by

Meuthia TS. Kelana,S.Kom : Gerakan Banci Yang Ditakuti

Meuthia TS. Kelana,S.Kom, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  – Inisiator sekaligus deklarator #2019GantiPresiden Mardani Ali Sera menyayangkan penolakan gerakan tersebut di berbagai daerah. Mardani menyebut negara ini kalah dari preman.”Kita menyaksikan, negara kalah oleh preman,” ujar Mardani sembari menyertakan emotikon sedih, seperti dikutip dari Twitter resminya, Minggu (26/8/2018). Mardani menyesalkan aparat yang disebutnya lemah terhadap persekusi tokoh-tokoh #2019GantiPresiden. Untuk diketahui, Neno Warisman yang juga deklarator #2019GantiPresiden mendapat penolakan saat tiba di Pekanbaru. (detik.com)
Gerakan 2019GantiPresiden merupakan aspirasi umat yang kecewa terhadap pemerintahan, yang tidak pro terhadap rakyat kecil umumnya. Namun seiring berkembangnya waktu gerakan ini menjadi sebuah gerakan nasional yang diikuti banyak golongan. Mereka hanya berharap melalui gerakan ini aspirasi mereka akan mudah tersampaikan pada para penguasa.
Pro dan kontra memang terjadi, bahkan banyak anggapan bahwa gerakan ini ditunggangi oleh sekelompok orang yang ingin menghancurkan NKRI. Ini salah, aspirasi masyarakat dari gerakan ini murni karna rakyat merasakan betapa sangat pahit pil demokrasi, yang merusak secara perlahan.
Penolakan demi penolakan terjadi diberbagai daerah, pekanbaru, riau dan Surabaya, mengapa ini bisa terjadi? Bukankah ini bagian dari kebebasan berpendapat yang digaung demokrasi, lalu mengapa ada pencekalan pada mereka yang ini menyuarakan kebenaran. Haruskah umat diam melihat kezhaliman yang terjadi? Mengapa pihak yang seharusnya melindungi seperti tak punya kekuatan untuk menjaga satu orang saja.
Lihatlah umat, yang mulai kritis ketika semua harga barang naik, subsidi dicabut, pengangguran bertambah, semua asset Negara dijual dan para TKA juga menyerbu. Lalu apa yang tersisa untuk umat ini? Umat tidak lagi mau dibodohi dengan pencitraan dan alasan membayar hutang, menyebabkan kemiskinan dan kriminal semakin merajalela. Umat yang paling sangat menderita, sedangkan mereka menari diatas semua derita yang dirasa umat.
Gerakan ini dikatakan ujaran kebencian atau kebancian ternyata mampu mengguncang sejumlah elemen untuk bergerak maju melawan. Melawan mencari keadilan, gerakan ini tidak membuat keributan tapi berhasil memancing orang untuk keluar dari zona amannya. Gerakan banci tapi membuat sebagian orang ketakutan, berhasil ditepis sejumlah kalangan diantara mereka adalah orang-orang yang biasa berada didepan umum namun beralih haluan melihat ketidakadilan di negeri ini.
Inilah buah demokrasi, yang hanya mencari azas manfaat dan memisahkan agama dari kehidupan. Setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkan dari umat kemudian mereka ingkar janji. Nyatanya memang demokrasi tak pernah pro pada rakyat kecil, demokrasi yang hanya ingin menginjak rakyat kecil dan naik menjulang lebih tinggi menuju puncak kekuasaan yang diharapkan.
Lihatlah Umar Bin Khatab seorang pemimpin yang sangat peduli pada rakyatnya, semata karna takut dimintai tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin kelak diakhirat.  Umar Bin Khatab berkata : “Kalau rakyatku kelaparan, aku orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya”
Seharusnya seperti inilah seorang pemimpin, bagaimana umat tidak bergerak jika untuk makan saja susah, bekerja untuk menghidupi keluarganya pun tak mudah, dan tempat ia berteduh juga tak lagi nyaman. Maka jangan salahkan umat yang kemudian ingin bergerak, bersuara lantang, agar para pemimpin negeri ini mendengarnya dengan jelas. Tak lagi menutup mata dan telingannya hanya untuk melindungi kursinya yang nyaman.
Apakah dengan mengganti presiden semua akan kembali kehidupan normal? Tidak, lalu apa yang harus dilakukan umat? Mengganti semua sistem ini dan kembali ke Islam yang kaffah, agar kesejahteraan umat juga tak lagi tergadai. Dan pemimpinnya juga bertakwa kepada Allah swt dan penduduk negeri ini juga tak lagi ditimpa musibah, seperti longsor, gempa, banjir atau tsunami. Wallahu a’lam bishawab.(M.TS)



Penulis adalah seorang guru di Lhokseumawe, Aceh

Comment

Rekomendasi Berita