by

Lulu Wulandari: Peluk Anakmu, Ibu

Lulu Wulandari
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ya ibu, peluklah anak-anakmu. Katakan pada mereka bahwa
engkau sayang. Bahwa ayah mereka juga sayang. Katakan bahwa engkau ingin
bersama dengan mereka tidak hanya di dunia, tapi juga di surga. Bersama
orang-orang salih yang mencintai Islam. 
Ketika Islam tidak dicintai. Tidak lagi menjadi landasan
berpikir bagi umat, maka fakta yang terjadi sungguh memprihatinkan. Melihat
generasi muslim terpengaruh peradaban asing yang merusak. Tanpa sadar sedikit
demi sedikit menjauhkan mereka dari Islam. Menutup rapat tubuh mereka dengan
hijab, tapi bertingkah laku jauh dari kepribadian muslim.
Tim manajemen Tik Tok dari China langsung menyambangi kantor
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di Medan Merdeka, Jakarta pada
Rabu (4/7/2018) sore. Mereka adalah SVP Bytedance (perusahaan induk Tik Tok),
Zhen Liu; SVP dan CEO Tik Tok, Kelly Zhang; Head of Legal Tik Tok, Yujie Chang;
serta Head of Public Policy Tik Tok, Jia He. Kunjungan ini menyusul pemblokiran
layanan berbagi video tersebut di Tanah Air sejak Selasa (4/7/2018),
Kompas.com.
Pemblokiran didasari hasil pemantauan tim AIS Kominfo,
pelaporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPA), Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta masyarakat luas.Pelanggaran konten
yang ditemukan antara lain pornografi, asusila, pelecehan agama, dan lain-lain.
Setelah sempat diblokir pada pekan lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika
(Kemkominfo) akhirnya mengungkap Tik Tok telah dibuka blokirnya, liputan6.com
(10/7)
Walaupun banyak keluhan dari masyarakat, aplikasi ini
akhirnya bisa diakses lagi. Itupun setelah melalui kesepakatan dengan tim
manajemen Tik Tok. Bahwa mereka berjanji akan memperbaiki penyediaan layanan.
Yaitu membersihkan konten-konten negatif dan memberi inspirasi untuk berkarya. Akan
tetapi karena perekonomian China didasari pada ekonomi kapitalis liberal. Kepuasan
materi menjadi standar kebahagiaan mereka, bukan ridho Allah. Karena tujuan
yang ingin dicapai adalah mendapat keuntungan materi yang sebesar-besarnya. Maka
akan selalu terbuka peluang terjadinya pelanggaran hukum syara’.
Remaja di Indonesia pengguna aktif bulanan Tik Tok mencapai
10 juta. Jika dinilai dengan uang, menjadi angka yang fantastis bagi para
kapital. Jelas terlihat bahwa mereka tak akan rela pasar mereka ditutup. Dan
angka yang mengkhawatirkan jika terus bertambah. Karena output yang dihasilkan
adalah generasi alay yang tidak berpikir untuk kebangkitan.
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ
مِلَّتَهُمْ ۗ   قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ
الْهُدٰى  ۗ  وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ  الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ  مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu
(Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, Sesungguhnya petunjuk
Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka
setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong
dari Allah.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 120).
Cukup kiranya ayat ini menjadi pengingat, bahwa hanya Islam yang
tepat menjadi sandaran bertingkah laku bagi manusia. Bayangkan jika 10 juta anak-anak
generasi penerus bangsa ini diberi pembekalan akidah dan ilmu terapan untuk membangun
negeri, tentu negara akan mendapat hasil yang berbeda. Meninggalkan Islam adalah
sama halnya berjalan menuju kehancuran. Sebuah keluarga tanpa syariat, akan hancur.
Begitu pula halnya jika sebuah negara mengabaikan syariat, maka negara tersebut
akan hancur.
Sungguh negeri ini tak ramah terhadap Islam. Hukum Allah
kalah di bawah hukum manusia. Mencapai takwa menjadi tugas dan tanggung jawab
individu. Penguasa lepas tangan. Itulah sebabnya mendidik anak-anak menjadi
generasi salih salihah merupakan tugas yang sangat berat. Tidak cukup membekali
anak hanya dengan pengetahuan agama. Diperlukan penjagaan dari masyarakat dan
penguasa negeri. Mengurangi konten porno dan seluruh kegiatan yang merusak
generasi, menjadi tanggung jawab negara.
Sebab generasi yang abai terhadap urusan umat, yang hanya sibuk
dengan perkara remah-remah. Adalah generasi yang akan membebani negara.
Sejumlah persoalan akan muncul menimbun negeri ini, jika penguasa membiarkan
persoalan umat berlarut-larut.
Berbeda pada masa Islam menguasai peradaban dunia. Tipu daya
kaum kafir tidak mampu menyusup ke dalam pemikiran umat. Karena penguasa yang
ada pada saat itu sangat tegas dengan hukum dan sanksinya. Islam dijadikan
sebagai aturan dalam mengurusi umat. Keimanan umat tumbuh dengan baik pada masa
itu.
Islam menjaga generasi muda. Abdullah bin Zubair sudah
diajak berjihad saat dia berumur 8 tahun. Ayahnya, Zubair bin Al-Awwam
membonceng Abdullah di belakang kudanya. Seorang pejuang yang lahir dari orang
tua yang juga pejuang, Zubair bin Al-Awwam dan Asma binti Abu Bakar. Muhammad
Al-Fatih pun sama, menaklukkan Konstantinopel pada usia belia. Keshalihannya
tidak perlu diragukan. Penjagaan keluarga dan negara, mampu membuat remaja menjadi
generasi cemerlang.
Kehidupan pria dan wanita terpisah. Tidak terdapat ikhtilat
(bercampur), berdua-duaan (khalwat) sehingga menutup pintu perzinahan. Tidak berdandan
untuk menarik perhatian lawan jenis (tabaruj), menutup aurat dengan benar
ketika berada di area publik. Serta menjaga kehormatan (izzah) dan kesucian
hati (iffah) bagi pria dan wanita dengan takwa, ilmu dan sistem Islam.
Islam adalah solusi terbaik untuk mengatasi seluruh permasalahan
umat. Mengembalikan kesadaran umat bahwasanya mereka adalah umat yang mulia. Umat
yang memiliki peradaban mulia, jika mereka terapkan Islam Kaffah dalam hidup
mereka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.
[at-Tahrîm/66:6]

Peluk anak-anakmu ibu. Negeri ini tak ramah terhadap Islam.
Tak sayang terhadap generasi mudanya. Bekali anak-anakmu dengan akidah Islam.
Jadikan mereka sebagai pribadi muslim yang cinta Islam. Di tanganmulah wahai
ibu, beban kebangkitan umat diserahkan. Mendidik generasi emas, generasi
peradaban. Untuk memimpin umat mengembalikan izzul Islam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − three =

Rekomendasi Berita