by

Mr. Kan: Bocah Tewas Di Monas, KPAI Dan Polisi Patut Segera Bertindak

Mr. Kan/ist
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Mr.Kan dan sekeluarga besar turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya anak yang bernama Rizky Saputra dan Mahesha Juanidi, semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan sabar dan juga semoga alm kedua anak diterima di sisi Nya, amin.
Pengakuan Ibu Korban : Anak saya terinjak pengantre lain, Sebelum ke Monas anak saya sehat-sehat saja, Kalau anak saya tidak sehat, Gak mungkin saya Ajak ke Monas, Memang anak Ibu berkebutuhan khusus, Suami ibu sudah meninggal dunia 7 bulan yang lalu, Rizky anak keempat dari empat bersaudara.
Menurut pengamatan saya pribadi secara hukum, Panitia yang paling bertanggung jawab berpotensi terjerat pasal kasus dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak dibawah umur.
Berdasarkan pasal 76C UU No.35 tahun 2014 tentang perlindungan anak berbunyi: Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.
Dari bunyi pasal di atas ini, dapat saya jelaskan : Panitia yang paling bertanggung jawab secara tidak langsung sudah dapat disebut sebagai orang yang sudah atau telah MENEMPATKAN anak dibawah umur masuk di dalam perkumpulan atau kerumunan antrean ribuan orang-orang.
Ribuan orang-orang yang diundang dari kupon-kupon yang dibagi-bagikan oleh panitia dan kawan-kawan tanpa secara profesional.
Sehingga disitu dapat saya sampaikan Panitia yang paling bertanggung jawab secara tidak langsung telah MEMBIARKAN orang-orang yang mengantri berdesak-desakan atau dorong-dorongan yang sampai terjadinya anak dibawah umur terinjak-injak, dan yang sehingga pada akhirnya telah menyebabkan kematian anak dibawah umur yakni anak yang bernama Rizky Saputra.
Nah, secara pengamatan hukum, dapat saya simpulkan, Panitia yang paling bertanggung jawab secara tidak langsung telah MENEMPATKAN DAN MEMBIARKAN orang-orang yang berdesak-desakan atau berdorong-dorongan yang melakukan kekerasan dan atau perlakuan yang salah terhadap anak dibawah umur yang kemudian menyebabkan korban kematian anak dibawah umur.
Jika suatu hari nanti apa yang saya sampaikan ini semuanya terbukti benar apa adanya seperti itu, maka kemungkinan besar pelaku akan berpotensi dapat sanksi ancaman hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp.3 miliar.
Ketentuan sanksi hukuman pidana diatas ini berdasarkan sanksi hukuman pidana bagi pelaku yang melanggar pasal 76C UU No.35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, yang tertuang di dalam pasal 80 ayat 3 UU NO.35 tahun 2014 tentang perlindungan anak.
Dan untuk menguatkan jeratan terhadap pelaku mungkin akan ada tambahan Juncto pasal 55 atau pasal 56 KUHP.
Saya sangat menyarankan atas kejadian kematian anak dibawah umur ini sepatutnya aparatur penegak hukum terutama dari pihak KPAI dan Kepolisian Republik Indonesia agar dapat segera bertindak dan dapat memberikan pembelajaran yang sangat penting untuk panitia yang paling bertanggung jawab dan pihak terkait.
Dan juga menurut pengamatan saya, kedepannya jika ada pihak-pihak yang ingin berbuat suatu kegiatan sosial untuk membagi-bagikan sembako dan hadiah-hadiah, mungkin sepatutnya cukup mengajak kerja sama dan atau menyerahkan kepada RT/RW setempat atau diberbagai tempat RT/RW saja.
Tidak patut mengumpulkan ribuan orang-orang dari berbagai wilayah yang harus berdatangan dan berkumpul disuatu tempat umum begitu, kemudian mereka dibuat antri sampai panas-panasan dan berdesak-desakan, hingga menyebabkan korban yang meninggal dunia secara tidak wajar.
Sabagai rakyat Indonesia yang taat hukum, Saya sangat prihatin dan bingung atas kejadian ini, sebenarnya tujuan utama mereka panitia itu apa aja sih? Kok sampai menyediakan bus untuk antar jemput segala, kemudian saya amati orang-orang yang datang banyak berpakaian ciri khas warna tertentu?[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 7 =

Rekomendasi Berita