Pelaparan Sistematis di Gaza: Senjata Pemusnah Massal Baru Zionis Penjajah

Opini1317 Views

 

Penulis: Mariani Siregar, M.Pd.I | Dosen dan Pegiat Opini Islam

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– “All of Gaza, and every child in Gaza should starve to death!” — Ronen Shaulov, Rabbi Yahudi terkemuka di Israel (5PillarsUK, Ahad 03/08/2025).

Kalimat keji itu diucapkan secara terbuka di hadapan publik Israel. Ucapan tersebut membuka mata dunia bahwa genosida terhadap Gaza bukan lagi sekadar menargetkan Hamas, melainkan upaya sistematis untuk menguasai seluruh tanah Palestina. Genosida adalah pembunuhan massal yang direncanakan — dan kini, kelaparan menjadi senjata barunya.

Laporan berbagai media internasional menggambarkan kondisi pengungsi Gaza yang kian mengerikan (horrific). Menurut data Kementerian Kesehatan Otoritas Palestina yang dilansir 5PillarsUK (3 Agustus 2025), sedikitnya 162 orang meninggal akibat kelaparan, 92 di antaranya anak-anak.

Lebih dari 2 juta pengungsi kini terjebak di kamp-kamp Jalur Gaza tanpa makanan, air bersih, dan obat-obatan. Setiap jam, korban jiwa terus berjatuhan. Zionis penjajah mengklaim blokade dilakukan untuk mencegah “penyalahgunaan bantuan” oleh Hamas. Padahal, blokade ini adalah bentuk pelaparan — kondisi yang sengaja diciptakan agar korban tewas perlahan.

Bantuan kemanusiaan yang masuk tertahan di perbatasan Mesir dan Yordania. Sebagian yang berhasil masuk justru dirampas Israel, lalu dibagikan sebagai jebakan maut. Dari sisi biaya, pelaparan lebih murah dibandingkan operasi militer, apalagi AS dan Israel sudah menguras dana besar untuk perang.

TRT World melaporkan, Tony Aguilar — pensiunan perwira AU yang kini di Humanitarian Foundation — menyaksikan tentara Israel menembaki pengungsi yang mendekati pusat bantuan. Ada pula yang tewas saat memanggul karung tepung. Foto dan video penembakan ini kini beredar luas: warga Gaza harus mempertaruhkan nyawa demi sekarung tepung, sementara tentara mengaku menembak atas perintah atasan.

Dr. Gabor Maté, pakar trauma dan penyintas Holocaust asal Yahudi, menilai kondisi Gaza mirip dengan tragedi genosida Nazi di Warsawa. Kala itu, warga Yahudi diblokade, diusir, dan dibuat kelaparan parah. Mereka dijebak masuk ke “kereta maut” dengan umpan roti.

Ironis, kini tentara Zionis memperlakukan warga Gaza dengan pola yang sama. Bagi Gabor, sulit dipercaya PBB membiarkan tragedi ini terjadi.

Sejarah mencatat, warga Zionis di Palestina mayoritas keturunan Yahudi Eropa yang terusir dari Jerman. Tokohnya, Theodor Herzl, merancang perebutan tanah Palestina atas nama agama. Dukungan penuh Eropa dan AS memastikan mereka tidak kembali ke Eropa, melainkan mendirikan negara Israel Raya.

Amerika menggunakan pendudukan Palestina sebagai alat kendali politik di Timur Tengah. Dengan Palestina sebagai “sandera geopolitik”, penguasa Arab enggan menentang AS dan Israel.

Baru-baru ini, CNBC Indonesia memberitakan pertemuan negara-negara Arab, Eropa, dan AS di New York. Mereka mendesak Hamas menyerahkan Gaza kepada Otoritas Palestina (OP) dan mengembalikan sandera Israel. Bahkan, untuk pertama kalinya, pemimpin Arab secara terbuka menyalahkan Hamas atas serangan 7 Oktober 2023 — sikap yang selaras dengan narasi AS.

Padahal, pendudukan Israel sudah berlangsung sejak 1948. Otoritas Palestina sendiri tidak memperjuangkan Gaza, apalagi melawan Israel di Tepi Barat atau Yerusalem. Menyerahkan Gaza kepada OP sama saja mempermudah Israel dan AS mencaploknya, bahkan mengubahnya menjadi “destinasi wisata”, seperti pernah digembar-gemborkan Donald Trump.

Skema two-state solution hanyalah jebakan diplomatik. AS dan Barat memaksakan pengakuan dua negara, padahal PM Israel Benjamin Netanyahu terang-terangan menolak. Israel menginginkan seluruh Palestina, sementara AS memanfaatkan Israel untuk mengamankan kepentingannya di kawasan.

Hakikatnya, solusi bagi Palestina bukanlah pengakuan de jure, tetapi pembebasan penuh dari penjajahan Zionis. PBB dan ICC terbukti tak berdaya, HAM Barat hanyalah jargon kosong bila korbannya umat Islam.

Satu-satunya jalan adalah mengusir Israel dari seluruh Palestina. Negara-negara terdekat seperti Mesir dan Yordania memiliki kekuatan militer cukup untuk mengirim pasukan ke Gaza. Negeri Muslim lain seperti Turki, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, dan Indonesia seharusnya menyusul.

Namun, fakta pahitnya, para pemimpin Muslim memilih tunduk dan menjadi pengkhianat daripada menjawab seruan jihad. Pengiriman pasukan hanya mungkin dilakukan jika umat kembali kepada institusi politik Islam dunia  — yang dipimpin khalifah yang berani memobilisasi kekuatan demi membebaskan tanah Palestina.

Sejarah membuktikan, Palestina dibebaskan oleh Umar bin Khattab, Salahuddin al-Ayubi, dan dipertahankan hingga masa Sultan Abdul Hamid II. Kini, tanpa jihad dan kepemimpinan dan kekuatan islam dunia, tak ada pembebasan sejati bagi Palestina. Allahu a’lam bish-shawab.[]

Comment