by

Nuraisah Hasibuan S.S*: Dukungan Meluas, Kaum Sodom di Atas Angin

Nuraisah Hasibuan S.S
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Bulan Juni boleh jadi bulan yang sangat dinanti-nanti kaum Lesbian, gay, Bisexual, Transgender, Queer (LGBTQ).  Mereka menyebutnya sebagai “Pride Month” atau bulan kebanggaan. Dan tahun ini adalah peringatan 50 tahun Stonewall Riots. Dimana pada tahun 1969 di Stonewall, mereka pertama kali turun ke jalan untuk protes pada polisi Manhattan yang melarang kegiatan mereka.
Itu menjadi momen yang sangat bersejarah karena untuk pertama kali, mereka bisa muncul di televisi. Sejak itu, setiap tahun pada bulan Juni, LGBTQ merayakan eksistensi mereka dengan berbagai cara yang dapat menarik perhatian publik seperti parade, piknik, pesta, workshop, simposium, dan konser. Berawal dari dua komunitas LGBTQ di New York, dalam waktu singkat organisasi LGBTQ menjamur tidak hanya di Amerika namun ke seluruh dunia.
Isu-isu yang mereka gadang-gadang biasanya tentang cinta, persamaan hak, penghapusan diskriminasi, kebebasan berekspresi, pengakuan dari masyarakat, dan terakhir mereka mencoba masuk ke ranah hukum dengan meminta negara melegalkan pernikahan sesama jenis.
Dengan mengusung tema cinta, “love wins” dan “love is love”, kaum LGBTQ mampu menarik simpati banyak kalangan. Bahkan orang-orang yang bukan LGBTQ dengan senang hati memberi dukungan seolah terbius dengan tema CINTA ini.
Membawa isu diskriminasi juga merupakan cara yang sangat lihai untuk “playing victim”. Lihatlah seruan-seruan dalam poster yang mereka bawa saat parade. Kalimat-kalimat seperti, “Kami tidak minta dilahirkan gay”, “LGBTQ bukan tidakan kriminal”, “Hak asasi gay adalah hak asasi manusia”, “Jangan bawa-bawa agama untuk mensahkan kebencianmu pada cinta”, dan banyak lagi seruan-seruan yang mengesankan bahwa orang yang anti LGBTQ adalah orang yang diskriminatif terhadap kaum mereka yang minoritas.
Maka tak heran, yang tidak mau diklaim sebagai diskriminatif terhadap minoritas akan menjadi simpatisan LGBTQ. Bukan hanya dari personal, dukungan juga datang dari para selebriti dunia dan bahkan perusahaan-perusahaan ternama. 
Perusahaan-perusahaan besar dengan bangga mengeluarkan produk khusus bertema LGBTQ. Sebut saja Starbucks merilis tumbler minum bernuansa pelangi. Lain lagi perusahaan Converse,  mengeluarkan sepatu sneakers yang terinspirasi dari warna-warna transgender (biru muda, pink, dan putih). IKEA menunjukkan dukungannya dengan mengeluarkan tas belanja warna pelangi. Tak ketinggalan brand ternama Fossil juga mengeluarkan jam tangan dengan strap warna pelangi.
Bahkan yang mencengangkan, dukungan merambah pada perusahaan produk anak-anak seperti Disney dan Barbie. Tanpa ragu Disney merilis backpack anak, aksesoris lucu-lucu dan Mickey ears dengan nuansa warna pelangi. Sedangkan brand Barbie menampilkan boneka Barbie yang memakai kaos bertuliskan “love wins” yang tentunya berwarna pelangi.
Nantinya, sebahagian dari hasil penjualan produk-produk bertema pelangi tersebut akan didonasikan pada orgasisasi-organisasi LGBTQ. Saat ini paling tidak ada empat (4) organisasi besar LGBTQ yang aktif mendukung dan mendanai kegiatan-kegiatan LGBTQ di seluruh dunia, yakni Gay Lesbian and Straight Education Network (GLSEN). Ini merupakan grup advokat homoseksual terbesar di dunia. Kemudian donasi juga mengalir ke Gay Lesbian Alliance Against Defamation (GLAAD) sebagai organisasi besar yang didirikan LGBT media, serta pada dua organisasi LGBT lainnya The Trevor Project dan It Gets Better Fundation.
Saat ini, bak virus yang berkembang cepat, kaum nabi Luth ini ada di mana-mana dengan tampilan yang berkelas  bahkan lucu. Mereka mencoba masuk ke semua kalangan, dari dewasa hingga ke anak-anak yang polos, menggerogoti masyarakat yang sehat. 
Melihat betapa terorganisirnya gerakan LGBTQ ini dan betapa besarnya dukungan terhadap mereka, sudah sepatutnya orang-orang yang peduli generasi tanpa lelah mengedukasi masyarakat dengan membuat propaganda yang tidak kalah besar untuk meng-counter ide sesat mereka. Masyarakat harus tahu bahwa yang sebenarnya ada dibalik ide manis “love wins” adalah laknat Allah yang sungguh besar.
*Nuraisah Hasibuan S.S. (Pemerhati Sosial)
Domisili: Tangerang

Comment

Rekomendasi Berita