by

KOBAR Tetap Konsisten #Ganti Presiden 2019, dan Dukung Konsolidasi Tarik Mandat Jokowi

KOBAR Tetap Konsisten #Ganti Presiden 2019, dan Dukung Konsolidasi Tarik Mandat Jokowi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Rijal ’Ijal’, Koordinator Komando Barisan Rakyat (KOBAR) menceritakan bahwasanya gerakannya mengatasnamakan KOBAR sendiri sudah selama empat (4) tahun ini lakukan perlawanan terhadap rezim pemerintahan Jokowi, demikian utaranya saat menjadi narasumber di bilangan Cikini, yang digelar oleh GMRIM bertajuk,”Pra Rembuk Nasional Mahasiswa dan Pemuda Indonesia ‘2019 Presiden Baru Harapan Generasi Muda’. Jakarta, jumat (4/5).

Dengan gerakan Aliansi Tarik Mandat (ATM) Jokowi, ucap Ijal dimana saat itu aksinya ‘dobrak’ Istana negara, yang digelar pada tanggal 21 mei, namun gagal.”

lalu terjadilah pembakaran-pembakaran, tertangkap aktivis GPII, KOBAR. Tetap berjalan dan kemudian ‘ATM’.”KOBAR akan tetap laksanakan tugasnya, bagaimana tugasnya menjadi slogan ‘Presiden Baru’, kemudian #GantiPresiden 2019,” tukasnya menerangkan bahwa tetap konsisten.

Dirinya merasa apresiasi atas kehadiran rekan seperjuangannya, Jumhun  aktivis 88, kemudian mbk Asma Dewi turut hadir pula,  sempat jd Bendahara di AKBAR, Anhar, Rahmat, Uchok, ada juga aktivis 1974, Salim Hutajulu yang mana Angkatan 1974 pun masih konsisten tolak rezim ini.

“Dinamika persoalan penangkapan dan pressure terhadap aktivis terjadi pada tahun lalu, bahkan pada 2015 akhir, para Ulama mendukung Gerakan itu,” tutur Rijal kembali.

Kenapa cukup massif melakukan ? yang berani menyampaikan tarik mandat Jokowi. Padahal, issue terkait Saracen tidak berbentuk, “Saracen itu tidak ada. akan tetapi saya dibilang mengetahui, bang Eggi dibilang terlibat juga. “itu tidak ada”,” jelas Ijal kembali

“Maka motto kami,’Jaya di udara, Jaya di darat itu Konsolidasi’,” ungkap dirinya yang sempat satu sel dengan pak Bintang (SBP) dan Jamran saat mendekam di jeruji sel Polda kala itu.

“Proses pelemahan aktivitas kita, dimana 15-16 terasa lama. Menurut saya Ganti President ini menjadi yang konstitusional,” paparnya

Maka kedepan, ungkap dirinya akan berikan keyakinan ke masyarakat, Ini yang mesti dikerjakan oleh kita semua, namun jangan hanya di udara, harus grass root.”Jangan liat partainya, untuk para anggota dewan, lihat individunya,” jelasnya.

“Yang sudah masuk ke dalam sistem, sudah lakukan penghianatan kok. ini yang mesti kawan kawan tanamkan pada masyarakat , kalau konsisten maka konsolidasi akan lebih baik.” ungkapnya.

“Cara paling efektif di 2019. Kita bukan bicara kekurangan kelebihan rezim ini, kekurangannya lebih banyak. Maka bubarkan saja,” tandasnya.

“Kalau ada pemimpin yang ingin ambil kekuasaan dengan tipu tipu, dia tidak pantas menjadi pemimpin. Nanti setelah 2019, anda lebih percaya dia lebih baik menjadi pemimpin,” tukas Rijal.

Kemudian Rijal pun mengingatkan, pas nanti di tahun 2019, bahkan di akhir tahun, hati hati nantinya akan ada sinterklas dengan simbol agama yang akan memberikan baju baru.”Anda lakukanlah sesuatu untuk negeri ini. soalnya mahasiswa yang menjadi ujung tombak menyuarakan rakyat, kalau pada 2019 mahasiswa akan lakukan gerakan, saya yakin rakyat akan mendukung, semua di 34 propinsi saya yakin semua bergerak,” paparnya.

“Saya hanya Ingatkan ke temen temen #Ganti Presiden, lalu sosok siapa…ini yang mesti diperhatiin. Yusril adalah orang yang menolong saya,” jelasnya yang mana sempat mendapat hukumnya 6 bulan 15 hari.

Sementara, Dondi Rivaldi, aktivis Relawan Gatot Nurmantyo (GNR) Capres 2019 sampaikan kalau mengacu pada judul 2019, Presiden baru.”Ialah bagaimana membangun 2019, harus dibangun dalam konteks demokratis yang konstitusional, kematangan berdemokrasi diujikan dengan proses demokrasi yang diharapkan masyarakat dan bangsa,” kata Dondi.

“Kita memiliki calon Legislatif, DPD, rakyat yang harus memilih,” ucapnya.

“Kami relawan Gatot Nurmantyo (GN), memandang GN sangat layak dan siap bertanding dalam Pilpres 2019,” jelas Dondi kembali.

“Sosok pak Gatot punya komitmen terhadap Pancasila, kemudian Pak GN beberapa kali menyatakan dirinya siap menjadi Capres, dan itu sebetulnya tergantung kehendak rakyat,” jelasnya.

“Dan kita sebagai rakyat berkehendak beliau bertanding dalam Pilpres 2019. Generasi muda membutuh akses pendidikan berkualitas, setelah isu pendidikan, issue tenaga kerja dimana bagaimana generasi muda memperoleh akses lapangan pekerjaan,” papar Dondi.

Solusinya ialah, sambungnya menjelaskan membangun bangsa bukan saja tugas Pemerintah, namun juga tugas rakyat.”Issue terkait kebangsaan ini mestinya sering dikemukakan,” pungkasnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 10 =

Rekomendasi Berita