by

Perjuangan Ulama di Nusantara 2. Oleh : Habib Rizieq Syihab

dok.radarindonesianews.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di zaman penjajahan Belanda dan Jepang, di setiap provinsi para ulama siang hari mengajarkan ilmu dan adab. Di malam hari para ulama mengajak santri menanggul senjata untuk menyerang pos-pos keamanan penjajah. Di Tasikmalaya, ada satu pesantren yang dipimpin oleh KH Zainal Musthafa melawan tentara Jepang sampai mereka semua dibunuh dan pondok pesantrennya dibakar serta istri dan putri-putrinya disembelih. Maka jangan pernah menghapus jejak para ulama karena merekalah yang telah mempertahankan republik ini.
Ketika tentara Jepang berkeinginan untuk kembali ke Indonesia, Nahdatul Ulama mengeluarkan risalah Jihad pada tanggal 22 Oktober yang kemudian disambut oleh Bung Tomo dan terjadilah Peristiwa 10 November. Para ulama dan santri turun ke Surabaya untuk mengusir penjajah. Tidak sampai di situ, pada tahun 1965 ketika PKI meronrong republik ini, membakar pondok pesantren, menyembelih ulama dan tentara dan dimasukkan ke lubang buaya, maka semua umat Islam berbondong-bondong turun ke jalan untuk perang melawan PKI di mana saja berada.
Disinilah letak lupanya para petinggi negeri ini, ketika sudah merdeka mereka malah mengkriminalisasi ulama. Inilah kesalahan yang sangat fatal karena NKRI itu sendiri lahir atas jasa seorang ulama Masyumi ketika Indonesia masih berbentuk RIS. Para ulama itu bersama-sama berjuang di Konstituante/Parlemen untuk mengubah republik ini menjadi NKRI. Akhirnya M Natsir mengajukan mosi integral kepada Soekarno dan seluruh anggota parlemen. Mulai pada saat itu, RIS (Republik Indonesia Serikat) dibubarkan dan diganti menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Ketika perjuangan melawan penjajah, TNI dan Polri belum dikenal. Yang ada pada saat itu adalah laskar-laskar Islam yang dipimpin oleh para ulama. Laskar-laskar Muhammadiyah, NU, dan laskar Islam lainnya bergabung menjadi Laskar Hisbullah. Dari laskar Hisbullah inilah lahir TKR (Tentara Keamanan Rakyat) lalu berubah lagi menjadi TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan sekarang berubah menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia). Yang pertama kali mendirikan TNI adalah seorang ustadz dari Madrasah Ibtidaiyyah di Yogyakarta yaitu Jenderal Soedirman. Logikanya, ustadz ibtidaiyyah saja bisa membentuk tentara apalagi ulama.
Kesimpulannya, untuk mengobati penyakit-penyakit negeri saat ini tentara dan ulama harus berangkulan menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 45, melawan kebangkitan PKI, dan mengahancurkan siapa saja yang ingin menghancurkan Bangsa Indonesia.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × four =

Rekomendasi Berita