by

Nur Fitriyah Asri: Ilusi Demokrasi Ibarat Mimpi

Nur Fitriyah Asri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Euforia demokrasi datang setiap lima tahun sekali, membius rakyat dan membisikkan mimpi-mimpi keadilan, kesejahteraan, kemakmuran, pemulihan harkat kemanusiaan serta mimpi-mimpi  kebaikan lainnya.
Namun layaknya obat bius, begitu  kesadarannya kembali, umatpun sadar bahwa sesungguhnya demokrasi bukanlah solusi. Demokrasi justru sistem yang merusak dan gagal mewujudkan janji-janji hakiki. Ibarat mimpi.
Demokrasi hanya sebuah ilusi (khalayan) yang tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan umat. Terbukti semakin hari problematika umat justru  meningkat. Tingginya angka kriminalitas, menurunnya atau dekadensi moral yang terus merosot, korupsi yang menggurita dan pergaulan bebas yang memprihatinkan, serta tingginya angka kemiskinan, dan lainnya. Semua itu merupakan bukti bahwa demokrasi yang diagung-agungkan selama ini tidak akan bisa menyejahterakan rakyat apalagi menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena sesungguhn demokrasi bukan berasal dari Islam, tetapi dari barat.
Demokrasi merupakan doktrin sekulerisme yaitu yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan bernegara. Artinya agama tidak boleh digunakan untuk mengatur negara. Agama hanya digunakan untuk mengatur masalah akidah dan ibadah saja.
Hal ini karena secara historis demokrasi berasal dari Yunani dimana pada abad ke 5 SM merupakan solusi jalan tengah terhadap penindasan atas nama agama yang melanda Eropa. Sejak saat itulah agama tidak boleh mengatur kehidupan bernegara. Dalam hal ini menafikan Allah Maha Pengatur. Manusia yang berhak dan berdaulat untuk membuat aturannya sendiri. Manusia sebagai pemegang kedaulatan menggantikan Allah.
Dengan jelas dan kasat mata bahwa demokrasi cacat sejak lahir seperti pernyataan Plato dan Aristoteles yang menjadi pelopor sistem demokrasi mengatakan ” Bahwa demokrasi dari lahirnya sudah cacat”. 
Anehnya umat Islam sendiri banyak yang terbius sehingga tidak menyadari kalau dibohongi oleh sistem demokrasi. Kebohongan ini bisa dilihat ketika menjelang dan usainya pesta demokrasi.
Sebelum pesta demokrasi apakah pilpres, pileg, pilkada, semua berebut mendekati dan memikat rakyat berharap meraup suaranya supaya mendukung dan memilihnya. Janji-janji manis ditebar sampai bagi-bagi sembako dan uang. Harapannya untuk meraih kekuasaan dan jabatan. Rakyat benar-benar dibius dan dibuat bodoh oleh sistem demokrasi. Setelah pesta demokrasi usai baru menyadari kalau suaranya tidak diperlukan lagi, rakyat akan ditinggal lagi.
Sistem demokrasi yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Katanya, kedaulatan ditangan rakyat. Bohong. Sesungguhnya merupakan sebuah kebohongan besar. Nyatanya setelah pemilu berakhir, kedaulatan  bukan ditangan rakyat tetapi berpindah di tangan penguasa (pemerintah) dan anggota dewan (legislatif). Di tangan merekalah hukum-hukum dan peraturan dibuat, berdasarkan akal manusia dan manfaat demi kepentingan pribadi dan golongannya. Mereka berbohong atas nama wakil rakyat. Mereka sengaja lupa tidak mewakili aspirasi rakyat dan tidak memihak rakyat.
Wajar karena mereka adalah karyawan partai yang terikat dengan janji-janji politik seperti, mahar, balas budi dan lainnya. Inilah yang  melahirkan korupsi dan kolusi. Dan semua kebijakan mengatasnamakan untuk kesejahteraan rakyat. Padahal 
sejatinya yang diuntungkan dirinya sendiri, kelompok dan golongannya serta pemilik modal yang terlibat dengan perjanjian yang dibuatnya. Inilah salah satu pintu masuk terbukanya imperalisme  penjajahan gaya baru adanya kongkalikong antara penguasa dengan pemilik modal dengan menggoreng undang-undang terjadilah jual beli untuk balas budi, untuk menumpuk kekayaan pribadi dan juga balik modal jual jabatan. 
Kerjasama serta  kebijakan untuk menggolkan undang-undang pesanan asing yaitu UU Migas, UU SDA, UU BHP, UU Minerba, UU Penanaman Modal dan lainnya. Kebijakan-kebijakan yang justru  menyengsarakan rakyat, memiskinkan rakyat dan sekaligus mengkhianati rakyat.
Dalam sistim demokrasi keputusan diambil dengan suara terbanyak. Ini sangat fatal dan berbahaya, karena hanya orang berduit saja yang bisa ikut  dalam kompetisi pemilihan penguasa dan anggota dewan. Siapapun bisa menjadi penguasa asalkan memperoleh suara terbanyak, semua cara akan dilakukan karena  dalam sistim demokrasi asasnya manfaat sehingga tidak mengenal haram dan halal. Penguasa dan anggota dewan yang terpilih padahal tidak beriman, tidak bermoral, tidak berakhlak, dan tidak amanah serta tidak takut kepada Allah.  Karenanya akan mendatangkan kerusakan, menyengsarakan rakyatnya serta penyebab hancurnya  sebuah peradaban.
Demokrasi benar-benar sebuah ilusi, sebuah sistem yang rusak dan menghasilkan banyak kerusakan karena pilar utamanya adalah paham kebebasan, yaitu:
1.  Kebebasan beragama yang melahirkan pluralisme yakni paham yang menganggap semua agama benar. 
2. Kebebasan bertingkah lak, menyuburkan dan melindungi LGBT karena ada jeratan HAM.
3. Kebebasan berpendapat, dengan dalih berlindung dibalik demokrasi (demokratis).
4. Kebebasan berkepemilikan, melahirkan ekonomi liberal yang menjadikan negara kita dijajah dan dijarah, penyebab kemiskinan.
Kembali mengutip pernyataan John Adams mengingatkan bahwa demokrasi akan segera menemui ajalnya, demokrasi tidak pernah berumur panjang. Bagi mereka yang berakal, tentunya meninggalkan demokrasi. Demokrasi harus diganti.
Islam Adalah Solusi Hakiki.
Islam adalah agama dan sekaligus sebuah ideologi. Islam berasal dari Allah Swt melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw untuk mengatur semua sendi kehidupan. Alquran dan As-Sunah sebagai sumber hukum dan pedoman hidup. Aqidah Islamiyyah sebagai asasnya mewajibkan penerapan syariah Islam secara menyeluruh kepada individu, keluarga, masyarakat dan negara.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al Baqarah: 208)
Di dalam Islam tidak dikenal paham kebebasan. Justru sebaliknya Islam mewajibkan keterikatan  manusia dengan syariat Islam.
Standar pengambilan pendapat tergantung materi yang dibahas (syura dalam Islam):
1. Jika materinya menyangkut status hukum syariah, standarnya adalah dalil syariah terkuat, bukan suara mayoritas.
2. Jika materinya menyangkut aspek-aspek teknis dari suatu aspek aktivitas, baru mengikuti suara mayoritas.
3. Jika materinya menyangkut aspek-aspek yang memerlukan keahlian, standarnya adalah pendapat yang paling tepat (pada ahlinya) bukan suara mayoritas.
Syariat Islam hanya bisa diterapkan secara sempurna dalam institusi khilafah. Yang sudah terbukti keagungannya bisa menyejahterakan  manusia dan rahmat bagi seluruh alam semesta selama 13 abad lamanya.
Allah berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS Al Maidah: 50). Wallahu ‘alam bish shawab.[]
Penulis aktif  di Ormas Islam BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim Jember) sebagai Koordinator Bidang Dakwah, member Akademi Menulis Kreatif (AMK) dan juga penulis buku ” Senja di Jalan Dakwah”

Comment

Rekomendasi Berita