by

Komunitas Seni Pesanggrahan Tampil Di Pembukaan Festival Budaya Anak Bangsa VIII

Festival Budaya Anak Bangsa VIII.[Aziz/radarindonesianews.com]


RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Komunitas Seni Pesanggrahan mementaskan lakon spontan dalam pembukaan Festival Budaya Anak Bangsa VIII di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini-Jakarta Pusat, Minggu (20/11). Festival Budaya Anak Bangsa VIII dibuka oleh Yusma, Dir. Seni Pertunjukan, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud RI yang hadir dalam acara tersebut ditemani Oetari.

Abdul Aziz, Pimpinan Rombongan Bocah Komunitas Seni Anak Pesanggrahan Jakarta Selatan didampingi Jajang SK dan Kong Dasik menjelaskan bahwa pengenalan seni tradisi, khususnya seni tradisi Betawi harus sejak dini.

“Kami, dalam Festival Budaya Anak Bangsa VIII Tahun 2016 ini mencoba mengenalkan kembali khazanah seni tradisi yang pernah ada sejak dulu di Jakarta.” Ujarnya.

Aziz menjelaskan seputar lakon Jantuk yang dipentaskan Komunitas Seni Pesanggrahan di pembukaan Festival Budaya Anak Bangsa VIII tersebut. Jantuk menurutnya, adalah salah satu “ikon” yang dikenal di Jakarta pada era 80 an oleh alm. H. Bokir melalui Topeng Betawi Setia Warga. Ditilik secara filosofis sederhana tambahnya, Jantuk adalah gambaran karakter dari masyarakat Betawi itu sendiri yakni tegas, lugas, dan bijak dalam menyikapi hidup. Semua itu tergambar jelas dengan karakter topeng Jantuk terlihat jidat jenong/gedat, hidung pesek/nongrong, serta bergigi satu.

“Nah, itulah karakter orang Betawi yang sangat terbuka menerima suku bangsa manapun. Namun tetap tegas dan lugas dalam menyikapi permasalahan dengan mengedepankan rasa humor yang tinggi,” jelasnya.

Menurut Aziz, Jantuk pun ada di Topeng Blantek, salah satu seni pertunjukan masyarakat Betawi. Namun, tokoh Jantuk di Topeng Betawi dan Topeng Blantek ada sedikit perbedaan. Dimana Jantuk di Topeng Betawi adalah sebuah lakon “Pak Jantuk” yang menceritakan pentingnya keharmonisan rumah tangga dan ditampilkan terakhir menjelang subuh. Kalau Jantuk di Topeng Blantek sebagai pembuka dan penutup lakon itu sendiri, selayaknya dalang dalam pewayangan.

“Hal tersebut sangat penting diketahui oleh masyarakat sejak dini. Bahkan Topeng Betawi, Topeng Jantuk, Topeng Blantek, Silat Beksi, dan lain-lain telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Provinsi DKI Jakarta oleh Kemendikbud RI sejak tahun 2013 hingga tahun 2016 ini,” imbuhnya.

Pentas spontan tersebut mengalir dengan sendirinya dan semua mencoba untuk mewarnai dan menyambut Hari Anak Se Dunia dan juga bertepatan dengan Pesta Demokrasi “Perhelatan Pilkada serentak di NKRI ini” melalui seni budaya anak yang berpegang pada semboyan bahwa “Dengan seni haluskan jiwa, kobarkan semangat, jauhi narkoba, aids, teroris, apalagi ISIS.

Komunitas Seni Pesanggrahan merupakan komunitas seni Betawi yang tetap eksis di Jakarta Selatan dengan kegiatan sendiri maupun kegiatan pendamping dalam acara tertentu. Komunitas Seni Pesanggrahan terdiri dari beberapa kelompok seperti Rombongan Bocah Silat Beksi Kong Haji Gozali, Rombongan Bocah Tari Sirih Kuning Sanggar Bina Manggala, Rombongan Bocah Opera Anak Sanggar Antakam.”[gf]

Comment