Penulis: Nisa Ummu Arsa | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Belakangan ini media sosial ramai membicarakan mindfulness setelah unggahan Maudy Ayunda tentang menghadapi berbagai berita buruk mendapat tanggapan dari warganet.
Detik, 14 September 2026, memberitakan Maudy meminta maaf setelah konten bertajuk Mindfulness in the Age of Bad News menuai kritik. Dalam klarifikasinya, Maudy menjelaskan kembali maksud unggahan tersebut.
Sebenarnya, keinginan menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi bukan sesuatu yang aneh. Setiap hari berbagai berita masuk ke layar ponsel, mulai dari bencana, kecelakaan, kriminalitas, konflik, masalah ekonomi, hingga persoalan lainnya. Jika semuanya dikonsumsi tanpa batas, pikiran tentu dapat terasa penuh.
Karena itu, menyaring informasi memang diperlukan. Tidak semua hal yang muncul di media sosial harus kita ikuti. Hoaks, konten provokatif, hiburan yang tidak bermanfaat, atau berita yang hanya menimbulkan kecemasan tanpa memberikan manfaat dapat saja kita tinggalkan.
Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika yang disebut sebagai “bad news” merupakan fakta tentang kehidupan masyarakat.
American Psychological Association (APA) menjelaskan mindfulness sebagai kesadaran terhadap kondisi internal dan lingkungan sekitar.
Dalam praktiknya, mindfulness berkaitan dengan kemampuan memperhatikan pikiran, emosi, dan pengalaman yang sedang berlangsung tanpa langsung menghakimi atau bereaksi terhadapnya.
Mindfulness sendiri memiliki sejarah panjang. Penelitian yang diterbitkan dalam Mindfulness pada 2026 menyebut praktik mindfulness memiliki akar dalam tradisi Buddhis, sementara dalam perkembangannya konsep tersebut banyak diadopsi dalam berbagai pendekatan modern.
Maka, mindfulness tidak tepat jika hanya dipahami sebagai ajakan untuk “tidak membaca berita buruk”. Ada konteks yang lebih luas di dalamnya.
Pertanyaannya, sampai batas mana kita perlu menyaring informasi?
Sebab, tidak semua berita buruk merupakan berita yang tidak berguna.
Ketika terjadi kebakaran hutan dan masyarakat harus menghadapi kabut asap, misalnya, informasi tersebut bukan sekadar kabar negatif yang membuat pikiran tidak nyaman.
Ada masyarakat yang benar-benar sedang mengalaminya. Begitu pula ketika terjadi bencana atau kebijakan yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
Jika kita memilih tidak tahu karena takut pikiran menjadi penuh, bagaimana kita bisa memahami keadaan di sekitar kita?
Berita tentang kenaikan harga BBM atau meningkatnya harga kebutuhan pokok mungkin membuat sebagian orang pusing.
Namun, mengabaikannya tidak membuat persoalan tersebut hilang. Justru kita perlu mengetahui apa yang sedang terjadi agar dapat memahami dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Di sinilah kita perlu membedakan antara menjaga kesehatan mental dan menutup mata terhadap realitas.
Seorang Muslim memang tidak perlu memasukkan seluruh informasi ke dalam pikirannya. Namun, Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia yang tidak peduli terhadap keadaan di sekitarnya.
Islam mengajarkan kita untuk mencari kebenaran dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Al-Qur’an dalam QS Al-‘Alaq ayat 1 memuat perintah “Iqra” atau membaca: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Membaca tentu bukan berarti setiap Muslim harus mengikuti seluruh berita yang ada atau mempercayainya begitu saja. Justru kita perlu belajar membaca dengan benar.
Ketika melihat berita tentang kebakaran hutan, misalnya, jangan berhenti pada rasa sedih atau takut.
Kita dapat mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika membaca berita tentang suatu kebijakan, kita dapat memahami isinya serta bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat.
Dengan begitu, informasi tidak sekadar memenuhi kepala, tetapi juga membantu kita memahami realitas.
Islam juga memiliki cara pandang dalam menghadapi sesuatu yang membuat hati terasa berat. Ketika menghadapi musibah, seorang Muslim memiliki iman kepada qadha dan qadar.
Keyakinan tersebut bukan berarti seseorang tidak boleh merasa sedih atau khawatir. Namun, iman memberikan pijakan agar manusia tidak kehilangan arah ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Karena itu, ketika melihat berita buruk, seorang Muslim tidak harus memilih antara “peduli” atau “tenang”. Keduanya dapat berjalan bersama.
Kita dapat mengetahui keadaan masyarakat tanpa harus tenggelam dalam kecemasan. Kita dapat merasa prihatin tanpa menjadikan kesedihan sebagai satu-satunya respons. Kita dapat menyaring informasi tanpa kehilangan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Kisah Rasulullah ﷺ juga memberikan pelajaran. Sebelum menerima wahyu, Rasulullah ﷺ melakukan tahannuts di Gua Hira.
Beliau menjauh sejenak dari kehidupan masyarakat jahiliah yang penuh kerusakan. Namun, setelah wahyu datang, beliau tidak diperintahkan untuk terus menjauh dari masyarakat demi menjaga ketenangan diri. Justru beliau kembali ke tengah masyarakat untuk menyampaikan risalah Allah.
Artinya, ketenangan bukanlah tujuan akhir yang membuat seseorang berhenti peduli. Ketenangan seharusnya menjadi pijakan agar seseorang mampu menghadapi kenyataan dengan lebih jernih.
Maka, tidak ada salahnya membatasi berita yang hanya memenuhi kepala dengan kecemasan. Kita tidak perlu mengikuti semua konten yang lewat di media sosial atau membaca berita yang sama berulang-ulang hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Namun, jangan sampai keinginan menjaga kesehatan mental membuat kita memilih untuk tidak tahu ketika ada persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat.
Sebab, tenang bukan berarti tidak tahu.
Peduli juga bukan berarti harus tenggelam dalam kecemasan.
Kita boleh menyaring apa yang masuk ke dalam pikiran. Namun, sebagai seorang Muslim, kita tetap perlu membuka mata terhadap realitas, memahami apa yang terjadi, lalu menyikapinya dengan iman dan tuntunan Islam.[]










Comment