by

Ratna Harumiasari, S.Pd: Esport Itu Bagian Dari Budaya Hedonis

Ratna Harumiasari, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kata esports mungkin masih asing di telinga sebagian orang. Namun juga hal yang familiar bagi beberapa orang, penggemar video game khususnya. Beberapa orang mendefinisikan kata esports yang sama bentuknya dengan kata email. Email yakni electronic mail dan esports yakni electronic sports. Mereka menjawab bahwa esports adalah olahraga yang dilakukan melalui media elektronik seperti handphone, komputer, dan sebagainya. Esports adalah permainan video game, meskipun berangkat dari dunia gaming ternyata, keduanya tidak bisa disamakan. Esports sendiri adalah olahraga yang menggunakan game sebagai bidang kompetitif utama yang dimainkan oleh profesional.
“Main game itu rekreasi, esports itu profesi. Ini satu perbedaan. Esports itu sebenarnya game yang dipakai buat profesi, kerjanya itu game, istirahatnya itu tidak main game,” jelas pengamat gaming dan esports, Dedy Irvan dalam agenda workshop karir yang diselenggarakan Intel di Universitas Negeri Yogyakarta, Kamis (24/5/2018).
Beberapa waktu lalu, esports sama sekali tidak dikenal. Akan tetapi, sekarang ini fenomena esports terus berkembang dan mulai memancing perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari gamers, media, hingga perusahaan-perusahaan besar yang sama sekali tidak bergerak di bidang esports. Ambisi di industri gaming berdasarkan pada trend game, khususnya mobile, yang sedang menjadi perhatian besar sejumlah masyarakat. Industri game memiliki tingkat pendapatan yang paling tinggi dibandingkan jenis hiburan lainnya. “Gaming itu pendapatannya bisa tujuh kali lipat dari pendapatan sebuah film,” terang Jody Hernady selaku EVP Digital & Next Business Telkom pada acara Telkom DigiSummit di Jakarta (11/4)
Menpora Imam Nahrawi menilai Esport layak masuk ke dalam kurikulum sekolah. “Harus ada rekomendasi dari kepala sekolah karena ini sebuah prospek, memberi harapan masa depan, baik itu dalam konteks industri olahraga, maupun prestasi olahraga,” kata Nahrawi di Aula Kemenpora, Jakarta Selatan pada Selasa (29/1/2019). 
Akan tetapi, usulan Menpora Imam Nahrawi soal memasukkan eSport ke dalam kurikulum sekolah tersebut dikritik oleh pengamat pendidikan dari Universitas Multimedia Nusantara, Doni Koesoema. “Game online sebagus apa pun merupakan permainan yang menjauhkan anak-anak dari dunia nyata dan interaksi sosial, Selain itu, kata Doni, game online hanya mengoptimalkan olah pikrian dan keterampilan tangan.” ujar Doni. (tirto.id20/01/2019) 
Dilansir dari kumparan.com MUI bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pakar psikologi, asosiasi eSports Indonesia (IESPA), dan Kantor Staf Presiden Republik Indonesia membahas dampak positif dan negatif pada game yang mengandung unsur kekerasan. Dari hasil pertemuan tersebut, MUI memberi rekomendasi yang di antaranya, mengkaji pembatasan game lebih lanjut dan mendorong sisi positifnya melalui saluran eSports. Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam menjelaskan, MUI memiliki hak memberikan pandangan akan suatu hal, termasuk game. Menurutnya, game adalah budaya yang bisa menimbulkan manfaat dan mudharat(rugi) untuk umat. “Mengapa MUI mengurus game? 
Kami jelaskan bahwa kita juga membantu memberikan pandangan soal maslahat (kebaikan) dan mudharat yang kita dapat dari game.”Pada tahun 2017, MUI pernah mengeluarkan fatwa haram terhadap game offline yang terdapat unsur konten simulasi perjudian. “Haram karena memberikan hadiah untuk keuntungan semata mengarah ke perjudian yang dikarang oleh ajaran agama Islam,” pungkas Asrorun. (26/03/2019)
Kecanduan game juga memicu tindakan kriminal. Pernah dilaporkan ada kasus tujuh remaja yang mencuri uang, rokok, dan tabung gas di tokountuk membayar sewa alat game online dan dua remaja merampok penjual nasi goreng untuk mendapatkan uang yang dipakai main game online. Hasil penelitian prevalensi kecanduan game dengan mengambil sampel di sekolah-sekolah di Manado, Medan, Pontianak, dan Yogyakarta pada 2012. Kami menemukan bahwa ada 45,3% dari 3.264 siswa sekolah yang bermain game online selama sebulan terakhir dan tidak berniat untuk berhenti.(theconversation.com 4/07/2019)
Karena itu, dapat dipahami bahwa Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO) memasukkan kecanduan game ke dalam daftar penyakit dalam laporan International Classification of Diseases edisi 11 (ICD-11). Dengan demikian, kecanduan game resmi masuk sebagai gangguan kesehatan jiwa pada 18 Juni 2018
Akar Permasalahan
Ibarat dokter yang sedang mendiagnosis pasiennya agar obat yang nantinya diberikan tepat, maka kita pun perlu ‘mendiagnosis sakit’ yang diderita para generasi. Permasalahan yang membelenggu generasi kita tak luput dari tiga faktor, yakni orang tua, masyarakat, dan negara.
Orang tua berperan sebagai rujukan pertama dan utama bagi anak anaknya. Orang tualah yang dituntut untuk menanamkan pendidikan keimanan, membangun ketaatan pada agama (hukum Allah), serta memberikan teladan kebaikan pada anak anaknya.
Masyarakat sebagai salah satu sekolah besar bagi generasi berperan melakukan kontrol sosial untuk mencegah berbagai tindakan yang menyalahi norma dan agama. Tapi saat ini, masyarakat cenderung abai terhadap kondisi dan masalah yang terjadi suara dari masyarakat kurang, bahkan tidak terdengar.
Adapun negara adalah pihak yang berperan besar melindungi generasi, berwenang menerapkan berbagai kebijakan mulai dari politik, ekonomi, sosial, pendikan, dan sebagainya. Saat ini negara kita tengah menerapkan sistem pendidikan sekular-materialistik. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan ‘agama’ di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. 
Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.
Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan Tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik.
Dalam tatanan budaya yang hedonistik, budaya telah berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani. Dalam hal ini, Barat telah menjadi kiblat ke arah mana “kemajuan” budaya harus diraih. Ke sanalah dalam musik, mode, makanan, film bahkan gaya hidup ala Barat, orang mengacu. Buah lainnya dari kehidupan yang materialistik-sekuleristik adalah makin menggejalanya kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik. 
Tatanan bermasyarakat yang ada memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pemenuhan hak dan kepentingan setiap individu. Kebebasan individu harus ditegakkan karena menurutnya itu adalah hak, tidak peduli kendati itu harus melanggar tuntunan agama. Kehidupan yang sekularistik nyata-nyata telah menjauhkan manusia dari hakikat visi dan misi penciptaannya.
Inilah akar persoalan yang selama ini membelit generasi. Bukan hanya soal kurikulum semata, bukan pula karena biaya saja, tapi kehidupan serba bebas buah dari demokrasi yang berasaskan sekuler. Kebebasan yang tanpa memandang agama tersebut menciptakan gaya hidup pemuda yang bablas. Besarnya potensi generasi yang mampu mengguncang dunia kini telah ‘mati’ karena demokrasi yang menjauhkan generasi dari Ilahi.
Jika ingin menyelamatkan generasi, maka butuh solusi fundamental untuk menuntaskan problematika hingga akarnya, yakni mengganti sistem sekuler-demokrasi yang menjauhkan manusia dari agama dengan sistem yang membuat manusia senantiasa tunduk pada agama. Sistem itu adalah sistem Islam, yang diterapkan melalui khilafah Islamiyyah.[]
Penulis adalah  Guru SLB Raisya Puri dan member Revowriter

Comment

Rekomendasi Berita