by

Mariyatul Qibtiyah, S.Pd: Saat Guru Tidak Lagi Dapat Digugu Dan Ditiru

Mariyatul Qibtiyah, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Guru, sebuah kata yang tidak asing di telinga kita kita. Orang Jawa mengatakan bahwa guru itu adalah orang yang patut digugu dan ditiru. Digugu maksudnya ditaati, dipatuhi. Sedangkan ditiru maksudnya dijadikan teladan bagi murid-muridnya. Sayangnya, ungkapan seperti itu tidak berlaku lagi pada saat ini. Para siswa tidak lagi merasa harus menaati dan menghormati guru mereka. Sebaliknya, ada guru yang tidak mampu menjaga kemuliaannya. 
Semua itu menunjukkan semakin rusaknya sistem pendidikan di negeri ini. Ada banyak kasus yang menunjukkan hal itu. Misalnya kasus tewasnya pak guru Budi setelah dianiaya salah seorang muridnya. Tak lama berselang, terjadi kasus penganiayaan terhadap kepala sekolah SMP 4 Lolak yang dilakukan oleh salah seorang wali murid. Sementara itu, di Jombang, seorang guru mencabuli siswi-siswinya dengan dalih meruqyah mereka.
Fakta-fakta di atas, hanya mewakili kasus-kasus serupa yang jumlahnya tidak sedikit. Semua itu menunjukkan adanya kesalahan dalam sistem pendidikan kita. Yaitu, akibat diterapkannya sistem pendidikan yang sekuler dan kapitalistik. Sistem pendidikan yang sekuler telah menjauhkan anak didik dari agama. Meskipun ada pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Budi Pekerti, semua hanya sekedar pengetahuan saja. Tidak untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah, yang terbentuk adalah pribadi-pribadi yang tidak berakhlak dan beradab.
Sistem pendidikan yang kapitalistik juga memperparah kondisi ini. Hal itu karena proses pendidikan hanya dipandang sebagai aqad ijarah antara orang tua siswa dengan guru. Biaya pendidikan yang mahal membuat orang tua sudah merasa cukup hanya dengan menyerahkan pendidikan anaknya ke sekolah. Orang tua merasa berhak menuntut ini dan itu serta memperlakukan guru seenaknya karena mereka sudah membayar mahal.
Sistem pendidikan yang kapitalistik juga membuat sebagian besar guru kehilangan keikhlasan dalam mendidik. Mereka hanya mengejar target terpenuhinya kewajiban jam mengajar agar TPP bisa cair. Akibatnya, proses belajar mengajar hanya sebatas transfer materi. Tidak terjadi pembentukan karakter atau pun penanaman budi pekerti. 
Hal ini berbeda dengan yang terjadi pada masa Rasulullah SAW maupun pada masa para khalifah sesudahnya. Sayyidina Ali Karramallaahu Wajhah berkata, “Aku adalah budak orang yang mengajariku walau hanya satu huruf. Jika dia mau, silakan menjualku atau memerdekakan aku atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya.” Ucapan Sayyidina Ali itu mengajarkan kepada kita untuk menghormati guru kita, sekecil apa pun ilmu yang diberikannya kepada kita.
Sikap yang menunjukkan penghormatan yang besar pada seorang guru ditunjukkan oleh Imam Syafi’i. Beliau pernah membuat sahabat-sahabatnya terkagum-kagum karena tiba-tiba beliau mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Para sahabatnya pun bertanya, “Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seoran laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada dia?” Imam Syafi’i menjawab, “Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab, “Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh.” 
Penghormatan yang dilakukan oleh orang tua terhadap guru anaknya diperlihatkan oleh Khalifah Harun ar Rasyid. Syaikh az Zarnuji dalam Ta’lim al Muta’allim mengisahkan, suatu hari Khalifah Harun ar Rasyid mengirimkan putranya kepada Imam al Ashma’i. Beliau adalah salah seorang ulama besar yang menguasai bahasa Arab. Khalifah Harun ar Rasyid mengirimkan putranya ke beliau untuk belajar ilmu dan adab. 
Dalam satu kesempatan, Khalifah Harun ar Rasyid menyaksikan al Ashma’i sedang berwudlu dan membasuh kakinya, sedangkan putranya yang menuangkan air untuk al Ashma’i. Setelah menyaksikan peristiwa itu, Khalifah Harun ar Rasyid menyampaikan kepada al Ashma’i, “Sesungguhnya aku mengirim anakku kepadamu agar engkau mengajarimu ilmu dan adab. Mengapa engkau tidak memerintahkannya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya lalu membasuh kakimu dengan tangan lainnya?”
Yang tidak kalah penting adalah sikap para guru sebagai pendidik. Mereka haruslah orang yang tidak hanya mampu menyampaikan ilmu, tapi juga mengamalkannya. Mereka juga harus ikhlas dalam mendidik, bukan semata-mata imbalan gaji. Mereka mendidik dengan mengharapkan ridlo dari Allah SWT. Sehingga, mereka akan mendidik dengan penuh kasih sayang. 
Semua itu bisa terwujud dalam sebuah sistem kehidupan yang tepat. Sistem yang mendasarkan semuanya pada ajaran Allah SWT. Sistem yang tidak memusahkan manusia dari keterkaitan dengan al Khaliqnya. Semoga sistem ini bisa ditegakkan kembali. Agar kehidupan yang baik dalam semua aspek jehidupan akan kembali terwujud.[]
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + 17 =

Rekomendasi Berita