by

Rina Tresna Sari, S.Pdi: Kejahatan Anak, Tanggung Jawab Siapa?

Rina Tresna Sari, S.Pdi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Miris,angka kriminalitas yang melibatkan anak-anak di berbagai daerah melonjak tajam. Dilansir oleh SindoNews.com jakarta- Sebanyak 122 anak diamankan Polrestro Jakarta Barat selama satu tahun terakhir. Ratusan anak-anak ini harus berurusan dengan kepolisian karena terlibat dalam serangkaian kejahatan mulai dari pencurian, tawuran, hingga pembunuhan. 
Kapolrestro Jakarta Barat, Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan, banyak anak-anak yang terlibat kasus kejahatan masih tercatat sebagai pelajar.”Anak-anak ini terlibat dalam serangkaian kejahatan. Karena kita perlu bantuan semua pihak untuk menekan permasalahan ini,” kata Hengki saat bersilaturahmi dengan ratusan kepala sekolah di Kantor Wali Kota Jakarta Barat pada Kamis (14/3/2019).
Dari fakta yang terjadi,tampak tidak hanya kuantitas kejahatan yang semakin meningkat, tetapi jenis kejahatannya pun semakin tinggi,yang menyedihkan lagi,kejahatan dilakukan dalam usia belia.
Bila kita analisis munculnya kasus kriminal yang melibatkan anak, paling dominan karena pengaruh globalisasi dan komersialisasi. Di mana anak-anak zaman sekarang mudah terpengaruh oleh gaya hidup dan dampak negatif dari kedua hal tersebut. Di samping kerusakan moral dan juga kemiskinan, yang merupakan akibat dari sistem kapitalis liberalis dan sekulerisme yang dianut Indonesia,dimana dalam sistem tersebut terjadi pemisahan agama dari kehidupan yang telah mencabut nilai-nilai moral juga menancapka  penanaman kebebasan berperilaku.
Norma-norma agama semakin terpinggirkan, padahal sebagaimana yang kita ketahui kekuatan ruhiyah yang lahir dari pemahaman agama adalah satu-satunya motor penggerak penerapan moral. Memberikan pendidikan moral tanpa membangkitkan kekuatan ruhiyah sama saja seperti kita mendorong mobil yang rusak,lelah tanpa hasil. 
Dengan mencermati akar permasalahannya kita dapat menyatakan bahwa seluruh kejahatan anak-anak adalah akibat kesalahan sistem yang di terapkan, sistem kapitalis sekuler ini yang sebenarnya menjadi pihak yang seharusnya berkewajiban terhadap anak mengabaikan tanggung jawabnya, akhirnya anak yang akan menjadi korban. 
Berbeda dengan sistem sekuler kapitalis, Islam yang menjadikan akidah la illaha illah,Muhammad Rasulullah sebagai asas dan syariah Islam sebagai pijakannya, memiliki aturan yang sangat rinci dan sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan. Dengan sistem aturan yang lahir dari Zat yang Mahasempurna dan Mahatau atas ciptaanNya, seluruh persoalan hidup yang dihadapi manusia dalam kondisi apapun dapat diselesaikan dengan memuaskan tanpa ada pihak yang dirugikan, pasalnya aturan tersebut sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal. Karenanya dapat dipastikan dengan memerapkan aturan Allah,manusia akan mendapatkan kebahagiaan dan terhindar dari malapetaka. 
Islam menetapkan keselamatan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarganya saja, masyarakat dan negara pun memiliki andil yang besar untuk mewujudkan anak-anak berkualitas. Islam memberikan kewajiban pengasuhan anak kepada ibu,serta pendidikannya kepada ayah-ibunya, tetapi hal ini belumlah cukup, pembentukan lingkungan yang kondusif di tengah-tengah masyarakat menjadi hal juga penting bagi keberlangsungan kehidupan anak. 
Hal ini menjadi tidak lepas dari peran masyarakat dan negara, lingkungan masyarakat yang baik tentu akan menentukan corak anak untuk kehidupan selanjutnya. Islam juga mewajibkan negara untuk menjamin anak memperoleh pendidikan berkualitas dengan mudah. Islam pun mewajibkan negara untuk menjamin kehidupan yang bersih dari berbagai kemungkinan berbuat dosa. 
Negara wajib menjaga agama dan morak serta menghilangkan setiap hal yang dapat merusaknya seperti peredaran minuman keras, narkoba, pornografi, dan sebagainya. Dalam pandangan Islam,negara adalah satu-satunya institusi yang dapat melindungi anak dan mengatasi persoalan kejahatan anak secara sempurna. 
Karenanya kejahatan pada anak dapat teratasi jiga keluarga, masyarakat dan negara mengambil penuh perannya masing masing. Wallahu a’lam bishowab.[]

Penulis adalah praktisi pendidikan dan anggota AMK, Bandung

Comment

Rekomendasi Berita