by

Kisah Pilu Seorang Ibu Di Bumi Palestina 

 

 

Oleh: Von Edison Alouisci

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Barangkali kisah nyata nan memilukan ini bisa menjadi bahan renungan dan rasa syukur bagi anda semua di luar Palestina.

Saya hanya menceritakan sebuah obrolan dengan seorang ibu yang hidup di bumi Palestina.

Namanya ibu Fayrouz.
Nama yang indah menurut saya namun tidak seindah kehidupan yang ia alami.

Jejak hidupnya dipenuhi dengan luka dan duka. Fayrouz tidak merasakan gembira kecuali saat remah roti kering yang dijualnya dibeli peternak burung di pasar Khan Younis, Jalur Gaza Selatan.

Setelah hidup selama 45 tahun, Fayrouz masih bersabar menantang kerasnya hidup yang menggiringnya menjadi penjual remah roti kering.

Wanita Palestina ini kesulitan mencari sesuap nasi untuk anak-anaknya apalagi mengobati suaminya yang sakit.

Fayrouz dan sembilan anggota keluarganya (suami, tujuh anak dan saudara laki-laki suami) tinggal di rumah milik saudara suaminya yang menurut saya jauh dari kata layak.

Rumah yang berdindingkan lumut dan beratapkan seng tak mampu melindungi mereka dari perubahan cuaca.

Suami Fayrouz menderita gagal ginjal selama bertahun-tahun dan tidak mampu bekerja. Situasi ini memaksa sang istri banting tulang dengan menjual remah roti kering yang Ia kutip dari tetangga, sekolah dan pinggiran jalan kota Khan Younis.

Fayrouz dibantu anak-anaknya kemudian mengeringkan remah roti tersebut dibawah sinar matahari selama seminggu agar tidak membusuk.

Setiap hari Rabu, roti yang sudah kering dibawa ke pasar lalu dijual kepada peternak burung dengan harga 4 atau 5 Dolar saja.

Harga tersebut hanya cukup memenuhi kebutuhan makanan selama sehari, tidak cukup untuk membeli obat untuk suaminya.

Sementara di sisa hari yang lain, keluarga Fayrouz menggantungkan hidup dari bantuan tetangga, kerabat serta bantuan pangan bulanan Kementerian Pembangunan Sosial sebesar 54 Dolar.

Sayap ayam, hidangan terbaik

Hidangan terbaik keluarga Fayrouz adalah potongan sayap ayam jika ada dan itu adalah makanan yang dianggap sudah mewah di Palestina.

Namun seringkali santapan mereka hanya roti ditambah garam atau bahkan ceker ayam yang didapat dari orang lain secara gratis jika ada.

Fayrouz juga tidak memiliki persediaan air minum di rumahnya. Hal ini membuat anak-anaknya terpaksa mencari bantuan air bersih dari tetangga.

Pasokan air yang diupayakan otoritas Palestine ke rumah-rumah warga Gaza tidak dapat digunakan untuk minum karena memiliki tingkat keasinan yang tinggi.

“Saya tak mampu membeli obat-obatan untuk suami karena harganya yang tinggi. Akibatnya kondisi suami saya semakin memburuk, ‘’ kata ibu Fayrous terisak. Airmatanya mengalir sambil sesekali mengucapkan sholawat.

Di saat yang sama, saudara laki-laki suami Fayrouz yang tinggal bersama juga menderita penyakit jiwa karena tekanan dan trauma mendalam. Anak dan istrinya dibantai tentara israel. Hal ini tentu semakin menambah beban keluarga miskin tersebut.

Anak-anak Fayrouz termasuk empat perempuan terpaksa tidur di halaman rumah beratap genteng di atas tikar plastik dengan selimut tipis yang tidak dapat menghangatkan mereka di musim dingin.

Saya laki laki yang mestinya tegar dengan ragam masalah namun melihat anak anak kecil tidur di halaman rumah dengan pakaian dekil karena beralas seadanya, mau tidak mau – air mata ini menetes tanpa sadar.

Mereka masih kecil, imut, cantik cantik namun wajah wajah mereka tampak sayu seakan bertanya, “Mengapa masa kecil kami tidak seperti mereka di negara lain?”

Ibu Fayrous benar benar menghadapi tekanan jiwa menghadapi semua itu. Ia berharap dapat menemukan pekerjaan walaupun sulit, demi menopang hidupnya dan anak-anak serta merawat suami.

Saya terdiam dan tidak mampu menjawab keinginan dan harapan mereka karena saya sendiri juga dalam kesulitan menghadapi situasi yang serba pelik dan rumit.

Saya hanya berharap siapapun yang membaca ini terutama relawan relawan di indonesia bisa memberi jalan dan solusi bagi warga Palestina terutama di gaza yang begitu kesulitan seperti ibu Fayrous ini.

Selama ini, hampir 80 persen warga Palestina di Jalur Gaza hidup dengan bantuan kemanusiaan.Tanpa bantuan dari luar bisa di pastikan mereka terancam kematian masal akibat kelaparan. Tidak ada obat, pasokan air, pakaian dan belum lagi serangan penyakit karena lingkungan yang kumuh.

Tingkat pengangguran di Gaza juga melebihi 80 persen, seperti dilansir Biro Statistik Pusat Palestina dan Komite Rakyat anti Blokade Gaza.[]

 

Lihat link
https://sociabuz.com/ZakatPal/tribe

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + fifteen =

Rekomendasi Berita