Konferensi ini mengangkat tema Strengthening Sustainable Development Goals toward A World Peace Order atau Memperkuat Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Menuju Suatu Tatanan Dunia yang Damai. Event berskala itesional ini diselenggarakan oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) pada Kamis, 30 November 2017, di Gedung Pusat Studi Jepang (PSJ), Kampus UI, Depok.
Beberapa paper lainnya yang mengangkat isu-isu kearifan lokal ialah Preservation and Transfer of Local Genius in Bisa Dewek Program yang ditulis oleh Mohammad Caesario Nugroho, dan Kampung Hompimpa: Preserving Traditional Games among Invasion Online Games yang ditulis oleh Imas Komariah. Ada pula paper berjudul: Knowledge Preservation of Ondel-Ondel as Icon of Jakarta yang ditulis oleh Farhan Bukhori, dan Knowledge Preservation of Mystical Culture Legacy Kebo-Keboan Alasmalang yang ditulis oleh Bachrul Ilmi.
Paper sejenis lainnya berjudul: Virtual Tour as a Tool to Preserve Traditional Knowledge of Kasepuhan Palace yang ditulis oleh Khusnul Khatimah, dan The Indigenous Knowledge Strategic as An Effort to Preserve Rangguk Dance Art in Kerinci Regency yang ditulis oleh Arika Oktavia. Termasuk paper berjudul Preservation Knowledge of Sigeh Pengunten Dance as Traditional Knowledge From Lampung yang ditulis oleh Okta Reni Azrina RA, serta Kerokan, The Preservation of Indigeneous Knowledge of Javanese People yang ditulis oleh Ananto Pratiesno.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki keanekaragaman budaya, agama, suku, ras, dan bahasa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, yang semuanya menjadi unsur-unsur penting kebudayaan nasional Indonesia. Konsekuensinya, pluralisme sosial yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini wajib dilindungi oleh negara serta dilestarikan oleh seluruh warga negara, khususnya generasi muda Indonesia. Hal ini sesuai dengan moto nasional kita, yakni “Bhineka Tunggal Ika, Berbeda-beda Tetapi Satu Jua”, ketika perbedaan tidak menjadi penghalang bagi kita untuk bersatu di bawah naungan NKRI, Undang-Undang Dasar 1945, dan Pancasila.
Kekayaan multikulturalisme Indonesia merupakan tantangan besar sekaligus peluang penting bagi bangsa ini, apakah akan menjadi unsur pemersatu bangsa atau sebaliknya, justru menjadi unsur pemecah-belah bangsa Indonesia. Prinsipnya, mustahil bangsa Indonesia dapat menjadi pelopor perdamaian dunia jika keanekaragaman dan berbagai perbedaan yang ada di dalamnya justru menjadi faktor utama pemecah-belah bangsa. Fakta tentang keanekaragaman dan pluralisme sosial bangsa Indonesia saat ini turut melatarbelakangi diselenggarakannya konferensi internasional ini.
Terdapat 51 paper yang telah lolos seleksi dan dipresentasikan dalam beberapa tema sepertı Ekonomi Syariah, Keamanan Nasional, Ketahanan Nasional, Isu-Isu Gender, Pembangunan Kawasan Secara Berkelanjutan, Isu-isu dunia dan kawasan, Perdamaian dan Resolusi konflik, Pemuda dan kepemimpinan, sosial, budaya, agama, dan kemanusiaan.
Konferensi internasional ini juga menghadirkan beberapa narasumber dalam sesi pleno, yakni Direktur SKSG UI, Dr. Muhammad Luthfi Zuhdi, M.A., dr. Ryosuke Kajita, Ph.D., peneliti dan pakar kebencanaan dari Kyoto University, Jepang, serta Joel Ng, B.A., M.A., peneliti di bidang Perbandingan dan Politik Internasional dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Singapura. Adapun moderatornya ialah Yon Machmudi, Ph.D., Kepala Program Studi (Prodi) Kajian Timur Tengah dan Islam (KTTI) UI.[]










Comment