atau pejabat, dibutuhkan sebuah kesadaran prima untuk mencari alterntif sistem yang hakiki dan mampu menyelesaikan persoalan manusia secara total, tidak tambal sulam.

Perempuan Dalam Pandangan Islam

Islam sangat memuliakan seorang perempuan. Hal itu bisa dilihat dari beberapa ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad saw. yang menerangkan bahwa peran dan kedudukan seorang perempuan dalam Islam begitu tinggi.

Mengenai kedudukan perempuan, Islam menempatkannya pada posisi yang terhormat dan mulia, hak-hak sipilnya terlindungi tanpa ada diskriminasi. Sejak awal sejarah manusia.

Dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin atau gender. Laki-laki dan perempuan, sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Dalam tradisi Islam, seorang suami juga mempunyai otoritas khusus tetapi tidak sampai mencampuri urusan komitmen pribadi seorang perempuan dengan Tuhan-Nya. Bahkan dalam urusan-urusan keduniaan pun perempuan memperoleh hak-hak sebagaimana halnya yang diperoleh laki-laki.

Alquran tidak hanya menentang semua praktik kesewenang-wenangan, tetapi juga menanamkan norma-norma yang pasti dan memberi perempuan status yang jelas.

Alquran telah membuktikan bahwa kehadiran Islam justeru telah mengangkat harkat dan martabat perempuan dari perlakuan dan sikap kaum pria yang diskriminatif dan merendahkan bahkan membunuh kaum perempuan pada zaman Jahiliyah. Alquran secara berulang-ulang menekankan martabat dan kemuliaan perempuan, haknya, harus diperlakukan secara baik.

Oleh karena itu, sangat disayangkan masih ada pandangan stereoatip terhadap pemahaman yang berpendapat bahwa perempuan hanya boleh berkutat di kasur, dapur, dan sumur.

Perempuan bebas menempuh pendidikan setinggi-tingginya, apalagi Islam membebaskan manusia dari kebodohan.

Dalam sebuah hadits,  Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa mencari ilmu pengetahuan adalah wajib (fardlu ‘ain) bagi seorang Muslim dan Muslimah.

Hadist ini menekankan bahwa pendidikan itu bukan hanya hak, namun juga sebuah kewajiban dan tanggung jawab bagi setiap muslim dan muslimah.

Maka semua itu akan terwujud hanya dalam sistem Islam. Karena Islam akan menjamin kebutuhan seluruh rakyat. Menghilangkan semua potensi kedzaliman, termasuk deskriminasi terhadap perempuan. Wallahu ‘alam bishowwab.[]

*Penulis adalah seorang Ibu Rumah Tangga, tinggal di Palembang

_____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi  Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 11 =

Rekomendasi Berita