by

Nisa Azzahra: Seni dan Kebebasan yang Bablas dalam Pandangan Sekularisme

Nisa Azzahra
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bagi sebagian orang, menonton film adalah salah satu sarana untuk menghilangkan stres akibat padatnya aktivitas yang telah dilakukan. Namun, perlu dilihat apakah konten film tersebut bermanfaat dan berdampak positif ataukah tidak? Hal tersebut dikarenakan akhir-akhir ini industri perfilman terjadi pro-kontra, yaitu munculnya film yang sangat bertentangan dengan norma ketimuran bangsa Indonesia. 
Film tersebut berjudul “Kucumbu Tubuh Indahku” film Indonesia tahun 2019 besutan penulis dan sutradara Garin Nugroho. Film ini tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 18 April 2019. Mengapa film tersebut menimbulkan kontroversi? Hal tersebut karena disinyalir film terdapat unsur Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dan hubungan seksualitas antara sesama jenis.
Hal tersebut berdampak munculnya petisi dalam rangka menentang dan memboikot film tersebut untuk tayang di beberapa kota bermunculan di media sosial. Petisi muncul melalui laman Change.org terjudul “Gawat! Indonesia Sudah Mulai Memproduksi Film LGBT dengan Judul ‘Kucumbu Tubuh Indahku” (tribunnews.com 26/04/2019). Selain melalui media sosial, pemerintah pun khususnya Pemkot Depok melarang penayangan film Kucumbu Tubuh Indahku di layar lebar di  seluruh kota Depok, bahkan Pemkot sudah melayangkan surat keberatan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan nomor 460/165-huk- DPAPMK tanggal 24 April 2019. Walikota Depok, Idris Abdul Shomad mengatakan, film karya Garin Nugroho tersebut berdampak pada keresahan di masyarakat. Pasalnya dalam film tersebut terdapat adegan penyimpangan seksual. “
Hal itu dapat mempengaruhi cara pandang masyarakat terutama generasi muda untuk mengikuti bahkan membenarkan perilaku penyimpangan seksual tersebut,” kata Idris. (metro.sindonews.com 27/4/2019). Memang benar, bahkan pola pandang penyimpangan seksual ini sangat bertentangan dengan norma agama dan budaya Timur. Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok. MUI Depok menegaskan agar film itu tidak ditonton. Alasannya, film tersebut tidak sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang di masyarakat, khususnya dengan prinsip dan nilai-nilai agama Islam. Kedua, film itu sangat berpotensi untuk merusak generasi muda Islam di Kota Depok untuk perilaku seks bebas dan menyimpang. 
Disisi lain, Sutradara Garin Nugroho selaku pembuat film tersebut buka suara terkait hal tersebut. Menurutnya, petisi yang dibuat untuk menentang filmnya tersebut, seperti penghakiman sepihak masyarakat tanpa adanya ruang dialog.”Gejala ini menunjukkan media sosial telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan, melahirkan anarkisme. Bagi saya, anarkisme massa tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa,” demikian pernyataan tertulis Garin lewat akun Instagram-nya, @garin_fim, yang dikutip Kompas.com, Kamis (25/4/2019). Garin menambakan, petisi tersebut seolah-olah menurunkan daya kerja dan mengancam kebebasan untuk hidup bersama tanpa adanya diskriminasi dan kekerasan.
Dapat terlihat dari fakta yang terjadi, bahwa inilah potret sistem saat ini, sistem yang membuat kebebasan yang bablas sehingga melanggar rambu-rambu agama, norma, dan budaya Timur. Pemikiran Barat ini telah masuk tanpa disadari sehingga hal tersebut dikemas dengan rapi atas dasar kebebasan seni. Wajar saja, ketika ada yang mengatakan bahwa “Seni tidak memiliki batasan apapun, semua atas dasar seni”. Inilah yang menyuburkan kebebasan ala Barat merusak generasi termasuk melalui seni (perfilman) seperti film “Kucumbu Tubuh Indahku” tadi. 
Maka, kita sebagai seorang muslim, sepatutnya melihat sebuah fakta berdasarkan kacamata Islam. Adapun dalam sistem Islam, memandang bahwa keberadaan seni bukan sekedar hiburan, namun alat/sarana dakwah dan pendidikan untuk mencerdaskan umat/generasi dengan Islam. Maka, dengan adanya larangan penayangan film kontroversial ini adalah salah satu bentuk yang harus dilakukan penguasa atas dasar perlindungan penguasa terhadap generasi. 
Namun, selama kita masih berlandaskan sistem kapitalis-sekuler yang mendewakan kebebasan serta mencampakkan agama, maka karya yang akan dihasilkan tidak terlepas dari konten yang merusak generasi. Sehingga butuhnya suatu institusi agar masyarakat tetap bisa memproduksi dan menikmati karya seni yang bermanfaar dan tidak merusak moral generasi. Institusi ini akan mendorong setiap seniman untuk berkarya sesuai dengan Islam, yaitu dalam naungan Daulah Khilafah. Sejarah telah mencatat, dengan berpegang pada syariat, Kekhilafahan Islam telah melahirkan kekayaan seni bernilai tinggi yang diakui dunia. Wallahu’alam.[]

Penulis adalah mahasiswi Jurusan Pendidikan Matematika UNTIRTA

Comment

Rekomendasi Berita