by

Meski Mengancam Jiwa, Aku Lawan Ketidakadilan Di Depan Mataku

Billy

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kejadian dan peristiwa nyata ini sudah berlalu beberapa waktu namun nilai dan isnpirasi peristiwa ini tetap abadi dan mampu memotivasi. Sebuah upaya membela dan menegak nilai keadilan dengan pertaruhan nyawa, antara hidup dan mati.

Peristiwa tragis ini terjadi sore hari menjelang berbuka di bulan Ramadhan, di stasiun kereta di bilangan Kalibata. Seorang anak muda dengan celana bermotif loreng tiba-tiba mengeluarkan suara keras dan berteriak “maling” yang ditujukan kepada seorang lelaki setengah baya.
Pemuda dengan celana loreng tiba-tiba memukuli laki-laki setengah baya itu dengan nafsu setannya dabarengi dengan teriakan “maling”. Orang ramai yang berada di stasiun tersebut, tanpa memahami persoalan, ikut terprovokasi oleh teriakan itu dan menghantamkan bogem mentahnya kepada lelaki setengah baya yang diteriaki sebagai maling atau pencopet. Lelaki setengah baya itupun terkapar dengan wajah penuh darah, luka dan memar.
Peristiwa pilu ini aku saksikan persis di depan mata kepalaku. Terhentak naluri kemanusiaan, tanpa aku berpikir panjang, aku berteriak, “Dia bukan pencuri.!!!” Teriakan ini aku maksudkan untuk menghentikan kebiasaan publik di Jakarta yang kerap main hakim sendiri.
Aku tidak peduli dengan jiwaku yang terancam oleh ego sosial yang sangat buruk ini. Ego sosial yang terlanjur mudah terprovokasi tanpa mencari tahu penjelasan dan sumber kejadian. Ini ketidak adilan dan ini harus dilawan. 
Aku berhasil menyelamatkan lelaki setengah baya dari hantaman dan pukulan orang banyak. Ku tarik tubuh lelaki setengah baya yang penuh darah itu dari kerumunan orang yang tak segan melayangkan tangan dan kaki mereka ke wajah dan tubuh lelaki yang sudah tampak ringkih itu. Aku arahkan lelaki yang penuh luka itu untuk ke pos keamanan. Namun sayang, lelaki itu tak bergerak sesuai arahanku. Dia keluar stasiun entah akan menuju kemana.
Pemuda bercelana loreng kembali mengejar lelaki setengah baya itu dan menghantamkan pukulan bertubi-tubi. Aku semakin tidak mengerti apa kemauan anak muda ini. Naluri kemanusiaan dan emosiku memuncak untuk membela ketidak adilan yang berlangsung di depan mataku. Aku lerai, aku rangkul dan selamatkan lelaki setengah baya itu dari pukulan pemuda yang membabi buta. Akupun tak pelak kena hantaman dan pukulan hingga terjatuh. Aku berdiri dan dengan sekuat tenaga akupun berteriak, “Orang ini bukan pencuri. Mana orang yang bilang, “Pencuri”? Mendengar teriakanku, si pemuda melarikan diri dan orang banyakpun terdiam. Teriakan kerasku bukan untuk membela kejahatan tetapi ingin meluruskan agar orang tidak bertindak di luar peri kamanusiaan.
Lelaki setengah baya itu kuserahkan ke pos keamanan. Tampak seorang berpenampilan cepak yang kuduga seorang intel. Dia bertanya kepadaku, “Bapak ini petugas?. Aku langsung menjawab, “Bukan’.
Pria cepak itu berujar, “Beraninya bapak bertindak seperti ini padahal resikonya sangat berbahaya.”. Akupun dengan lugas menjawab, “Saya bertindak hanya karena Allah saja pak. Saya yakin kalau tindakan kita karena Allah, DIApun akan menyelamatkan kita.” Sang intel hanya termangu.
Tanpa kuduga, intelpun memiliki rasa kemanusiaan dan kepedulian yang tinggi diselipkan lembaran rupiah ke saku laki-laki paruh baya itu untuk naik taksi yang lebih aman dan nyaman. Sungguh aku terharu dengan kebaikan sang aparat ini.

Sebelum aku tinggalkan pos keamanan, aku bertanya kepada laki-laki tengah baya itu bagaimana  awal peristiwa terjadi. Aku berpikir bahwa laki-laki ini telah mencuri barang milik pemuda bercelana loreng tadi. Oleh karena itulah dia dihakimi massa. Dugaanku salah. Lelaki setengah baya itu ternyata seorang kuli bangunan. Di dalam tas yang disandangnya itu ku temukan perkakas bangunan.

“Orang yang memukul saya itu marah karena kakinya terinjak saya.” Jawab lelaki setengah baya yang telah penuh luka di sekujur tubuhnya.
Mendengar jawaban itu, semakin membuatku malu. Betapa tidak? Di tengah kehidupan modern dengan budaya dan pendidikan yang semakin tinggi dan di bulan suci pula masih ada saja manusia yang menggunakan cara-cara biadab dalam menyelesaikan masalah. Lebih menyedihkan lagi adalah saat orang banyak begitu mudah terprovokasi oleh teriakan yang belum tentu kebenarannya itu kemudian melakukan tindakan keji dan main hakim sendiri. 
Kita harus melawan ketidak adilan yang terjadi meskipun nyawa sebagai taruhannya. Untuk mencapai kedamaian, kita harus mampu mengendalikan emosi dan tidak mudah terprovokasi.[GF]
Tulisan ini diceritakan kembali oleh: Billy kepada radarindonesianews.com

Comment