Mengapa Kasus Bunuh diri Terus Meningkat? 

Opini207 Views

 

 

Oleh: Siti Aminah, Aktivis Muslimah

_________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kasus bunuh diri di Kota Malang akhir-akhir ini meningkat. Latar belakang korban pun beragam, begitu juga dengan persoalan yang diduga sebagai pemicunya. Terbaru, seorang pemuda nekat bunuh diri dengan meloncat dari Jembatan Suhat (Soekarno-Hatta), Jumat (26/5/2023).

Sebelumnya, warga Kabupaten Malang, itu pernah mencoba bunuh diri di tempat yang sama pada 1 Agustus 2022. Tapi, niat korban dapat digagalkan oleh pengendara dan petugas kepolisian yang berada di lokasi.

Pada awal April 2023 lalu, kasus bunuh diri juga sempat menggemparkan warga Jalan Batu Amaril, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Pria berinisial HM (33), ditemukan keluarganya gantung diri di dalam rumah.

HM disebut nekat mengakhiri hidupnya lantaran tak kuasa menghadapi teror penagih dari pinjaman online. Apalagi, bukan korban yang berutang di pinjol, hanya identitasnya dipinjam oleh temannya dan kemudian digunakan untuk berutang.

Di luar itu, beberapa percobaan bunuh diri di Kota Malang berhasil digagalkan. Terakhir, seorang mahasiswi berinisial NL berencana mengakhiri hidup di kamar kosnya di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu (28/5/2023) siang. Dengan memegang pisau, NL berniat mengakhiri hidupnya. Namun, hal itu bisa dicegah oleh rekannya.

Kapolresta Malang Kota Kombes Budi Hermanto mengaku adanya kasus percobaan hingga sampai bunuh diri di Kota Malang merupakan persoalan serius yang harus segera dilakukan upaya pencegahan. Selain edukasi, program konseling selama ini terus berjalan dengan melibatkan berbagai pihak.

Bunuh diri adalah salah satu bentuk keputusasaan yang dialami karena berbagai faktor, tekanan hidup karena ekonomi, penyakit, ketidak percayaan diri bisa melampaui cobaan hidup.

Kerapuhan keimanan, tidak ada pengetahuan tentang hukum Syara’ karena agama dipisahkan dari kehidupan, mereka tidak tahu misi apa yang harus diembannya dalam menjalani kehidupan di dunia ini, sehingga memutuskan bunuh diri sebagai solusi untuk menyelesaikan problematika kehidupan nya.

Padahal bunuh diri adalah dosa besar ,Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29).

Dalam sebuah hadist dari Tsabit bin Adh Dhohhak, Rasulullah SAW bersabda,

وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَىْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pemuda muslim harusnya mempunyai visi,misi yang kuat karena Islam adalah agama paripurna yang mengatur segala aspek kehidupan, pemuda muslim saat ini menjadi rapuh seperti strawberry yang luarnya cantik tapi dalamnya rapuh ,itu semua karena pemuda muslim saat ini berada di sistem yang salah , sistem yang menjauhkan pemuda muslim dari agama.

Masalah bunuh diri adalah masalah sistemis. Hanya dengan kerangka sistem yang benar, persoalan tersebut bisa dituntaskan. Merumuskan solusi dalam sistem yang keliru, hanya akan menambah pelik permasalahan yang berujung pada kesengsaraan.

Langkah yang tepat adalah dengan meninggalkan sistem yang sakit tersebut dan kembali pada aturan dari Sang Pencipta. Islam adalah jalan keluar yang terbaik untuk meninggalkan kehidupan yang begitu sakit seperti sekarang ini. Aturan Islam inilah satu-satunya harapan umat manusia.

Islam bukan hanya agama, tetapi juga pandangan hidup yang memiliki seperangkat aturan yang lengkap. Di dalamnya terdapat solusi-solusi untuk masalah kehidupan. Islam tidak hanya mengatur kehidupan, tetapi juga memberi pemecahan untuk problematik manusia. Begitu pula dengan masalah bunuh diri bisa diselesaikan sesuai aturan Islam.

Masalah bunuh diri hanya bisa diselesaikan oleh negara yang menerapkan aturan Islam secara kaffah. Negara akan mencegah segala hal yang bisa mengganggu mental masyarakat. Dari sisi ekonomi, negara memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya sehingga dapat hidup dengan layak. Rakyat tidak kesulitan mencari pekerjaan atau mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Kebutuhan akan tempat tinggal pun tersedia bagi rakyat sehingga tidak ada yang hidup menggelandang tanpa rumah.

Dari sisi kesehatan, negara menyediakan berbagai fasilitas kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Pelayanan kesehatan ini terjangkau, berkualitas, dan merata. Tidak ada diskriminasi. Bagi mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental, negara akan memberikan rehabilitasi medis dan nonmedis tanpa melihat latar belakangnya. Siapa saja yang mengalami permasalahan, baik ringan atau berat, akan mendapatkan pelayanan terbaik dari negara. Rakyat juga tidak akan pusing memikirkan biaya pengobatannya sehingga bisa fokus dengan pemulihan kesehatan.

Dengan tercukupinya kebutuhan hidup dan kesehatan yang baik, keluarga bisa menjalankan fungsinya sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Ayah dan ibu akan mendidik anak-anaknya sebaik mungkin sesuai syariat Islam. Menanamkan akidah Islam yang mantap sehingga terbentuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. dalam segala keadaan.

Dari sisi pendidikan, negara menerapkan pendidikan berbasis akidah. Dalam pendidikan ini, manusia tidak hanya dididik secara akademis guna meraih capaian angka dan materi namun juga pembinaan kepribadian dan pemikiran sesuai akidah.

Pendidikan Islam bertujuan mencetak generasi yang bertakwa dan menguasai iptek. Tidak hanya menjadi manusia yang pandai, tetapi juga berakhlak mulia dan mampu membawa perubahan untuk kebaikan.

Dalam kitab Usus Al-Ta’liim Al-Manhaji disebutkan bahwa ada tiga tujuan pendidikan Islam. Pertama, membentuk kepribadian Islam bagi peserta didik. Kedua, membekali peserta didik dengan ilmu-ilmu keislaman (tsaqafah Islamiyah). Ketiga, memberikan bekal kepada peserta didik dengan ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidupan seperti sains dan teknologi.

Tak heran bila dengan bekal seperti itu, generasi Islam menjadi generasi yang kokoh secara pemikiran dan ketakwaan. Generasi ini adalah generasi yang kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan tetap bersandar pada syariat Islam. Ia bisa menyelesaikan permasalahan kehidupan tanpa terombang-ambing karenanya. Bahkan, ia mampu menjadi penolong bagi sesamanya.

Dari sisi pergaulan masyarakat, negara menatanya sesuai syariah. Ada pemisahan antara pria dan wanita sehingga tidak ada khalwat dan ikhtilat. Pertemuan antara keduanya hanya diperbolehkan dalam hal yang telah ditetapkan oleh syariat seperti dalam aktivitas jual-beli, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan mendesak lainnya.

Negara melarang pergaulan bebas di tengah masyarakat yang bisa menciptakan bermacam kerusakan seperti zina, narkoba, penyimpangan seksual, bullying, gangguan mental, dan bunuh diri.

Dari sisi hukum, negara menerapkan hukum Islam dan membuat hukum yang bersandar pada Al-Qur’an dan As-Sunah. Hukum tersebut mampu mencegah terjadinya pelanggaran dan memberikan sanksi yang tegas bagi pelakunya hingga menimbulkan efek jera.

Dengan hukum yang seperti itu, tidak ada lagi pelanggaran dan kemaksiatan yang dibiarkan bebas hingga merugikan lebih banyak orang. Setiap orang juga patuh pada hukum yang berlaku.

Negara juga menjaga suasana ketakwaan di tengah masyarakat untuk terus hidup. Aktivitas amar makruf nahi munkar berjalan di tengah masyarakat. Fungsi masyarakat sebagai kontrol sosial pun bisa berlangsung dengan baik. Satu sama lain saling menolong dan mengingatkan kepada kebaikan.

Bila ada yang menyimpang, masyarakat akan menasihatinya untuk kembali pada jalan ketakwaan. Bukan hanya kepada sesama anggota masyarakat, tetapi juga kepada pemerintah bila memang melakukan penyimpangan.

Inilah resep jitu Islam kaffah untuk mengobati masyarakat yang sakit akibat penerapan aturan kapitalis sekular. Hanya dengan mengikutinya saja, masyarakat akan pulih dari kasus bunuh diri.[]

Comment